03 November 2013

qana'ah




Qana’ah artinya rela dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan. Dalam Tasawuf Modern, Buya Hamka menjelaskan bahwa qana’ah mencakup lima perkara, yaitu (1) menerima dengan rela akan apa yang ada; (2) memohonkan kepada Allah tambahan yang pantas, dan berusaha; (3) menerima dengan sabar akan ketentuan Allah;  (4) bertawakal kepada Allah; dan  (5) tidak tertarik oleh tipu daya dunia.

Terkait dengan qana’ah, sebuah riwayat dari Abdullah bin Amru menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya beruntung orang yang masuk islam dan rezekinya cukup, dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya.” (H.R Bukhari)
 
Namun demikian, bersikap qana’ah dalam hidup bukan berarti bermalas-malasan, ongkang-ongkang sambil menunggu datangnya rezeki dari langit. Sama sekali bukan itu! Sebaliknya, orang-orang yang qana’ah adalah mereka penuh semangat  kerja, mencari karunia Allah SWT dengan cara-cara halal. Bilamana belum memperoleh pencapaian sebagaimana yang ditargetkn/diharapkan, mereka tetap merasa cukup. Ya, setelah terlaksananya ikhtiar, mereka menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT dan tetap bersyukur.

Dalam hal rezeki dan pembagiannya, orang-orang yang memiliki sifat qana’ah adalah mereka yang memiliki pandangan yang luas. Bagi mereka, rezeki adalah milik Allah Swt dan dia membagikan kepada hamba-hamba-Nya sesuai ketetapan-Nya. Mereka sangat yakin bahwa terkait dengan pembagian rezeki, Allah Swt lebih mengetahui  setiap kebutuhan hamba-Nya daripada hamba itu sendiri. Segalanya telah ditentukan ukuran dan jatahnya masing-masing, tidak ada yang pernah tertukar. Allah SWT berfirman, “Tiada sesuatu yang melata di bumi melainkan di tangan Allah rezekinya. ‘’ (Q.S Hud [11]:6)

Berdasarkan pemahaman yang mendalam atas ayat tersebut, orang-orang yang qana’ah menghindarkan diri dari meminta rezeki, selain kepada Allah swt. Sungguh sangat berbalik 180 derajat dengan mereka yang tiada setitik pun memiliki sifat qana’ah di hati mereka. Orang-orang tersebut terakkhir adalah mereka yang gemar pergi ke dukun dan paranormal untuk mencari ‘pelaris” bagi usaha mereka.

Wajarkah ini? Tentu saja tidak! Bahkan, dalam Islam ini dinilai sebagai bentuk praktik syirik. Meskipun tidak wajar dan melanggar syariat Islam, praktik ini marak dan telah menjadi tren (kecenderungan) tersendiri di kalangan dunia usaha. Alas an mendasar yang memunculkan tindakan ini adalah tiadanya rasa puas dengan pembagian rezeki dari Allah swt. Ditambah lagi mulai hilangnya  kepercayaan mereka bahwa Allah swt adalah Dzat Pemilik Rezeki dan yang menentukannya. Ingatlah, bukankah Allah swt adalah Yang Mahakaya? Aduhai, mengapa kita tetap menipu diri sendiri dengan menukarkan  keimanan kita dengan dunia?

Dalam kehidupan seorang muslim, qana’ah berfungsi sebagai penyeimbang atau peredam dari dorongan nafsu diri akan dunia dengan segala hiasannya. Bersemayamnya sifat qana’ah dalam hati akan memberikan perasaan tentram dan bahagia manakala yang kita dapati adlah sesuatu di luar yang kita harapkan. Hati orang yang qana’ah akan menghibur tuannya, “bersabarlah dan bersyukurlah, Tuan! Di luar sana, masih banyak orang yang  keadaannya tidak lebih baik daripada kamu!’’ Bisikan-bisikan lembut menyejukan inilah yang membuat orang yang qana’ah merasakan kedamaian yang tiada terucap dan ketentraman yang tiada batas.

Tahukah kita? Sesungguhnya kedamaian dan ketentraman tiada batas itulah harta kekayaan yang tiada ternilai. Kedua hal ini hanya bisa dirsakan oleh mereka yang memiliki sifat qana’ah. Dengan menggunakan logika “terbalik” kita bisa ajukan sebuah pertanyaan ; untukk apa orang mencari harta? Pasti tentu , jawabannya yang paling banyak muncul adalah agar mereka hidup bahagia! Namun, setelah harta didapat dan dikumpulkan sebanyak-banyaknya, apakah mereka bahagia?

Memang di antara mereka ada yang bahagia tetapi tidak sedikit juga yang malah menderita karena takut kehilangan harta tersebut. Nah, kalau sudah begini, apa makna semua itu? Ternyata harta malah membikin orang tidak bahagia. Lalu, dimanakah sumber kebahagiaan itu? Jawabannya, ada di hati yang selalu merasa cukup (qana’ah).

Orang-orang yang qana’ah tak sedikitpun terbesit dalam hati dan pikiran mereka ketakutan akan kehilangan harta. Sebab, bagi mereka semua itu hanya titipan dari Allah swt. Mereka hanya diberi amanat untuk mendayagunakannya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kita saksikan orang-orang yang qana’ah gemar membelanjakan harta dan rezekinya di jalan Allah swt. Mereka menikmati itu sebagai wujud rasa syukur dan kesenangan hati mereka. Allah swt pun mengajar balasan yang lebih baik dan banyak kepada mereka. Apa yang terjadi? Ya karena kemurahan hati mereka, Allah swt  juga berkenan semakin memurahkan rezeki-Nya bagi mereka.

Benarlah kemudian yang disabdakan Rasulullah saw, “Bukanlah kekayaan itu banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.” (H.R. Bukhari Muslim)

Dalam hadist yang lain, beliau juga bersabda, “Qanaa’ah itu  adalah simpanan yang tak akan pernah lenyap.” (H.R. Tarmidzi)

Demikianlah, betapa agung dan penting sifat qana’ah itu dalam kehidupan. Ia membebaskan mereka yang mempraktikannya dari perbudakan nafsu rendah manusia akan materi dan mengangkat mereka menuju derajat hamba-hambanya yang bersyukur.

oleh MR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar