Disampaikan oleh Moh In’ami, Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah STAIN kudus, Jawa Tengah
Bekerja adalah fitrah manusia, jika terdapat orang yang enggan dan malas bekerja sesungguhnya hal itu melawan fitrahnya sendiri. Maka manifestasi potensi yang Allah berikan pada diri manusia menjadi modal yang luar biasa untuk dioptimalkan, dikembangkan dan difungsikan sebagaimana mestinya sesuai rambu-rambu yang ditetapkan Allah sebagai sesuatu yang asasi.
Mulailah berpikir bahwa bekerja itu perintah. Kesadaran untuk melaksanakan perintah menantarkan diri seseorang menuju perbuatan dengan motivasi yang tinggi dan berharap ridha ilahi. Dengan bekerja orang menjadi mulia. Dengan bekerja orang dapat mengaktualisasikan diri dan menunjukkan bahwa dirinya ada. Sebagai bukti bahwa dia hadir ditengah-tengah keluarganya dan wujud manfaat bagi diri dan sesama (QS.at-Taubah:105).
Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda: “Tiada seorangpun memakan makanan yang lebih baik daripada memakan yang diperoleh dari hasil keringatnya sendiri. Sesungguhnya nabiyullah Daud as pun memakan dari hasl karyanya sendiri.” (HR.Bukhari)
Yang perlu diwaspadai adalah apabila bekerja hanya mencari keuntungan semata, niscaya akan merugi. Bekerja yang diperintahkan itu bukan sekedar memilki muatan pemenuhyan suatu kebutuhan yang brsifat materialis, namun lebih dari itu, muatan ibadah dan orientasi ukhrowi menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Apapun bentuk pekerjaan, sepanjang halal dan baik, tidak perlu menjadikan orang minder atau berkecil hati. Meski orang sering melihat kemampuan modalitas dan kekuaan finansial. Sementara kita perlu memahami bahwa setiap kerja hendaknya menjadi amal, sehingga starting point penting dalam bekerja adalah membangun niat tulus dan motivasi positif.
Banyak orang bekerja tetapi belum tentu ia beramal. Sebaliknya banyak orang beramal dan tentu saja mereka bekerja. Orang yang beramal mampu mewujudkan kerja dalam peraktik amal shaleh, sikap dan perilaku yang mendatangkan manfaat, atau bahkan mampu memberikan profit yang diharapkan.
Hampir bisa dipastikan jika ada sebab tentu ada akibat. Orang sering bekerja keras dan berharap dengan bekerja keras itu akan mendapatan hasil yang lebih dan keuntungan yang banyak. Jika pandangan kita selama ini dalam bekerja hanya soal keuntungan. Meraih profit dan pendapatan yang lebih dari biasanya , hal ini berarti ada sesuatu yang tidak pernah kita soroti sebagai yang penting dalam bekerja, sesuatu yang hakiki yang sering ditinggalkan-manifestasi kerja, esensinya adalah amal.
Jika orang bekerja masih membutuhkan pengakuan dari pihak lain bahwa ia telah bekerja, maka bekerjalah tanpa berharap apapun. Ingatlah konsep ikhlas beramal. Dalam konteks kerja formal, berbuatlah sesuai tugas pokok dan fungsi. Dalam ranah sosial keagamaan, bekerjalah dengan orang yang anda ajak untuk berbakti, mengabdi dan mengamalkan kemampuan ilmu dalam kehidupan beragama di masyarakat.
Dalam budaya organisasi, berbuatlah untuk kesejahteraan dan kemaslahatan banyak orang yang menjadi tanggung jawab dan kendali anda, tanpa meninggalkan rasa keadilan dan kejernihan dalam berpikir dan bertindak, tidak mudah percaya oleh ucapan buruk dari suatu sumber sebelum mengeek dan mengkonfirmasi data lainnya yang bisa dipercaya.
Mewujudkan tauhid dalam bekerja merupakan sebuah tantangan dalam kerja atau amal, bahwa bukan hanya kerja saja yang dilakukan. Orang yang bekerja hendaknya menikmati statusnya sebagai pekerja.
Status pekerja adalah penghargaan yang luar biasa. Apalagi pekerjaan atau amal itu datangnya dari Allah. Kesadaran manusia dengan pangkat menjadi pekerja itulah yang mampu mangangkat derajatnya menjadi mulia. Inilah yang disebut bertauhid. Bila manusia mengingkari statusnya dan tidak mau bekerja berarti ia telah menghinakan dirinya.
Untuk itulah kita bekerja dan berbuat. Sungguh nikmat dalam bekerja, apalagi tidak hanya reward dunia yang kita terima tetapi akhirat juga kita raih. Ada kata-kata hikmah: “berbuatlah sekehendakmu, maka kamu akan mendapatkan balasannya (yang setimpal).” Masihkah kita menunda untuk berbuat sesuatu demi kebaikan dan masa depan kita?
oleh M. S. A
10 November 2013
03 November 2013
islam agama akal
14 abad yang lalu, Muhammad bin Abdullah diangkat oleh Allah menjadi Rasul. Mengemban misi risalah menegakan kalimat tauhid di muka bumi, mengawal turun dan terlaksananya Al-Qur’an sebagai wujud daulah Allah di muka bumi. Muhammad merupakan bagian dari Kaum Quraisy, yaitu bani Hasyim. Merupakan hal yang alami jika manusia membentuk golongan, didasarkan pada ras, daerah, genetik, keluarga, dan kesamaan lainnya, sebagaimana yang terjadi di zaman nabi Muhammad. Manusia terbagi menjadi beberapa kabilah/kelompok.
Tiap kelompok fanatik dan bangga akan kelompoknya masing-masing. Dengan nilai moral, norma dan kepentingan yang dimiliki, tiap kabilah saling memperjuangkan kepentinganya, hingga tidak jarang terjadi benturan kepentingan yang menghasilkan permusuhan dan peperangan. Dalam Q.S. 3 : 103, Allah merekam jejak perjuangan Rasul yang berhasil menyatukan umat manusia. Manusia yang terbagi dalam berbagai kelompok dan tiap kelompok saling memperjuangkan kepentinganya masing-masing disatukan oleh ikatan Tauhid. Rasul atas bimbingan Allah menyelamatkan mereka yang tadinya berada di jurang “neraka”, menuju jalan keselamatan. Dengan ikatan Tauhid, Rasul membangun peradaban madani sebagai wujud daulah Allah di muka bumi, dan bukti surga dunia yang Allah janjikan.
Kini masa itu telah berlalu, Bangunan kesatuan umat yang dahulu Rasul tegakkan, kini hancur berantakan. Umat islam kembali menjadi berbagai macam golongan, ada NU, Muhammadiyah, Ikhwanul Muslimin, Hisbut Tahrir, FPI, syiah, murdji’ah, mu’tadzilah,dan banyak lainya.tiap golongan bangga dan fanatik atas golonganya. Tak jarang mereka saling berdebat dalam menjalankan Al-Qur’an, namun tak pernah mencapai kesepakatan, tiap golongan mempertahankan pendapat dan kepentinganya masing masing. Maka dimanakah kesatuan kepemimpinan umat Islam masa kini? Apakah mereka tak sadar urgensi kesatuan islam dalam menghadapi tantangan kebiadaban dunia? Kenapa mereka begitu kokoh dalam mempertahankan argumen dan kepentingan masing-masing? Apa sebenarnya yang menjadikan manusia terbagi menjadi beberapa golongan?
Dahulu manusia pertama yang Allah ciptakan, Adam a.s. dipersatukan oleh Allah dengan Tauhid. Kemudian beberapa masa berlalu hingga terjadi perpecahan umat dan penyimpangan. Kemudian, umat manusia kembali disatukan dalam Ikatan tauhid pada masa Nuh a.s., orang-orang yang membangkang Allah azab dengan air bah yang tak terhenti. Namun sepeninggalnya, manusia kembali terpecah dan menyimpang menjadi banyak golongan dan menaati dzan serta kepentingan masing – masing. Kemudian Allah mengutus Ibrahim a.s. dan kembali menyatukan umat manusia dalam ikatan tauhid. 30 abad berlalu sepeninggal Ibrahim, perpecahan dan penyimpangan kembali menyeruak. Hingga Allah mengutus Rasulullah Muhammad dan menyatukan mereka kembali dalam ikatan Tauhid. Hal ini terus terjadi membentuk sebuah siklus bak rangkaian sejarah yang berulang. Sekaranglah masanya 14 abad sepeninggal Rasulullah Muhammad, umat islam kembali terpecah dan menjadi beberapa golongan. Dan perlu diketahui, bahwa trend golongan merupakan prototype masyarakat musyrikin (Q.S. 30/31-32)
Jika kita kembali kepada Al-Qur’an, Allah menjawab dalam Q.S. Al-Baqarah (2) : 170 ketika manusia diajak untuk bersatu dalam Ketauhidan kepada Allah, maka orang orang tersebut menolaknya, mereka memilih untuk mengikuti apa yang telah mereka dapati dari nenek moyang, orang tua, guru, ustad mereka. Bahayanya modern ini, guru yang satu dan guru yang lainya memberikan ilmu pengetahuan yang berbeda, bahkan tidak jarang saling bertentangan dan bertolak belakang. Hal inilah yang menjadikan islam menjadi berkelompok, disesuaikan dengan apa yang diajarkan oleh guru mereka masing – masing. Perbedaan pandangan tersebut membuat tiap kelompok saling bertentangan, dan tiap kelompok bangga akan apa yang ada dalam kelompok mereka, tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya umat islam bangga akan kelompok mereka, bukan bangga akan keislaman dan ketundukan mereka kepada Allah, ketaatan dalam menjalankan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika kita kritis dan kembali kepada perjalanan perjuangan panjang (Sunnah) Rasul dahulu, bahwa islam merupakan pemersatu manusia dalam ketauhidan dimana sebelumnya manusia terbagi atas golongan-golongan, maka kita akan tersadar, bahwa kita telah keluar dari keislaman itu sendiri. Dan di akhir ayat, Allah pun menjawab dengan tegas, bahwa guru mereka yang telah menjadikan mereka beberapa golongan itu, tidak mengetahui akan kandungan islam yang sebenarnya, mereka berada dalam kemusyrikan dan mereka tidak sedikitpun dalam bimbingan Allah swt. Merekalah yang menurut Imam Al-Ghazali Ulama Assuu’ (Ulama yang membawa pada kesesatan).
Apa yang terjadi di masa kini telah diperkirakan oleh Rasul dalam sabdanya yang mengatakan bahwa sepeninggal Rasul nanti, Islam akan terbagi menjadi 73 golongan. Dari 73 golongan itu, hanya 1 yang diterima oleh Allah, dan sisanya berada dalam kesesatan. Seharusnya hadits ini menjadi shock therapy bagi umat Islam sekarang, Rasul memang memperkirakan bahwa sepeninggalnya Islam akan terbagi menjadi beberapa golongan, namun jangan terbuai dengan golongan tersebut, karena diakhirnya terdapat sebuah pernyataan tegas, bahwa hanya 1 golonganlah yang akan diterima oleh Allah. Dan golongan lainya dalam Q.S. Ar-ruum (30) : 31-32 Allah tetapkan mereka kedalam golongan orang orang musyrik. Tidakkah manusia takut tidak termasuk kedalam golongan yang diterima Allah dan tidak terhindar dari kemusyrikan? Golongan manakah yang akan diterima oleh Allah?
