Tampilkan postingan dengan label refleksi muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi muslim. Tampilkan semua postingan

10 November 2013

nikmatnya bekerja

Disampaikan oleh Moh In’ami, Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah STAIN kudus, Jawa Tengah

Bekerja adalah fitrah manusia, jika terdapat orang yang enggan dan malas bekerja sesungguhnya hal itu melawan fitrahnya sendiri. Maka manifestasi potensi yang Allah berikan pada diri manusia menjadi modal yang luar biasa untuk dioptimalkan, dikembangkan dan difungsikan sebagaimana mestinya sesuai rambu-rambu yang ditetapkan Allah sebagai sesuatu yang asasi.

Mulailah berpikir bahwa bekerja itu perintah. Kesadaran untuk melaksanakan perintah menantarkan diri seseorang menuju perbuatan dengan motivasi yang tinggi dan berharap ridha ilahi. Dengan bekerja orang menjadi mulia. Dengan bekerja orang dapat mengaktualisasikan diri dan menunjukkan bahwa dirinya ada. Sebagai bukti bahwa dia hadir ditengah-tengah keluarganya dan wujud manfaat bagi diri dan sesama (QS.at-Taubah:105).

Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda: “Tiada seorangpun memakan makanan yang lebih baik daripada memakan yang diperoleh dari hasil keringatnya sendiri. Sesungguhnya nabiyullah Daud as pun memakan dari hasl karyanya sendiri.” (HR.Bukhari)

Yang perlu diwaspadai adalah apabila bekerja hanya mencari keuntungan semata, niscaya akan merugi. Bekerja yang diperintahkan itu bukan sekedar memilki muatan pemenuhyan suatu kebutuhan yang brsifat materialis, namun lebih dari itu, muatan ibadah dan orientasi ukhrowi menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Apapun bentuk pekerjaan, sepanjang halal dan baik, tidak perlu menjadikan orang minder atau berkecil hati. Meski orang sering melihat kemampuan modalitas dan kekuaan finansial. Sementara kita perlu memahami bahwa setiap kerja hendaknya menjadi amal, sehingga starting point penting dalam bekerja adalah membangun niat tulus dan motivasi positif.

Banyak orang bekerja tetapi belum tentu ia beramal. Sebaliknya banyak orang beramal dan tentu saja mereka bekerja. Orang yang beramal mampu mewujudkan kerja dalam peraktik amal shaleh, sikap dan perilaku yang mendatangkan manfaat, atau bahkan mampu memberikan profit yang diharapkan.

Hampir bisa dipastikan jika ada sebab tentu ada akibat. Orang sering bekerja keras dan berharap dengan bekerja keras itu akan mendapatan hasil yang lebih dan keuntungan yang banyak. Jika pandangan kita selama ini dalam bekerja hanya soal keuntungan. Meraih profit dan pendapatan yang lebih dari biasanya , hal ini berarti ada sesuatu yang tidak pernah kita soroti sebagai yang penting dalam bekerja, sesuatu yang hakiki yang sering ditinggalkan-manifestasi kerja, esensinya adalah amal.

Jika orang bekerja masih membutuhkan pengakuan dari pihak lain bahwa ia telah bekerja, maka bekerjalah tanpa berharap apapun. Ingatlah konsep ikhlas beramal. Dalam konteks kerja formal, berbuatlah sesuai tugas pokok dan fungsi. Dalam ranah sosial keagamaan, bekerjalah dengan orang yang anda ajak untuk berbakti, mengabdi dan mengamalkan kemampuan ilmu dalam kehidupan beragama di masyarakat.

Dalam budaya organisasi, berbuatlah untuk kesejahteraan dan kemaslahatan banyak orang yang menjadi tanggung jawab dan kendali anda, tanpa meninggalkan rasa keadilan dan kejernihan dalam berpikir dan bertindak, tidak mudah percaya oleh ucapan buruk dari suatu sumber sebelum mengeek dan mengkonfirmasi data lainnya yang bisa dipercaya.

Mewujudkan tauhid dalam bekerja merupakan sebuah tantangan dalam kerja atau amal, bahwa bukan hanya kerja saja yang dilakukan. Orang yang bekerja hendaknya menikmati statusnya sebagai pekerja.

Status pekerja adalah penghargaan yang luar biasa. Apalagi pekerjaan atau amal itu datangnya dari Allah. Kesadaran manusia dengan pangkat menjadi pekerja itulah yang mampu mangangkat derajatnya menjadi mulia. Inilah yang disebut bertauhid. Bila manusia mengingkari statusnya dan tidak mau bekerja berarti ia telah menghinakan dirinya.

Untuk itulah kita bekerja dan berbuat. Sungguh nikmat dalam bekerja, apalagi tidak hanya reward dunia yang kita terima tetapi akhirat juga kita raih. Ada kata-kata hikmah: “berbuatlah sekehendakmu, maka kamu akan mendapatkan balasannya (yang setimpal).” Masihkah kita menunda untuk berbuat sesuatu demi kebaikan dan masa depan kita?

oleh M. S. A

03 November 2013

islam agama akal




14 abad yang lalu, Muhammad bin Abdullah diangkat oleh Allah menjadi Rasul. Mengemban misi risalah menegakan kalimat tauhid di muka bumi, mengawal turun dan terlaksananya Al-Qur’an sebagai wujud daulah Allah di muka bumi. Muhammad merupakan bagian dari Kaum Quraisy, yaitu bani Hasyim. Merupakan hal yang alami jika manusia membentuk golongan, didasarkan pada ras, daerah, genetik, keluarga, dan kesamaan lainnya, sebagaimana yang terjadi di zaman nabi Muhammad. Manusia terbagi menjadi beberapa kabilah/kelompok. 

Tiap kelompok fanatik dan bangga akan kelompoknya masing-masing. Dengan nilai moral, norma dan kepentingan yang dimiliki, tiap kabilah saling memperjuangkan kepentinganya, hingga tidak jarang terjadi benturan kepentingan yang menghasilkan permusuhan dan peperangan. Dalam Q.S. 3 : 103, Allah merekam jejak perjuangan Rasul yang berhasil menyatukan umat manusia. Manusia yang terbagi dalam berbagai kelompok dan tiap kelompok saling memperjuangkan kepentinganya masing-masing disatukan oleh ikatan Tauhid. Rasul atas bimbingan Allah menyelamatkan mereka yang tadinya berada di jurang “neraka”, menuju jalan keselamatan. Dengan ikatan Tauhid, Rasul membangun peradaban madani sebagai wujud daulah Allah di muka bumi, dan bukti surga dunia yang Allah janjikan.

Kini masa itu telah berlalu, Bangunan kesatuan umat yang dahulu Rasul tegakkan, kini hancur berantakan. Umat islam kembali menjadi berbagai macam golongan, ada NU, Muhammadiyah, Ikhwanul Muslimin, Hisbut Tahrir, FPI, syiah, murdji’ah, mu’tadzilah,dan banyak lainya.tiap golongan bangga dan fanatik atas golonganya. Tak jarang mereka saling berdebat dalam menjalankan Al-Qur’an, namun tak pernah mencapai kesepakatan, tiap golongan mempertahankan pendapat dan kepentinganya masing masing. Maka dimanakah kesatuan kepemimpinan umat Islam masa kini? Apakah mereka tak sadar urgensi kesatuan islam dalam menghadapi tantangan kebiadaban dunia? Kenapa mereka begitu kokoh dalam mempertahankan argumen dan kepentingan masing-masing? Apa sebenarnya yang menjadikan manusia terbagi menjadi beberapa golongan?

Dahulu manusia pertama yang Allah ciptakan, Adam a.s. dipersatukan oleh Allah dengan Tauhid. Kemudian beberapa masa berlalu hingga terjadi perpecahan umat dan penyimpangan. Kemudian, umat manusia kembali disatukan dalam Ikatan tauhid pada masa Nuh a.s., orang-orang yang membangkang Allah azab dengan air bah yang tak terhenti. Namun sepeninggalnya, manusia kembali terpecah dan menyimpang menjadi banyak golongan dan menaati dzan serta kepentingan masing – masing. Kemudian Allah mengutus Ibrahim a.s. dan kembali menyatukan umat manusia dalam ikatan tauhid. 30 abad berlalu sepeninggal Ibrahim, perpecahan dan penyimpangan kembali menyeruak. Hingga Allah mengutus Rasulullah Muhammad dan menyatukan mereka kembali dalam ikatan Tauhid. Hal ini terus terjadi membentuk sebuah siklus bak rangkaian sejarah yang berulang. Sekaranglah masanya 14 abad sepeninggal Rasulullah Muhammad, umat islam kembali terpecah dan menjadi beberapa golongan. Dan perlu diketahui, bahwa trend golongan merupakan prototype masyarakat musyrikin (Q.S. 30/31-32)

Jika kita kembali kepada Al-Qur’an, Allah menjawab dalam Q.S. Al-Baqarah (2) : 170 ketika manusia diajak untuk bersatu dalam Ketauhidan kepada Allah, maka orang orang tersebut menolaknya, mereka memilih untuk mengikuti apa yang telah mereka dapati dari nenek moyang, orang tua, guru, ustad mereka. Bahayanya modern ini, guru yang satu dan guru yang lainya memberikan ilmu pengetahuan yang berbeda, bahkan tidak jarang saling bertentangan dan bertolak belakang. Hal inilah yang menjadikan islam menjadi berkelompok, disesuaikan dengan apa yang diajarkan oleh guru mereka masing – masing. Perbedaan pandangan tersebut membuat tiap kelompok saling bertentangan, dan tiap kelompok bangga akan apa yang ada dalam kelompok mereka, tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya umat islam bangga akan kelompok mereka, bukan bangga akan keislaman dan ketundukan mereka kepada Allah, ketaatan dalam menjalankan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika kita kritis dan kembali kepada perjalanan perjuangan panjang (Sunnah) Rasul dahulu, bahwa islam merupakan pemersatu manusia dalam ketauhidan dimana sebelumnya manusia terbagi atas golongan-golongan, maka kita akan tersadar, bahwa kita telah keluar dari keislaman itu sendiri. Dan di akhir ayat, Allah pun menjawab dengan tegas, bahwa guru mereka yang telah menjadikan mereka beberapa golongan itu, tidak mengetahui akan kandungan islam yang sebenarnya, mereka berada dalam kemusyrikan dan mereka tidak sedikitpun dalam bimbingan Allah swt. Merekalah yang menurut Imam Al-Ghazali Ulama Assuu’ (Ulama yang membawa pada kesesatan).

Apa yang terjadi di masa kini telah diperkirakan oleh Rasul dalam sabdanya yang mengatakan bahwa sepeninggal Rasul nanti, Islam akan terbagi menjadi 73 golongan. Dari 73 golongan itu, hanya 1 yang diterima oleh Allah, dan sisanya berada dalam kesesatan. Seharusnya hadits ini menjadi shock therapy bagi umat Islam sekarang, Rasul memang memperkirakan bahwa sepeninggalnya Islam akan terbagi menjadi beberapa golongan, namun jangan terbuai dengan golongan tersebut, karena diakhirnya terdapat sebuah pernyataan tegas, bahwa hanya 1 golonganlah yang akan diterima oleh Allah. Dan golongan lainya dalam Q.S. Ar-ruum (30) : 31-32 Allah tetapkan mereka kedalam golongan orang orang musyrik. Tidakkah manusia takut tidak termasuk kedalam golongan yang diterima Allah dan tidak terhindar dari kemusyrikan? Golongan manakah yang akan diterima oleh Allah?

Di dalam Q.S. An-Najm (53) : 23, Allah menegaskan bahwa, seperangkat ilmu yang diajarkan oleh nenek moyang, orang tua, guru, ustad, dan tenaga pendidik lainnya (Q.S. 2:170) hanyalah apa yang mereka ada adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan apapun untuk menaati, mengikuti, terlebih loyal kepadanya (menyembah). Mereka hanya mengikuti dugaan, keinginan dan kepentingan mereka. Padahal sungguh, telah datang pentunjuk dari Allah yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam Q.S. Al-An’am (6) : 153, Allah menjawab, inilah jalan-Ku yang lurus (memperjuangkan Tauhid melalui kepemimpinan Nubuwwah), maka ikutilah! Jangan mengikuti jalan-jalan thagut, jalan jalan syaitan (Q.S. 2:208), yang akan membuatmu tercerai berai/terpecah belah dari kepemimpinan Nubuwwah. Hanya didalam jalan-Nyalah (kepemimpinan Nubuwah, melanjutkan estafet kepemimpinan Tauhid para nabi) manusia akan menjadi manusia yang bertaqwa. Dalam haditsnya, Rasul pun memberikan jawaban atas pertanyaan diatas, yaitu hadits yang menyebutkan bahwa, sepeninggalnya, Rasul mewariskan kepada umat manusia 2 perkara, dimana jika manusia berpegang teguh kepada 2 perkara tersebut, maka mereka akan berada pada keselamatan di dunia maupun akhirat. Disinilah jawabanya, golongan yang amal ibadah dan perjuangan menegakan kalimat tauhidnya diterima oleh Allah hanyalah golongan yang berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah. Yaitu “Menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya pedoman dan sistem kehidupan, serta menjadikan As-Sunnah (Perjalanan panjang perjuangan Rasul dalam merekonstruksi bangunan Al-Qur’an, menegakan kalimat tauhid) sebagai satu satunya yang berhak menafsirkan Al-Qur’an agar dapat teraplikasikan”. Al-Qur’an merupakan wahyu terlengkap dan terakhir sebagai ilmu Allah dalam membimbing dan menyelamatkan manusia, sementara kehidupan rasulullah, yaitu perjuangan panjangnya dalam membangun tauhid di muka bumi (Sunnah Rasul) merupakan pernafsiran Al-Qur’an yang paling baik dan sempurna, serta ilmu dalam menafsirkan ilmu Allah (Al-Qur’an), sehingga kehidupanya menjadi keteladanan dan bimbingan spiritual yang sejati bagi manusia. (Sunnah Rasul merupakan tafsir otoritatif dan Aplikatif Al-Qur’an). # Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dalam bukunya Islam dan Sekularisme, hal 179-180, Cetakan  Bahasa Indonesia ke 2, Tahun 2011.

Dalam Q.S. Al-Israa (17) : 36, Allah berfirman kepada manusia, untuk tidak mengikuti, tidak menaati, apa yang tidak diketahuinya. Karena penglihatan dan pendengaran yang merupakan potensi yang Allah berikan kepada manusia untuk mengolah informasi jagad raya dalam mencari kebenaran, kemudian hati dengan kesadaranya untuk meyakini kebenaran sebagai hasil proses kekritisan akal dalam mencari kebenaran tersebut, semua itu akan dimintai pertanggung jawaban. Kemudian di dalam Q.S. Luqman (31) : 15 Allah mengkaitkan ketidak berilmuan tersebut dengan kesyirikan. Alasan mengapa didalam Q.S. 17 : 36 Allah melarang keras manusia mengikuti, mengerjakan, mentaati dan tunduk terhadap apa yang tidak diketahuinya ialah karena begitu besarnya potensi untuk mempersekutukan Allah, yang mungkin tidak disadari oleh para pendidik, baik orang tua, guru, ustad, pemimpin umat, dan sebagainya. Maka dari itu manusia harus berilmu, dengan anugerah akal, hati dan wahyu yang Allah berikan pada manusia, manusia mampu mengolah informasi tersebut dan sampai pada kebenaran, sehingga mampu membedakan tauhid dan kesyirikan. Seperti dalam Q.S. An-Nuur (24) : 51, ketika orang orang yang beriman diseru kepada Allah dan Rasulnya agar Rasul memutuskan perkara, memberikan hukum, dan nilai” unggul sebagai sistem dan konsep kehidupan diantara mereka, maka sikap mereka ialah Sami’na wa Atho’na. Yaitu menggunakan potensi pendengaranya dalam mengolah informasi – informasi sehingga mampu membedakan perintah tersebut merupakan sesuatu yang Al –Haq, atau justru Bathil. Jika Al – Haq, maka sikap orang beriman ialah mentaatinya, namun jika Bathil, maka sikap orang beriman ialah mencari kebenaran. Maka orang inilah yang beruntung dan terbebas dari kesesatan dan kemusyrikan.

Maka, sangatlah penting bagi manusia untuk berilmu, yaitu menggunakan kekritisan akalnya dan segala potensi yang Allah anugrahkan kepada manusia, untuk mencari kebenaran. Dalam Q.S. Muhammad (47) : 19, Allah memerintahkan manusia untuk berilmu (mengetahui) dalam memperjuangkan penegakan kalimat tauhid, “Laa ilaaha illallah”. Ilmu ini pun harus didasarkan pada Qur’an dan Sunnah, sehingga Allah akan memperjalankan manusia dalam perjuangan penegakan tauhid. Didalamnyalah banyak ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada manusia dalam rangka menguji siapa yang benar benar beriman, dan siapa yang berdusta (Q.S. 29:2-3). Ada orang yang hanif, namun ada pula yang tergoda langkah langkah syetan, maka ayat ini dilanjutkan dengan kesadaran betapa lemahnya manusia dalam menghadapi ujian Allah didalam perjuangan menegakkan kalimat tauhid, dengan kesadaran itu mereka memohon ampun kepada Allah. Dan sesungguhnya Allah mengetahui kemantapan pijakan dan ketetapan hatimu, serta mengetahui pergolakan dan bolak baliknya hati.

