Tampilkan postingan dengan label tokoh islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh islam. Tampilkan semua postingan

28 Agustus 2013

abu ubaidah



Perangi sang Ayah Demi Membela Islam

Keteguhan iman pemilik nama lengkap Amir bin Abdullah bin Jarrah al-Fihry al-Quraisy ini ditunjukkan ketika Perang Badar. Ia harus rela menghunus pedangnya bertarung melawan sang ayah, Abdullah bin Jarrah, hingga sang ayah tewas di tangan putranya sendiri.
Lelaki yang biasa dipanggil Abu Ubaidah ini cekatan bagai singa jantan untuk urusan Islam. Namun, dibalik semua itu, ia sosok yang wajahnya berseri, mata bersinar, ramah kepada semua orang, sehingga banyak yang simpati kepadanya. Selain lemah lembut, dia juga sangat tawadhu dan pemalu.
Suatu hari, Abdullah bin Umar pernah berkata tentang orang-orang yang mulia dari Quraisy. “Ada tiga orang Quraisy yang sangat cemerlang wajahnya, tinggi akhlaknya dan sangat pemalu. Bila berbicara mereka tidak pernah dusta. Dan apabila orang berbicara, mereka tidak cepat-cepat mendustakan. Mereka itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.”
Abu Ubaidah salah seorang sahabat yang lebih dulu masuk Islam. Waktu menemui Rasulullah SAW, dia bersama dengan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un dan Arqam bin Abi Arqam untuk mengucapkan syahadat di hadapan beliau.
Ia juga sahabat yang mengalami masa penindasan yang kejam dari kaum Quraisy di Mekkah sejak permulaan sampai akhir. Walau demikian, ia tetap teguh menerima segala macam cobaan dan tetap setia membela Rasulullah SAW dalam segala situasi dan kondisi.
Pada perang Badar, Abu Ubaidah merasakan lawan yang tangguh, yang ternyata itu adalah ayah kandungnya sendiri. Dengan pedang terhunus, ia membunuh kekafiran yang bersarang dalam hati sang ayah.
Berkenaan dengan peristiwa Abu Ubaidah ini, Allah SWT berfirman: “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 23)
Itulah Abu Ubaidah, yang menyerahkan hidup sepenuhnya untuk Islam. Peristiwa itu membuat kokoh iman Abu Ubaidah. Orang yang mendapatkan gelar Amin Al-Ummah (Kepercayaan umat Muhammad) ini ternyata menarik perhatian orang-orang besar. Diantaranya ketika datang utusan kaum Nasrani menghadap Rasulullah seraya berkata, “Wahai Abu Qasim, kirimlah kepada kami seorang sahabat yang pintar menjadi hakim tentang harta yang menyebabkan kami berselisih sesama kami. Kami senang menerima putusan yang ditetapkan kaum Muslimin.”
Selesai shalat, Rasulullah menengok ke kanan dan ke kiri. Ketika melihat Abu Ubaidah, beliau memanggilnya dan berkata, “Pergilah kau bersama mereka. Adili dengan baik perkara yang mereka perselisihkan!” Abu Ubaidah berangkat bersama para utusan tersebut dengan menyandang gelar “orang kuat yang terpercaya”.
Dalam musyawarah pemilihan khalifah yang pertama, Umar bin al-Khatab sempat hendak membai’atnya. Namun sebagai orang yang mengerti dan tahu diri, maka ia menjawab, “Aku tidak mau mendahului orang yang pernah disuruh Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup (Abu Bakar). Walaupun sekarang beliau telah wafat, marilah kita angkat dia menjadi imam juga.” Akhirnya mereka sepakat untuk memilih Abu Bakar menjadi khalifah pertama, sedangkan Abu Ubaidah diangkat menjadi penasihat dan pembantu utama khalifah.
Setelah Abu Bakar wafat, jabatan khalifah beralih ke Umar bin al-Khatab. Kendati demikian, Abu Ubaidah tetap dekat dan patuh pada Umar. Pada masa pemerintahan Umar, Abu Ubaidah memimpin tentara Muslimin menaklukan wilayah Syam. Dia berhasil memperoleh kemenangan berturut-turut, sehingga seluruh wilayah Syam takluk dibawah kekuasaan Islam.
Abu Ubaidah meninggal dunia karena terkena penyakit menular yang mewabah di Syam. Menjelang wafatnya, ia berwasiat kepada seluruh prajuritnya, “Aku berwasiat kepada kalian, jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, klian tidak akan sesat dari jalan yang baik dan senantiasa dalam keadaan bahagia. Tetaplah kalian menegakkan shalat, bepuasa Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan haji dan umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama kalian, menasihati pemerintah kalian, dan jangan biarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia. Walaupun seseorang berusia panjang hingga seribu tahun, dia pasti akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini.”
Kemudian dia menoleh kepada Mu’adz bin Jabal, “Wahai Mu’adz, sekarang kau yang menjadi imam (pemimpin)!” Tak lama kemudian, ruhnya meninggalkan jasad untuk menjumpai Tuhannya.
                    
 oleh HH