Di dalam Q.S. An-Najm (53) : 23, Allah menegaskan bahwa, seperangkat ilmu yang diajarkan oleh nenek moyang, orang tua, guru, ustad, dan tenaga pendidik lainnya (Q.S. 2:170) hanyalah apa yang mereka ada adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan apapun untuk menaati, mengikuti, terlebih loyal kepadanya (menyembah). Mereka hanya mengikuti dugaan, keinginan dan kepentingan mereka. Padahal sungguh, telah datang pentunjuk dari Allah yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam Q.S. Al-An’am (6) : 153, Allah menjawab, inilah jalan-Ku yang lurus (memperjuangkan Tauhid melalui kepemimpinan Nubuwwah), maka ikutilah! Jangan mengikuti jalan-jalan thagut, jalan jalan syaitan (Q.S. 2:208), yang akan membuatmu tercerai berai/terpecah belah dari kepemimpinan Nubuwwah. Hanya didalam jalan-Nyalah (kepemimpinan Nubuwah, melanjutkan estafet kepemimpinan Tauhid para nabi) manusia akan menjadi manusia yang bertaqwa. Dalam haditsnya, Rasul pun memberikan jawaban atas pertanyaan diatas, yaitu hadits yang menyebutkan bahwa, sepeninggalnya, Rasul mewariskan kepada umat manusia 2 perkara, dimana jika manusia berpegang teguh kepada 2 perkara tersebut, maka mereka akan berada pada keselamatan di dunia maupun akhirat. Disinilah jawabanya, golongan yang amal ibadah dan perjuangan menegakan kalimat tauhidnya diterima oleh Allah hanyalah golongan yang berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah. Yaitu “Menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya pedoman dan sistem kehidupan, serta menjadikan As-Sunnah (Perjalanan panjang perjuangan Rasul dalam merekonstruksi bangunan Al-Qur’an, menegakan kalimat tauhid) sebagai satu satunya yang berhak menafsirkan Al-Qur’an agar dapat teraplikasikan”. Al-Qur’an merupakan wahyu terlengkap dan terakhir sebagai ilmu Allah dalam membimbing dan menyelamatkan manusia, sementara kehidupan rasulullah, yaitu perjuangan panjangnya dalam membangun tauhid di muka bumi (Sunnah Rasul) merupakan pernafsiran Al-Qur’an yang paling baik dan sempurna, serta ilmu dalam menafsirkan ilmu Allah (Al-Qur’an), sehingga kehidupanya menjadi keteladanan dan bimbingan spiritual yang sejati bagi manusia. (Sunnah Rasul merupakan tafsir otoritatif dan Aplikatif Al-Qur’an). # Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dalam bukunya Islam dan Sekularisme, hal 179-180, Cetakan Bahasa Indonesia ke 2, Tahun 2011.
Dalam Q.S. Al-Israa (17) : 36, Allah berfirman kepada manusia, untuk tidak mengikuti, tidak menaati, apa yang tidak diketahuinya. Karena penglihatan dan pendengaran yang merupakan potensi yang Allah berikan kepada manusia untuk mengolah informasi jagad raya dalam mencari kebenaran, kemudian hati dengan kesadaranya untuk meyakini kebenaran sebagai hasil proses kekritisan akal dalam mencari kebenaran tersebut, semua itu akan dimintai pertanggung jawaban. Kemudian di dalam Q.S. Luqman (31) : 15 Allah mengkaitkan ketidak berilmuan tersebut dengan kesyirikan. Alasan mengapa didalam Q.S. 17 : 36 Allah melarang keras manusia mengikuti, mengerjakan, mentaati dan tunduk terhadap apa yang tidak diketahuinya ialah karena begitu besarnya potensi untuk mempersekutukan Allah, yang mungkin tidak disadari oleh para pendidik, baik orang tua, guru, ustad, pemimpin umat, dan sebagainya. Maka dari itu manusia harus berilmu, dengan anugerah akal, hati dan wahyu yang Allah berikan pada manusia, manusia mampu mengolah informasi tersebut dan sampai pada kebenaran, sehingga mampu membedakan tauhid dan kesyirikan. Seperti dalam Q.S. An-Nuur (24) : 51, ketika orang orang yang beriman diseru kepada Allah dan Rasulnya agar Rasul memutuskan perkara, memberikan hukum, dan nilai” unggul sebagai sistem dan konsep kehidupan diantara mereka, maka sikap mereka ialah Sami’na wa Atho’na. Yaitu menggunakan potensi pendengaranya dalam mengolah informasi – informasi sehingga mampu membedakan perintah tersebut merupakan sesuatu yang Al –Haq, atau justru Bathil. Jika Al – Haq, maka sikap orang beriman ialah mentaatinya, namun jika Bathil, maka sikap orang beriman ialah mencari kebenaran. Maka orang inilah yang beruntung dan terbebas dari kesesatan dan kemusyrikan.
Maka, sangatlah penting bagi manusia untuk berilmu, yaitu menggunakan kekritisan akalnya dan segala potensi yang Allah anugrahkan kepada manusia, untuk mencari kebenaran. Dalam Q.S. Muhammad (47) : 19, Allah memerintahkan manusia untuk berilmu (mengetahui) dalam memperjuangkan penegakan kalimat tauhid, “Laa ilaaha illallah”. Ilmu ini pun harus didasarkan pada Qur’an dan Sunnah, sehingga Allah akan memperjalankan manusia dalam perjuangan penegakan tauhid. Didalamnyalah banyak ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada manusia dalam rangka menguji siapa yang benar benar beriman, dan siapa yang berdusta (Q.S. 29:2-3). Ada orang yang hanif, namun ada pula yang tergoda langkah langkah syetan, maka ayat ini dilanjutkan dengan kesadaran betapa lemahnya manusia dalam menghadapi ujian Allah didalam perjuangan menegakkan kalimat tauhid, dengan kesadaran itu mereka memohon ampun kepada Allah. Dan sesungguhnya Allah mengetahui kemantapan pijakan dan ketetapan hatimu, serta mengetahui pergolakan dan bolak baliknya hati.