Jika kesimpulan ini kita kaitkan dengan Q.S. Al-baqarah (2) : 170, maka dalam berislam dan dalam perjuangan menegakan kalimat tauhid, kita harus berilmu, hanya mengacu kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai penafsirnya, sedangkan seperangkat Ilmu yang disampaikan oleh pendidik hanyalah perantara dalam penyampaiannya. Mereka pun bukanlah makhluk yang sempurna, sama seperti manusia umumnya, mereka memiliki akal, hati dan hawa nafsu. Karenanya ada potensi bagi mereka untuk benar, namun ada pula potensi bagi mereka untuk salah bahkan mengajak pada kemusyrikan. Maka kita harus kritis terhadap apa yang disampaikan, dengan menggunakan potensi akal dalam mengolah informasi, apakah yang disampaikanya didasarkan dengan Al-Qur’an dan penafsiranya melalui As-Sunnah atau tidak. Jika sesuai, maka Allah mewajibkan kita untuk mentaatinya, namun jika tidak sesuai, maka Allah melarang keras bagi kita untuk menaatinya. Dengan inilah, potensi penyimpangan dan perpecahan menjadi beberapa golongan dapat tersaring. Dan dengan inilah kita mampu memilah, “manakah golongan yang Allah janjikan untuk diterima Amal ibadah dan perjuanganya dan mana pula golongan golongan yang berada pada kesesatan dan kemusyrikan”.

Maka dapat kita simpulkan bahwa, Islam yang terbagi menjadi kelompok-kelompok, setiap kelompok bangga/fanatik akan golonganya, adanya keengganan untuk bersatu dalam satu kepemimpinan tauhid, bahkan cenderung bertentangan satu sama lain merupakan bukti dari perpecahan umat islam. Hal ini terjadi dikarenakan :


  • Umat islam tak lagi tegas akan pedoman hidupnya. Yakni (1) hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai satu satunya pedoman hidup, dan sistim kehidupan, (2) hanya menjadikan sunnah rasul sebagai satu satunya yang memiliki otoritas (berwenang) dalam menafsirkan Al-Qur’an). Sebagian umat islam modern ini dalam mengambil kebijakan mendahulukan posisi ijtihad dibanding Qur’an dengan penafsiran Sunnah. Ketika dihadapkan pada persoalan umat, kemudian dikaji dengan pendekatan Qur’an dan Sunnah, kebanyakan tidak sampai pada kebenaran bahkan beranggapan apa yang dialami rasul dahulu berbeda dengan masa ini. Alasanya karena zamanya berbeda, sekarang sudah modern, sehingga masalah lebih kompleks, banyak yang berubah, semakin majunya kehidupan manusia, sistem, dan teori yang berkembang, infiltrasi konsep barat, dan sebagainya. Maka kita tak bisa lagi berdakwah secara keseluruhan mengikuti bagaimana rasul dahulu berdakwah, sehingga mereka cenderung memformulasikan pemecahan masalah disesuaikan dengan sistem secara global (dunia), artinya berdasarkan persepsi/dugaan mereka.Komarudin hidayat misalnya, dalam memperjuangkan islam dan melihat bagaimana pergerakan perjuangan islam, perjuangan melalui politik tidak kunjung mencapai titik temu, bahkan cenderung membuat konflik baru dan melukai izzah islam. Jika hanya dengan membina, maka islam menyebar dengan begitu lamban dan jauh dari kemenangan islam, dan lain sebagainya. Sehingga ia berpendapat bahwa memperjuangkan daulah islam tidak lagi menjadi prioritas utama, yang penting nilai nilai islam teraplikasikan didalam kehidupan manusia. Padahal jika perjuangan rasulullah hanya untuk memperjuangkan nilai nilai islam (moral, etika, dll.), penulis yakin tidak perlu rasulullah begitu konsisten dalam melawan kaum kafir, musyrik dan musuh-musuh islam hingga mengucurkan darah dan menghabiskan hartanya. Cukup bersatu dengan pemerintahan jahiliyyah Abu Jahal dan menanamkan nilai nilai islam dalam peraturan dan hukum yang berlaku disana. Dalam Q.S. At-Taubah (9) : 33, As-Shaff (61) : 9, dan Al-Fath (48) : 28, Allah pun menjelaskan bahwa tujuan Allah mengutus Rasul-Nya dengan membawa Al-Huda dan Diinul Haq, ialah agar dimenangkanya atas seluruh agama, sistem, dan konsep hidup lainya (tidak bisa disatukan dengan konsep lain/buatan manusia), sehingga terwujud daulah Allah di muka bumi. Disinilah syetan mempengaruhi akal sehat manusia sehingga terhalang dari melihat kebenaran. Padahal dalam Q.S. Al-An’am (6) : 116, Allah menjelaskan bahwa segala konsep, teori, sistem, yang dibuat oleh manusia berdasarkan persepsi/persangkaan/duga-duga hanyalah kebohongan belaka, tidak akan pernah sampai kepada kebenaran sejati dan penyelamatan kehidupan manusia menyeluruh. Dalam Q.S. Yunus (10) : 36 Allah pun menjelaskan bahwa mereka hanya mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan tersebut tak sedikit pun berguna melawan kebenaran. Sedangkan dalam Q.S. Al-Israa (17) : 77 Allah menjelaskan bahwa Sunnah Rasul merupakan ketetapan yang sudah Allah gariskan kepada setiap pengemban misi risalah, dan ketetapan (Sunnah Rasul) tersebut selamanya takkan berubah (berlaku universal dan lintas zaman). Dalam Q.S. Yunus (10) : 32, Allah menjelaskan bahwa hanya Dialah sumber segala kebenaran, maka tidak ada selain kebenaran melainkan kesesatan. Allah telah menunjukan jalan kebenaranya itu melalui Qur’an dan Sunnah, maka segala teori, konsep, sistem yang keluar dari 2 hal tersebut, dapat dipastikan hanya akan membawa pada kesesatan.
  •  Umat islam tak lagi menggunakan akalnya (kritis) dalam mencari kebenaran, sehingga menjadikan manusianya bertaqlid. Menganggap bahwa apa yang diajarkan oleh para kyai, ustad, dan guru agama lainya sudah pasti benar, dan tidak perlu dibantah lagi, mengkritisinya merupakan hal yang tidak etis dan tidak sopan. Sehingga ketaatan mereka hanya karena ikatan emosional, bukan karena iman (ikatan Tauhid), jika karena iman mereka akan memberontak ketika diajak pada kesalahan, dan untuk mengetahuinya (mana yang benar dan yang salah) harus dengan ilmu, untuk meyakini ilmu, harus dengan akal kritis. Dengan ikatan inilah manusia menjadi merdeka, tidak terjajah oleh ikatan emosional, namun hanya dijajah oleh ikatan iman kepada Allah (Tauhid). Sejatinya jika penyampaian sang ustad berbeda dengan keterangan Qur’an dan Sunnah,maka kita diwajibkan untuk mengkritisinya dan kita dilarang keras untuk taat. Ketaatan kepada makhluk hanya diijinkan dalam kesebangunan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul, jika kita taat kepada makhluk/perintah/ajaran/hukum yang tidak sebangun dengan apa yang dikehendaki Allah dan dicontohkan melalui Rasul-Nya, maka kita telah melakukan penyembahan kepada selain Allah. 

Disinilah perbedaan Islam dengan Agama lainya. Pemahaman terhadap islam tidak dogmatis seperti apa yang diajarkan agama lainya. Islam mengajarkan untuk kritis dalam beragama, bahkan manusia harus kritis terhadap Islam itu sendiri. Karena tidak akan ada kesempurnaan Iman tanpa adanya kekokohan keyakinan. Tak kan ada keyakinan yang kokoh, tanpa adanya kedalaman ilmu dan pemahaman. Dan tak akan ada ilmu dan pemahaman yang mendalam, tanpa adanya kekritisan Akal. Namun dalam Q.S. Al-Baqarah (2) : 2, Allah menjanjikan bahwa hanya islamlah agama yang benar, dan tak ada keraguan terhadap kebenaran Islam dan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi orang orang yang bertaqwa. Dan dalam Q.S. Ar-ruum (30) : 30, Allah pun menjawab kekritisan akal manusia, hanya agama islamlah yang memiliki kebenaran sejati yang dibutuhkan semua umat manusia. Karena islam sendiri merupakan fitrah dan hal yang dibutuhkan manusia, sebagaimana fitrah manusia untuk makan, minum, bersosialisasi, dan lainya. Allah menciptakan manusia, maka Allah dengan rahmat dan rahimnya juga menciptakan islam sebagai pedoman hidup manusia, mengantarkan manusia kepada kehidupan keselamatan.

“Kekritisan Akal hanya mampu mengantarkan manusia kepada kebenaran, namun tidak akan pernah sampai pada kebenaran sejati, maka Islam sebagai Informasi dari pencipta manusialah yang akan membawa manusia pada kebenaran sejati. Sejatinya, kekritisan akal, akan selalu mengantarkan manusia kepada Islam.”

Wallahu’alam bishshawab..
oleh A. Al-Hijr

qana'ah




Qana’ah artinya rela dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan. Dalam Tasawuf Modern, Buya Hamka menjelaskan bahwa qana’ah mencakup lima perkara, yaitu (1) menerima dengan rela akan apa yang ada; (2) memohonkan kepada Allah tambahan yang pantas, dan berusaha; (3) menerima dengan sabar akan ketentuan Allah;  (4) bertawakal kepada Allah; dan  (5) tidak tertarik oleh tipu daya dunia.

Terkait dengan qana’ah, sebuah riwayat dari Abdullah bin Amru menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya beruntung orang yang masuk islam dan rezekinya cukup, dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya.” (H.R Bukhari)
 
Namun demikian, bersikap qana’ah dalam hidup bukan berarti bermalas-malasan, ongkang-ongkang sambil menunggu datangnya rezeki dari langit. Sama sekali bukan itu! Sebaliknya, orang-orang yang qana’ah adalah mereka penuh semangat  kerja, mencari karunia Allah SWT dengan cara-cara halal. Bilamana belum memperoleh pencapaian sebagaimana yang ditargetkn/diharapkan, mereka tetap merasa cukup. Ya, setelah terlaksananya ikhtiar, mereka menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT dan tetap bersyukur.

Dalam hal rezeki dan pembagiannya, orang-orang yang memiliki sifat qana’ah adalah mereka yang memiliki pandangan yang luas. Bagi mereka, rezeki adalah milik Allah Swt dan dia membagikan kepada hamba-hamba-Nya sesuai ketetapan-Nya. Mereka sangat yakin bahwa terkait dengan pembagian rezeki, Allah Swt lebih mengetahui  setiap kebutuhan hamba-Nya daripada hamba itu sendiri. Segalanya telah ditentukan ukuran dan jatahnya masing-masing, tidak ada yang pernah tertukar. Allah SWT berfirman, “Tiada sesuatu yang melata di bumi melainkan di tangan Allah rezekinya. ‘’ (Q.S Hud [11]:6)

Berdasarkan pemahaman yang mendalam atas ayat tersebut, orang-orang yang qana’ah menghindarkan diri dari meminta rezeki, selain kepada Allah swt. Sungguh sangat berbalik 180 derajat dengan mereka yang tiada setitik pun memiliki sifat qana’ah di hati mereka. Orang-orang tersebut terakkhir adalah mereka yang gemar pergi ke dukun dan paranormal untuk mencari ‘pelaris” bagi usaha mereka.

Wajarkah ini? Tentu saja tidak! Bahkan, dalam Islam ini dinilai sebagai bentuk praktik syirik. Meskipun tidak wajar dan melanggar syariat Islam, praktik ini marak dan telah menjadi tren (kecenderungan) tersendiri di kalangan dunia usaha. Alas an mendasar yang memunculkan tindakan ini adalah tiadanya rasa puas dengan pembagian rezeki dari Allah swt. Ditambah lagi mulai hilangnya  kepercayaan mereka bahwa Allah swt adalah Dzat Pemilik Rezeki dan yang menentukannya. Ingatlah, bukankah Allah swt adalah Yang Mahakaya? Aduhai, mengapa kita tetap menipu diri sendiri dengan menukarkan  keimanan kita dengan dunia?