Jika kesimpulan ini kita kaitkan dengan Q.S. Al-baqarah (2) : 170, maka dalam berislam dan dalam perjuangan menegakan kalimat tauhid, kita harus berilmu, hanya mengacu kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai penafsirnya, sedangkan seperangkat Ilmu yang disampaikan oleh pendidik hanyalah perantara dalam penyampaiannya. Mereka pun bukanlah makhluk yang sempurna, sama seperti manusia umumnya, mereka memiliki akal, hati dan hawa nafsu. Karenanya ada potensi bagi mereka untuk benar, namun ada pula potensi bagi mereka untuk salah bahkan mengajak pada kemusyrikan. Maka kita harus kritis terhadap apa yang disampaikan, dengan menggunakan potensi akal dalam mengolah informasi, apakah yang disampaikanya didasarkan dengan Al-Qur’an dan penafsiranya melalui As-Sunnah atau tidak. Jika sesuai, maka Allah mewajibkan kita untuk mentaatinya, namun jika tidak sesuai, maka Allah melarang keras bagi kita untuk menaatinya. Dengan inilah, potensi penyimpangan dan perpecahan menjadi beberapa golongan dapat tersaring. Dan dengan inilah kita mampu memilah, “manakah golongan yang Allah janjikan untuk diterima Amal ibadah dan perjuanganya dan mana pula golongan golongan yang berada pada kesesatan dan kemusyrikan”.
Maka dapat kita simpulkan bahwa, Islam yang terbagi menjadi kelompok-kelompok, setiap kelompok bangga/fanatik akan golonganya, adanya keengganan untuk bersatu dalam satu kepemimpinan tauhid, bahkan cenderung bertentangan satu sama lain merupakan bukti dari perpecahan umat islam. Hal ini terjadi dikarenakan :
- Umat islam tak lagi tegas akan pedoman hidupnya. Yakni (1) hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai satu satunya pedoman hidup, dan sistim kehidupan, (2) hanya menjadikan sunnah rasul sebagai satu satunya yang memiliki otoritas (berwenang) dalam menafsirkan Al-Qur’an). Sebagian umat islam modern ini dalam mengambil kebijakan mendahulukan posisi ijtihad dibanding Qur’an dengan penafsiran Sunnah. Ketika dihadapkan pada persoalan umat, kemudian dikaji dengan pendekatan Qur’an dan Sunnah, kebanyakan tidak sampai pada kebenaran bahkan beranggapan apa yang dialami rasul dahulu berbeda dengan masa ini. Alasanya karena zamanya berbeda, sekarang sudah modern, sehingga masalah lebih kompleks, banyak yang berubah, semakin majunya kehidupan manusia, sistem, dan teori yang berkembang, infiltrasi konsep barat, dan sebagainya. Maka kita tak bisa lagi berdakwah secara keseluruhan mengikuti bagaimana rasul dahulu berdakwah, sehingga mereka cenderung memformulasikan pemecahan masalah disesuaikan dengan sistem secara global (dunia), artinya berdasarkan persepsi/dugaan mereka.Komarudin hidayat misalnya, dalam memperjuangkan islam dan melihat bagaimana pergerakan perjuangan islam, perjuangan melalui politik tidak kunjung mencapai titik temu, bahkan cenderung membuat konflik baru dan melukai izzah islam. Jika hanya dengan membina, maka islam menyebar dengan begitu lamban dan jauh dari kemenangan islam, dan lain sebagainya. Sehingga ia berpendapat bahwa memperjuangkan daulah islam tidak lagi menjadi prioritas utama, yang penting nilai nilai islam teraplikasikan didalam kehidupan manusia. Padahal jika perjuangan rasulullah hanya untuk memperjuangkan nilai nilai islam (moral, etika, dll.), penulis yakin tidak perlu rasulullah begitu konsisten dalam melawan kaum kafir, musyrik dan musuh-musuh islam hingga mengucurkan darah dan menghabiskan hartanya. Cukup bersatu dengan pemerintahan jahiliyyah Abu Jahal dan menanamkan nilai nilai islam dalam peraturan dan hukum yang berlaku disana. Dalam Q.S. At-Taubah (9) : 33, As-Shaff (61) : 9, dan Al-Fath (48) : 28, Allah pun menjelaskan bahwa tujuan Allah mengutus Rasul-Nya dengan membawa Al-Huda dan Diinul Haq, ialah agar dimenangkanya atas seluruh agama, sistem, dan konsep hidup lainya (tidak bisa disatukan dengan konsep lain/buatan manusia), sehingga terwujud daulah Allah di muka bumi. Disinilah syetan mempengaruhi akal sehat manusia sehingga terhalang dari melihat kebenaran. Padahal dalam Q.S. Al-An’am (6) : 116, Allah menjelaskan bahwa segala konsep, teori, sistem, yang dibuat oleh manusia berdasarkan persepsi/persangkaan/duga-duga hanyalah kebohongan belaka, tidak akan pernah sampai kepada kebenaran sejati dan penyelamatan kehidupan manusia menyeluruh. Dalam Q.S. Yunus (10) : 36 Allah pun menjelaskan bahwa mereka hanya mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan tersebut tak sedikit pun berguna melawan kebenaran. Sedangkan dalam Q.S. Al-Israa (17) : 77 Allah menjelaskan bahwa Sunnah Rasul merupakan ketetapan yang sudah Allah gariskan kepada setiap pengemban misi risalah, dan ketetapan (Sunnah Rasul) tersebut selamanya takkan berubah (berlaku universal dan lintas zaman). Dalam Q.S. Yunus (10) : 32, Allah menjelaskan bahwa hanya Dialah sumber segala kebenaran, maka tidak ada selain kebenaran melainkan kesesatan. Allah telah menunjukan jalan kebenaranya itu melalui Qur’an dan Sunnah, maka segala teori, konsep, sistem yang keluar dari 2 hal tersebut, dapat dipastikan hanya akan membawa pada kesesatan.
- Umat islam tak lagi menggunakan akalnya (kritis) dalam mencari kebenaran, sehingga menjadikan manusianya bertaqlid. Menganggap bahwa apa yang diajarkan oleh para kyai, ustad, dan guru agama lainya sudah pasti benar, dan tidak perlu dibantah lagi, mengkritisinya merupakan hal yang tidak etis dan tidak sopan. Sehingga ketaatan mereka hanya karena ikatan emosional, bukan karena iman (ikatan Tauhid), jika karena iman mereka akan memberontak ketika diajak pada kesalahan, dan untuk mengetahuinya (mana yang benar dan yang salah) harus dengan ilmu, untuk meyakini ilmu, harus dengan akal kritis. Dengan ikatan inilah manusia menjadi merdeka, tidak terjajah oleh ikatan emosional, namun hanya dijajah oleh ikatan iman kepada Allah (Tauhid). Sejatinya jika penyampaian sang ustad berbeda dengan keterangan Qur’an dan Sunnah,maka kita diwajibkan untuk mengkritisinya dan kita dilarang keras untuk taat. Ketaatan kepada makhluk hanya diijinkan dalam kesebangunan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul, jika kita taat kepada makhluk/perintah/ajaran/hukum yang tidak sebangun dengan apa yang dikehendaki Allah dan dicontohkan melalui Rasul-Nya, maka kita telah melakukan penyembahan kepada selain Allah.
Disinilah perbedaan Islam dengan Agama lainya. Pemahaman terhadap islam tidak dogmatis seperti apa yang diajarkan agama lainya. Islam mengajarkan untuk kritis dalam beragama, bahkan manusia harus kritis terhadap Islam itu sendiri. Karena tidak akan ada kesempurnaan Iman tanpa adanya kekokohan keyakinan. Tak kan ada keyakinan yang kokoh, tanpa adanya kedalaman ilmu dan pemahaman. Dan tak akan ada ilmu dan pemahaman yang mendalam, tanpa adanya kekritisan Akal. Namun dalam Q.S. Al-Baqarah (2) : 2, Allah menjanjikan bahwa hanya islamlah agama yang benar, dan tak ada keraguan terhadap kebenaran Islam dan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi orang orang yang bertaqwa. Dan dalam Q.S. Ar-ruum (30) : 30, Allah pun menjawab kekritisan akal manusia, hanya agama islamlah yang memiliki kebenaran sejati yang dibutuhkan semua umat manusia. Karena islam sendiri merupakan fitrah dan hal yang dibutuhkan manusia, sebagaimana fitrah manusia untuk makan, minum, bersosialisasi, dan lainya. Allah menciptakan manusia, maka Allah dengan rahmat dan rahimnya juga menciptakan islam sebagai pedoman hidup manusia, mengantarkan manusia kepada kehidupan keselamatan.
“Kekritisan Akal hanya mampu mengantarkan manusia kepada kebenaran, namun tidak akan pernah sampai pada kebenaran sejati, maka Islam sebagai Informasi dari pencipta manusialah yang akan membawa manusia pada kebenaran sejati. Sejatinya, kekritisan akal, akan selalu mengantarkan manusia kepada Islam.”
Wallahu’alam bishshawab..
oleh A. Al-Hijr
qana'ah
Qana’ah artinya rela dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan. Dalam Tasawuf Modern, Buya Hamka menjelaskan bahwa qana’ah mencakup lima perkara, yaitu (1) menerima dengan rela akan apa yang ada; (2) memohonkan kepada Allah tambahan yang pantas, dan berusaha; (3) menerima dengan sabar akan ketentuan Allah; (4) bertawakal kepada Allah; dan (5) tidak tertarik oleh tipu daya dunia.
Terkait dengan qana’ah, sebuah riwayat dari Abdullah bin Amru menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya beruntung orang yang masuk islam dan rezekinya cukup, dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya.” (H.R Bukhari)
Namun demikian, bersikap qana’ah dalam hidup bukan berarti bermalas-malasan, ongkang-ongkang sambil menunggu datangnya rezeki dari langit. Sama sekali bukan itu! Sebaliknya, orang-orang yang qana’ah adalah mereka penuh semangat kerja, mencari karunia Allah SWT dengan cara-cara halal. Bilamana belum memperoleh pencapaian sebagaimana yang ditargetkn/diharapkan, mereka tetap merasa cukup. Ya, setelah terlaksananya ikhtiar, mereka menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT dan tetap bersyukur.
Dalam hal rezeki dan pembagiannya, orang-orang yang memiliki sifat qana’ah adalah mereka yang memiliki pandangan yang luas. Bagi mereka, rezeki adalah milik Allah Swt dan dia membagikan kepada hamba-hamba-Nya sesuai ketetapan-Nya. Mereka sangat yakin bahwa terkait dengan pembagian rezeki, Allah Swt lebih mengetahui setiap kebutuhan hamba-Nya daripada hamba itu sendiri. Segalanya telah ditentukan ukuran dan jatahnya masing-masing, tidak ada yang pernah tertukar. Allah SWT berfirman, “Tiada sesuatu yang melata di bumi melainkan di tangan Allah rezekinya. ‘’ (Q.S Hud [11]:6)
Berdasarkan pemahaman yang mendalam atas ayat tersebut, orang-orang yang qana’ah menghindarkan diri dari meminta rezeki, selain kepada Allah swt. Sungguh sangat berbalik 180 derajat dengan mereka yang tiada setitik pun memiliki sifat qana’ah di hati mereka. Orang-orang tersebut terakkhir adalah mereka yang gemar pergi ke dukun dan paranormal untuk mencari ‘pelaris” bagi usaha mereka.