Dalam kehidupan seorang muslim, qana’ah berfungsi sebagai penyeimbang atau peredam dari dorongan nafsu diri akan dunia dengan segala hiasannya. Bersemayamnya sifat qana’ah dalam hati akan memberikan perasaan tentram dan bahagia manakala yang kita dapati adlah sesuatu di luar yang kita harapkan. Hati orang yang qana’ah akan menghibur tuannya, “bersabarlah dan bersyukurlah, Tuan! Di luar sana, masih banyak orang yang  keadaannya tidak lebih baik daripada kamu!’’ Bisikan-bisikan lembut menyejukan inilah yang membuat orang yang qana’ah merasakan kedamaian yang tiada terucap dan ketentraman yang tiada batas.

Tahukah kita? Sesungguhnya kedamaian dan ketentraman tiada batas itulah harta kekayaan yang tiada ternilai. Kedua hal ini hanya bisa dirsakan oleh mereka yang memiliki sifat qana’ah. Dengan menggunakan logika “terbalik” kita bisa ajukan sebuah pertanyaan ; untukk apa orang mencari harta? Pasti tentu , jawabannya yang paling banyak muncul adalah agar mereka hidup bahagia! Namun, setelah harta didapat dan dikumpulkan sebanyak-banyaknya, apakah mereka bahagia?

Memang di antara mereka ada yang bahagia tetapi tidak sedikit juga yang malah menderita karena takut kehilangan harta tersebut. Nah, kalau sudah begini, apa makna semua itu? Ternyata harta malah membikin orang tidak bahagia. Lalu, dimanakah sumber kebahagiaan itu? Jawabannya, ada di hati yang selalu merasa cukup (qana’ah).

Orang-orang yang qana’ah tak sedikitpun terbesit dalam hati dan pikiran mereka ketakutan akan kehilangan harta. Sebab, bagi mereka semua itu hanya titipan dari Allah swt. Mereka hanya diberi amanat untuk mendayagunakannya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kita saksikan orang-orang yang qana’ah gemar membelanjakan harta dan rezekinya di jalan Allah swt. Mereka menikmati itu sebagai wujud rasa syukur dan kesenangan hati mereka. Allah swt pun mengajar balasan yang lebih baik dan banyak kepada mereka. Apa yang terjadi? Ya karena kemurahan hati mereka, Allah swt  juga berkenan semakin memurahkan rezeki-Nya bagi mereka.

Benarlah kemudian yang disabdakan Rasulullah saw, “Bukanlah kekayaan itu banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.” (H.R. Bukhari Muslim)

Dalam hadist yang lain, beliau juga bersabda, “Qanaa’ah itu  adalah simpanan yang tak akan pernah lenyap.” (H.R. Tarmidzi)

Demikianlah, betapa agung dan penting sifat qana’ah itu dalam kehidupan. Ia membebaskan mereka yang mempraktikannya dari perbudakan nafsu rendah manusia akan materi dan mengangkat mereka menuju derajat hamba-hambanya yang bersyukur.

oleh MR

05 September 2013

tauhid dalam ilusi


Iringan dan tautan takbir, tahmid, tahlil dan tasbih yang membelah cakrawala, membahana menajamkan pendengaran dan menggelitik kesadaran qalbu. Selama sesaat, jiwa ini seperti  tertarik oleh kekuatan daya magnetis  untuk sejenak m engingat  para pelaku awal (salafussalihin) yang menggemakan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid tersebut. Ingatan ini terus mengalir menelusuri  jejak-jejak perjuangan mereka yang panjang, mendaki lagi terjal syarat cucuran darah dan air mata.

Bagi mereka, untuk merangkul dan memeluk erat  Allah akbar, Allah wahdah dan Allah ahad, haruslah berhadapan dengan tiran berhalaisme angkuh yang mewakili syaitan dimuka bumi. Aduhai Engkau
Muhammad SAW., sang pemimpin pergerakan penyempurna tauhid di planet bumi, Engkau telah menjadi target operasi  intelegen ganas sistem  tiran berhalaisme dari upaya tipu bujuk rayu, intimidasi, fitnah, boikot, pembantaian sampai dengan target pembunuhan. Oh… Engkau Yasir RA., cucuran darah syahidmu telah menjadi saksi bahwa raungan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih itu engkau tegakkan melalui perjuangan panjang yang melelahkan penuh pengorbanan. Wahai sobat, tidakkah kematian Alhabib yang tubuhnya tercabik-cabik oleh kebrutalan kafir quraisy  menjadi alat bukti yang cukup bahwa mengkonstruk bangunan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih akan dihadang, dimusuhi bahkan akan dibumihanguskan oleh tiran berhalaisme?

Dahulu ketika nabi Muhammad SAW  dan para sahabat mengumandangkan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih, suasana itu begitu realistis; sungguh mengharubiru karena semua kumandang itu dilantunkan bukan saja mereka lepas dari ibadah shaum  tetapi mereka telah bergelut dalam rentang waktu yang panjang dan dinamika perjuangan yang ekstrim menegangkan dalam menyampaikan pesan-pesan ilahi.  Bersamaan dengan itu secara senyawa mereka telah berhasil memerdekakan planet bumi yang mereka pijak dari  cengkraman tiran musyrikin dan dominasi berhalaisme,  keberhasilan balatentara Allah, tentara tauhid meneguhkan Addin dengan tegaknya daulah islamiyyah sebagai bukti perwujudan tauhid yang melandasi seluruh kehidupan individual sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik dan kenegaraan dapat tegak dengan sempurnanya.