Wajarkah ini? Tentu saja tidak! Bahkan, dalam Islam ini dinilai sebagai bentuk praktik syirik. Meskipun tidak wajar dan melanggar syariat Islam, praktik ini marak dan telah menjadi tren (kecenderungan) tersendiri di kalangan dunia usaha. Alas an mendasar yang memunculkan tindakan ini adalah tiadanya rasa puas dengan pembagian rezeki dari Allah swt. Ditambah lagi mulai hilangnya kepercayaan mereka bahwa Allah swt adalah Dzat Pemilik Rezeki dan yang menentukannya. Ingatlah, bukankah Allah swt adalah Yang Mahakaya? Aduhai, mengapa kita tetap menipu diri sendiri dengan menukarkan keimanan kita dengan dunia?
Dalam kehidupan seorang muslim, qana’ah berfungsi sebagai penyeimbang atau peredam dari dorongan nafsu diri akan dunia dengan segala hiasannya. Bersemayamnya sifat qana’ah dalam hati akan memberikan perasaan tentram dan bahagia manakala yang kita dapati adlah sesuatu di luar yang kita harapkan. Hati orang yang qana’ah akan menghibur tuannya, “bersabarlah dan bersyukurlah, Tuan! Di luar sana, masih banyak orang yang keadaannya tidak lebih baik daripada kamu!’’ Bisikan-bisikan lembut menyejukan inilah yang membuat orang yang qana’ah merasakan kedamaian yang tiada terucap dan ketentraman yang tiada batas.
Tahukah kita? Sesungguhnya kedamaian dan ketentraman tiada batas itulah harta kekayaan yang tiada ternilai. Kedua hal ini hanya bisa dirsakan oleh mereka yang memiliki sifat qana’ah. Dengan menggunakan logika “terbalik” kita bisa ajukan sebuah pertanyaan ; untukk apa orang mencari harta? Pasti tentu , jawabannya yang paling banyak muncul adalah agar mereka hidup bahagia! Namun, setelah harta didapat dan dikumpulkan sebanyak-banyaknya, apakah mereka bahagia?
Memang di antara mereka ada yang bahagia tetapi tidak sedikit juga yang malah menderita karena takut kehilangan harta tersebut. Nah, kalau sudah begini, apa makna semua itu? Ternyata harta malah membikin orang tidak bahagia. Lalu, dimanakah sumber kebahagiaan itu? Jawabannya, ada di hati yang selalu merasa cukup (qana’ah).
Orang-orang yang qana’ah tak sedikitpun terbesit dalam hati dan pikiran mereka ketakutan akan kehilangan harta. Sebab, bagi mereka semua itu hanya titipan dari Allah swt. Mereka hanya diberi amanat untuk mendayagunakannya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kita saksikan orang-orang yang qana’ah gemar membelanjakan harta dan rezekinya di jalan Allah swt. Mereka menikmati itu sebagai wujud rasa syukur dan kesenangan hati mereka. Allah swt pun mengajar balasan yang lebih baik dan banyak kepada mereka. Apa yang terjadi? Ya karena kemurahan hati mereka, Allah swt juga berkenan semakin memurahkan rezeki-Nya bagi mereka.
Benarlah kemudian yang disabdakan Rasulullah saw, “Bukanlah kekayaan itu banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.” (H.R. Bukhari Muslim)
Dalam hadist yang lain, beliau juga bersabda, “Qanaa’ah itu adalah simpanan yang tak akan pernah lenyap.” (H.R. Tarmidzi)
Demikianlah, betapa agung dan penting sifat qana’ah itu dalam kehidupan. Ia membebaskan mereka yang mempraktikannya dari perbudakan nafsu rendah manusia akan materi dan mengangkat mereka menuju derajat hamba-hambanya yang bersyukur.
oleh MR
05 September 2013
tauhid dalam ilusi
Iringan dan tautan takbir, tahmid, tahlil dan tasbih yang membelah cakrawala, membahana menajamkan pendengaran dan menggelitik kesadaran qalbu. Selama sesaat, jiwa ini seperti tertarik oleh kekuatan daya magnetis untuk sejenak m engingat para pelaku awal (salafussalihin) yang menggemakan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid tersebut. Ingatan ini terus mengalir menelusuri jejak-jejak perjuangan mereka yang panjang, mendaki lagi terjal syarat cucuran darah dan air mata.
Bagi mereka, untuk merangkul dan
memeluk erat Allah akbar, Allah wahdah
dan Allah ahad, haruslah berhadapan dengan tiran berhalaisme angkuh yang
mewakili syaitan dimuka bumi. Aduhai Engkau
Muhammad SAW., sang
pemimpin pergerakan penyempurna tauhid di planet bumi, Engkau telah menjadi
target operasi intelegen ganas
sistem tiran berhalaisme dari upaya tipu
bujuk rayu, intimidasi, fitnah, boikot, pembantaian sampai dengan target
pembunuhan. Oh… Engkau Yasir RA., cucuran darah syahidmu telah menjadi saksi
bahwa raungan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih itu engkau tegakkan melalui
perjuangan panjang yang melelahkan penuh pengorbanan. Wahai sobat, tidakkah
kematian Alhabib yang tubuhnya tercabik-cabik oleh kebrutalan kafir
quraisy menjadi alat bukti yang cukup
bahwa mengkonstruk bangunan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih akan dihadang,
dimusuhi bahkan akan dibumihanguskan oleh tiran berhalaisme?