Aduhai… betapa harmonisnya pada saat itu antara suasana jiwa yang heroik setelah kemenangan Makkah Almukarromah  dengan dentuman ritme takbir, tahlil, tahmid dan tasbih yang menggema menggelitik kecerdasan akal serta menggetarkan kesadaran qalbu. Suasana indah nan anggun terpapar dalam kehidupan masyarakat muslim yang tertata dalam kesatuan kepemimpinan tauhid planet bumi, mereka bagaikan barisan yang teratur, seakan-akan bangunan yang tersusun kokoh. Sikap mereka terhadap sistem selain Allah yang sudah pasti korup, lalim dan syirik begitu jelas dan tegas penolakannya. Hubungan yang terjalin diantara mereka adalah tebaran rahmat, kasih sayang atas dasar ikatan kemanusiaan sejati, yaitu iman. Mereka ruku' dan sujud digerakan oleh satu komando sakral, seluruh hubungan kemanusiaan terselenggara atas dasar perintah Allah dan ketaatan kepada mandataris-Nya dibumi. Inilah sebuah negri yang mendapat karunia Allah dan ridho-Nya.  Subhanallah 

Di balik keanggunan bangunan umat  masa lalu sebagaimana terpapar di atas, miris rasanya ketika kita mencoba telaah, kritis dan mengajukan segudang pertanyaan tentang bangunan umat islam atau keorisinilan Addien Al-Islam sebagai agama tauhid  itu setelah empat belas abad berlalu. Malu rasanya melihat realitas umat islam hari ini untuk sekadar membandingkannya dengan  konsep al-Islam yang sempurna yang telah terbukti dalam peradaban umat manusia empat belas abad silam . Islam berdasar pada prinsip tauhid, maka dalam tataran keyakinan berarti menunggalkan loyalitas, ketaatan dan kekuasaan hanya kepada Allah SWT saja,  dan dalam tataran aksi di bumi,tauhid berarti menunggalkan loyalitas, ketaatan dan kekuasaan hanya  kepada pejabat Allah di bumi yang legal menurut Allah (kepemimpinan Nubuwwah). Ah… alangkah jauhnya kenyataan hari ini, tauhid menjadi barang langka, loyalitas diadikan kepada kelompok penguasa tiran berhalaisme, kaki tangan kapitalis sekuler hanya untuk bisa bersama-sama menikmati proyek hasil berbagai kejahatan.. Loyalitas dijual kepada partai-partai pencari kesenangan dunia untuk sekadar menitipkan isi perut, loyalitas digadaikan kepada organisasi-organisasi yang mengusung arogansi dan fanatisme kelompok Islam tertentu yang senantiasa dalam sejarahnya tidak bisa mendewasakan bahkan memecah belah umat islam ke dalam golongan-golongan yang mudah disulut untuk diadu domba. Ketaatan diberikan kepada penguasa yang tidak mengusung  platform Allah sebagai program langit yang harus diwujudkan di muka bumi (amanah dan Risalah). Ketaatan telah didedikasikan kepada penguasa  yang tidak mendapatkan legalitas Allah sebagaimana para nabi dan  pewarisnya di masa silam yang wajib dijadikan uswah. Ketaatan telah diobral kepada penguasa perwakilan syaitan di bumi karena menolak berlakunya kitabullah sebagai perwujudan  perintah dan kehendak Allah SWT. Kekuasaan telah dirampas oleh tuhan-tuhan palsu (penguasa, tokoh, ketua adat, dukun, kiai/ajengan, pemilik modal dll) dengan meminta legalitas rakyat atasnya. Kekuasaan transendental dalam bentuk imanennya telah terbagi di tangan raja-raja yang mengklaim sebagai titisan para dewa. Pada ahirnya, kekuasaan berada pada kelompok yang berkolaborasi antara penguasa, pengusaha dan  al-ulama as-suu’u la’natullah alaihim.

Kini, loyalitas, ketaatan dan kekuasaan tunggal  kepada Allah nyatanya telah tergantikan, diselewengkan dan bergeser  kepada berbagai macam kepentingan individu,  kelompok atau siapa pun yang merampas selendang ketuhanan.. Jika demikian, maka gaung takbir, tasbih tahlil dan tahmid hanya raungan macan ompong, omong kosong, isapan jempol dan nol besar belaka. Betapa menyedihkannya keadaan umat islam hari ini karena hidup dalam ilusi kebenaran tauhid. Sungguh  celaka penyelenggarakan parade penyembahan kepada multituhan didukung oleh kekuatan dan kekuasaan formal dan nonformal sehingga akselerasinya melesat begitu cepat tak terkendali. Inilah situasi penjukirbalikan tauhid oleh  kemusyrikan. Kapankah tauhid berjaya kembali?  (lihat Qur’an, Az-Zukhruf, ayat 28 – 29).

oleh Cakra Kawah Pangrango

05 Agustus 2013

manfaat menjauhi maksiat



Oleh Ija Sudija
Guru Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Salah seorang ulama klasik yang dikenal sebagai pelopor ilmu Ushul Fiqh adalah Imam Syafi’i. ia dilahirkan pada tahun 150 H (769 M) di Ghaza, Palestina. Di usianya yang masih belia, ia sudah mampu menghafal Al-Qur’an. Selain itu, ia juga mampu menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik.
Kecerdasan Imam Syafi’I itu membuat Imam Malik terkesima. Beliau pernah berkata, “Allah telah menganugerahkan seberkas cahaya dalam hatimu, maka jangan sekali-kali engkau memadamkannya dengan kegelapan maksiat.” Tak heran, kalau Khalifah Harun Ar-Rasyid pernah mengundang Imam Syafi’I ke istana beliau di Baghdad.
Kemudian, saat perjalanan ke rumah gurunya, Waki’ Ibnul Jarah, ia melihat tumit seorang wanita. Saat itu juga hafalannya menjadi kacau. Ia pun mengadu kepada sang guru.
Aku mengadu kepada Imam Waki’ tentang kesulitanku menghafal
Lalu beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat.
Ia mengingatkanku bahwa ilmu adalah cahaya.
Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.
Setidaknya tiga poin yang bisa kita petik dari nasihat Waki’ Ibnul Jarah kepada Imam Syafi’I ini. Pertama, perbuatan maksiat akan mengacaukan hafalan. Maksiat merupakan kekejian yang membuat hati menjadi kotor, sedangkan ilmu tidak menempati hati yang kotor. Ilmu menempati hati yang bersih, yang mengantarkan pemiliknya taat kepada perintah Allah.
Kedua, ilmu itu bagaikan cahaya. Ketika malam hari, kita tidak bisa berjalan tanpa adanya cahaya. Begitu pula peran ilmu dalam kehidupan manusia. Tanpa ilmu, kehidupan terasa hampa, gelap, dan tidak ada penerangan di sepanjang jalan yang kita tempuh sehingga kita tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Ketiga, Allah tidak akan memberikan hidayah ilmu kepada para pelaku maksiat. Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Kiat Membersihkan Hati dari Kotoran dan Maksiat mengatakan bahwa Allah menciptakan makhluk dalam dua golongan, yakni olongan atas dan golongan bawah.
Golongan atas adalah hamba Allah yang taat. Mereka dimuliakan Allah, baik di dunia maupun akhirat. Sementara golongan bawah adalah pelaku maksiat. Mereka tidak dimuliakan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi, wajar saja kalau hidayah ilmu tidak diberikan kepada golongan bawah.
Lantas, bagaimana caranya agar kita terhindar dari maksiat? Ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd dalam kitab Cara Bertaubat Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah menjabarkan dengan detail kiat-kiat tersebut.
Pertama, mengisi hati dengan kecintaan kepada Allah SWT. Ketika hati terisi dengan kecintaan kepada Allah, maka kebaikan akan menjadi sempurna, kenikmatannya akan terpenuhi, dan ketergantunga terhadap hawa nafsu akan hilang. Dengan begitu, beribadah pun menjadi ringan dan mudah.         
Kedua, berjihad dalam melawan hawa nafsu. Nafsu itu tak ubahnya seperti anak kecil. Jika kita tidak menghentikan kebiasaannya menyusu, maka ia akan tumbuh besar dalam keadaan tetap menyusu. Dalam hadis disebutkan bahwa salah satu cara yang tepat dalam mengontrol nafsu adalah dengan berpuasa.
Ketiga, banyak mengingat akhirat. Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am: 32)
Keempat, menauhi bacaan-bacaan yang dapat menjauhkan diri dari kemaksiatan. Di era digital ini, akses untuk mendekatkan maksiat sangatlah mudah. Namun kita perlu memfilter informasi sebelum menyerapnya. Karena terkadang, informasi itu dikemas dengan sangat halus sehingga susah membedakan mana yang baik dan mana yang jelek.

Kelima, menundukkan pandangan. Mata merupakan salah satu sarana masuknya informasi. Maksiat sering kali masuk melalui mata. Bisa dibilang, mata merupakan cerminan hati. Dengan kata lain, menundukkan pandangan akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman. Menundukkan pandangan berarti menundukan syahwat.            

oleh HH

31 Juli 2013

menjadikan silaturrahim lebih bermakna



Silaturrahim adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan dari Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturrahim, maka ukhuwah islamiyah akan terjalin dengan baik. Kehidupan kadang tidak seindah yang kita inginkan. Dalam interaksi sosial dengan orang lain, bisa saja terjadi khilaf dan salah paham, yang membuat jalinan persaudaraan atau pertemanan menjadi tidak harmonis. Berawal dari khilaf dan salah paham inilah yang sering mengakibatkan hubungan dua orang yang pada awalnya sangat dekat menjadi renggang.

Keduanya bisa saling mencurigai, iri dan bermusuhan. Hubungan persaudaraan, persahabatan dan pertemanan menjadi hambar. Sapaan hanya sekedar basa-basi. Tidak ada lagi kerinduan, sebaliknya yang ada adalah kekecewaan dan kebencian. Jika tidak segera ditangani, ketidakharmonisan ini bisa menular ke orang lain. Bahkan bisa merembet keseluruh keluarga dan atau seluruh teman dekat. 

Maka, silaturrahim bisa menjadi sarana untuk merajut hubungan yang terancam putus. Pribadi manusia satu dengan lainnya memang tidak ada yang sama, namun dengan pendekatan kasih sayang dan persaudaraan antar sesama Muslim bisa menghapus kesalahpahaman dan menjembatani perbedaan kepribadian tersebut. Silaturrahim bukan hanya dilakukan dengan sekedar bertemu, datang dan berjabat tangan; melainkan dengan tolong-menolong dalam segala aspek kehidupan ataupun bisa dengan memberikan informasi-informasi penting kepada kerabat dan saudara.

Rasulullah SAW mendorongan agar orang mau bersilaturrahim sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Abu Hurairah RA: Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia meyambung hubungan silaturrahim.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Dalam hadis lain yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Hadis-hadis inilah yang mendorong kaum Muslimin untuk bersilaturrahim. Dijelaskan juga dalam firman Allah SWT, “Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d:21). 

Merujuk pada hadis dan Firman Allah SWT diatas dapat dilihat bahwa silaturrahim sangat penting bahkan wajib bagi seorang Muslim. Akan tetapi, sebagian besar kaum Muslimin menggunakan kata silaturrahim hanya sebatas untuk hubungan kekerabatan semata yang sebenarnya hanyalah hubungan semu. Padahal, silaturrahim ini berhubungan erat dengan keimanan dan keislaman seseorang. Hubungan yang semu tanpa dilandasi keimanan dan ketakwaan merupakan penyebab putusnya silaturrahim. Adapun faktor-faktor penyebab lainnya  adalah kebodohan, minimnya ilmu agama, cinta dunia dan menyibukan diri dengannya, serta zalim dan jahat kepada kerabat. Padahal, yang disebut silaturrahim yang lebih esensial adalah bagaimana memperkuat hubungan keimanan, ketakwaan antar sesama.

Adapun haramnya memutuskan  silaturrahim telah dijelaskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis, “Tidak masuk surga orang yang memutus silaturrahim.” (HR Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, silaturrahim jelas mengandung banyak manfaat, bukan hanya sebatas mengumpulkan keluarga dan saling mengenalkan hubungan kekerabatan, tapi sebagai salah satu bukti atas kualitas  keimanan dan keIslaman seseorang.

Semoga catatan kecil ini selalu berada dalam bimbingan Allah SWT dan dapat memperkokoh ukhuwah islamiyah kita semua.

oleh HH

30 Juli 2013

apa yang kita sombongkan?



Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari.

Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi.

Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan.
Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. 
Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan
waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan.

Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di
dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang sebenarnya kita sombongkan, dan untuk apa kita bersikap sombong?

oleh Hansae