Dahulu ketika nabi Muhammad SAW dan para sahabat mengumandangkan takbir,
tahlil, tahmid dan tasbih, suasana itu begitu realistis; sungguh mengharubiru
karena semua kumandang itu dilantunkan bukan saja mereka lepas dari ibadah
shaum tetapi mereka telah bergelut dalam
rentang waktu yang panjang dan dinamika perjuangan yang ekstrim menegangkan
dalam menyampaikan pesan-pesan ilahi. Bersamaan
dengan itu secara senyawa mereka telah berhasil memerdekakan planet bumi yang
mereka pijak dari cengkraman tiran musyrikin
dan dominasi berhalaisme, keberhasilan
balatentara Allah, tentara tauhid meneguhkan Addin dengan tegaknya daulah islamiyyah sebagai
bukti perwujudan tauhid yang melandasi seluruh kehidupan individual sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik dan kenegaraan dapat tegak dengan sempurnanya.
Aduhai… betapa harmonisnya pada saat itu antara suasana jiwa
yang heroik setelah kemenangan Makkah Almukarromah dengan dentuman ritme
takbir, tahlil, tahmid dan tasbih yang menggema menggelitik kecerdasan akal
serta menggetarkan kesadaran qalbu. Suasana indah nan anggun terpapar dalam
kehidupan masyarakat muslim yang tertata dalam kesatuan kepemimpinan tauhid
planet bumi, mereka bagaikan barisan yang teratur, seakan-akan bangunan yang
tersusun kokoh. Sikap mereka terhadap sistem selain Allah yang sudah pasti
korup, lalim dan syirik begitu jelas dan tegas penolakannya. Hubungan yang
terjalin diantara mereka adalah tebaran rahmat, kasih sayang atas dasar ikatan
kemanusiaan sejati, yaitu iman. Mereka ruku' dan sujud digerakan oleh satu
komando sakral, seluruh hubungan kemanusiaan terselenggara atas dasar perintah
Allah dan ketaatan kepada mandataris-Nya dibumi. Inilah sebuah negri yang
mendapat karunia Allah dan ridho-Nya.
Subhanallah
Di balik keanggunan bangunan umat masa lalu sebagaimana terpapar di atas, miris
rasanya ketika kita mencoba telaah, kritis dan mengajukan segudang pertanyaan
tentang bangunan umat islam atau
keorisinilan Addien Al-Islam sebagai agama tauhid itu setelah empat belas abad berlalu. Malu
rasanya melihat realitas umat islam hari ini untuk sekadar membandingkannya
dengan konsep al-Islam yang sempurna
yang telah terbukti dalam peradaban umat manusia empat belas abad silam . Islam
berdasar pada prinsip tauhid, maka dalam
tataran keyakinan berarti menunggalkan loyalitas, ketaatan dan kekuasaan
hanya kepada Allah SWT saja, dan dalam
tataran aksi di bumi,tauhid berarti menunggalkan loyalitas, ketaatan dan
kekuasaan hanya kepada pejabat Allah
di bumi yang legal menurut Allah (kepemimpinan Nubuwwah). Ah… alangkah jauhnya
kenyataan hari ini, tauhid menjadi barang langka, loyalitas diadikan kepada
kelompok penguasa tiran berhalaisme, kaki tangan kapitalis sekuler hanya untuk bisa
bersama-sama menikmati proyek hasil berbagai kejahatan.. Loyalitas dijual kepada
partai-partai pencari kesenangan dunia untuk sekadar menitipkan isi perut,
loyalitas digadaikan kepada organisasi-organisasi yang mengusung arogansi dan
fanatisme kelompok Islam tertentu yang senantiasa dalam sejarahnya tidak bisa
mendewasakan bahkan memecah belah umat islam ke dalam golongan-golongan yang
mudah disulut untuk diadu domba. Ketaatan diberikan kepada penguasa yang tidak
mengusung platform Allah sebagai program langit yang harus diwujudkan di muka bumi (amanah dan
Risalah). Ketaatan telah didedikasikan kepada penguasa yang tidak mendapatkan legalitas Allah
sebagaimana para nabi dan pewarisnya
di masa silam yang wajib dijadikan uswah. Ketaatan telah diobral kepada penguasa
perwakilan syaitan di bumi karena menolak berlakunya kitabullah sebagai
perwujudan perintah dan kehendak Allah
SWT. Kekuasaan telah dirampas oleh tuhan-tuhan palsu (penguasa, tokoh, ketua
adat, dukun, kiai/ajengan, pemilik modal dll) dengan meminta legalitas rakyat
atasnya. Kekuasaan transendental dalam bentuk imanennya telah terbagi di tangan
raja-raja yang mengklaim sebagai titisan para dewa. Pada ahirnya, kekuasaan
berada pada kelompok yang berkolaborasi antara penguasa, pengusaha dan al-ulama as-suu’u la’natullah alaihim.
Kini, loyalitas, ketaatan dan kekuasaan tunggal kepada Allah nyatanya telah tergantikan,
diselewengkan dan bergeser kepada
berbagai macam kepentingan individu, kelompok
atau siapa pun yang merampas selendang ketuhanan.. Jika demikian, maka gaung
takbir, tasbih tahlil dan tahmid hanya raungan macan ompong, omong kosong,
isapan jempol dan nol besar belaka. Betapa menyedihkannya keadaan umat islam
hari ini karena hidup dalam ilusi kebenaran tauhid. Sungguh
celaka penyelenggarakan parade
penyembahan kepada multituhan didukung oleh kekuatan dan kekuasaan formal dan
nonformal sehingga akselerasinya melesat begitu cepat tak terkendali. Inilah
situasi penjukirbalikan tauhid oleh
kemusyrikan. Kapankah tauhid berjaya kembali? (lihat Qur’an, Az-Zukhruf, ayat 28 – 29).
oleh Cakra Kawah Pangrango
28 Agustus 2013
abu ubaidah
Perangi sang Ayah Demi Membela Islam
Keteguhan iman pemilik nama lengkap Amir bin Abdullah bin Jarrah
al-Fihry al-Quraisy ini ditunjukkan ketika Perang Badar. Ia harus rela menghunus
pedangnya bertarung melawan sang ayah, Abdullah bin Jarrah, hingga sang ayah
tewas di tangan putranya sendiri.
Lelaki yang biasa dipanggil Abu Ubaidah ini cekatan bagai singa jantan
untuk urusan Islam. Namun, dibalik semua itu, ia sosok yang wajahnya berseri,
mata bersinar, ramah kepada semua orang, sehingga banyak yang simpati kepadanya.
Selain lemah lembut, dia juga sangat tawadhu dan pemalu.
Suatu hari, Abdullah bin Umar pernah berkata tentang orang-orang yang
mulia dari Quraisy. “Ada tiga orang Quraisy yang sangat cemerlang wajahnya,
tinggi akhlaknya dan sangat pemalu. Bila berbicara mereka tidak pernah dusta.
Dan apabila orang berbicara, mereka tidak cepat-cepat mendustakan. Mereka itu
adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.”
Abu Ubaidah salah seorang sahabat yang lebih dulu masuk Islam. Waktu menemui
Rasulullah SAW, dia bersama dengan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un dan
Arqam bin Abi Arqam untuk mengucapkan syahadat di hadapan beliau.
Ia juga sahabat yang mengalami masa penindasan yang kejam dari kaum
Quraisy di Mekkah sejak permulaan sampai akhir. Walau demikian, ia tetap teguh
menerima segala macam cobaan dan tetap setia membela Rasulullah SAW dalam
segala situasi dan kondisi.
Pada perang Badar, Abu Ubaidah merasakan lawan yang tangguh, yang
ternyata itu adalah ayah kandungnya sendiri. Dengan pedang terhunus, ia
membunuh kekafiran yang bersarang dalam hati sang ayah.
Berkenaan dengan peristiwa Abu Ubaidah ini, Allah SWT berfirman: “Kamu
tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling
berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,
sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara,
ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan
keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang
daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir dibawahnya
sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan
merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan
Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang
beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 23)
Itulah Abu Ubaidah, yang menyerahkan hidup sepenuhnya untuk Islam.
Peristiwa itu membuat kokoh iman Abu Ubaidah. Orang yang mendapatkan gelar Amin
Al-Ummah (Kepercayaan umat Muhammad) ini ternyata menarik perhatian
orang-orang besar. Diantaranya ketika datang utusan kaum Nasrani menghadap
Rasulullah seraya berkata, “Wahai Abu Qasim, kirimlah kepada kami seorang
sahabat yang pintar menjadi hakim tentang harta yang menyebabkan kami
berselisih sesama kami. Kami senang menerima putusan yang ditetapkan kaum
Muslimin.”
Selesai shalat, Rasulullah menengok ke kanan dan ke kiri. Ketika melihat
Abu Ubaidah, beliau memanggilnya dan berkata, “Pergilah kau bersama mereka.
Adili dengan baik perkara yang mereka perselisihkan!” Abu Ubaidah berangkat
bersama para utusan tersebut dengan menyandang gelar “orang kuat yang
terpercaya”.
Dalam musyawarah pemilihan khalifah yang pertama, Umar bin al-Khatab
sempat hendak membai’atnya. Namun sebagai orang yang mengerti dan tahu diri,
maka ia menjawab, “Aku tidak mau mendahului orang yang pernah disuruh
Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup (Abu Bakar).
Walaupun sekarang beliau telah wafat, marilah kita angkat dia menjadi imam
juga.” Akhirnya mereka sepakat untuk memilih Abu Bakar menjadi khalifah
pertama, sedangkan Abu Ubaidah diangkat menjadi penasihat dan pembantu utama
khalifah.
Setelah Abu Bakar wafat, jabatan khalifah beralih ke Umar bin al-Khatab.
Kendati demikian, Abu Ubaidah tetap dekat dan patuh pada Umar. Pada masa
pemerintahan Umar, Abu Ubaidah memimpin tentara Muslimin menaklukan wilayah
Syam. Dia berhasil memperoleh kemenangan berturut-turut, sehingga seluruh
wilayah Syam takluk dibawah kekuasaan Islam.
Abu Ubaidah meninggal dunia karena terkena penyakit menular yang mewabah
di Syam. Menjelang wafatnya, ia berwasiat kepada seluruh prajuritnya, “Aku
berwasiat kepada kalian, jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, klian
tidak akan sesat dari jalan yang baik dan senantiasa dalam keadaan bahagia.
Tetaplah kalian menegakkan shalat, bepuasa Ramadhan, membayar zakat, dan
menunaikan haji dan umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama kalian,
menasihati pemerintah kalian, dan jangan biarkan mereka tersesat. Dan janganlah
kalian tergoda oleh dunia. Walaupun seseorang berusia panjang hingga seribu
tahun, dia pasti akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini.”
Kemudian dia menoleh kepada Mu’adz bin Jabal, “Wahai Mu’adz, sekarang
kau yang menjadi imam (pemimpin)!” Tak lama kemudian, ruhnya meninggalkan jasad
untuk menjumpai Tuhannya.
Langganan:
Postingan (Atom)


