03 November 2013

islam agama akal




14 abad yang lalu, Muhammad bin Abdullah diangkat oleh Allah menjadi Rasul. Mengemban misi risalah menegakan kalimat tauhid di muka bumi, mengawal turun dan terlaksananya Al-Qur’an sebagai wujud daulah Allah di muka bumi. Muhammad merupakan bagian dari Kaum Quraisy, yaitu bani Hasyim. Merupakan hal yang alami jika manusia membentuk golongan, didasarkan pada ras, daerah, genetik, keluarga, dan kesamaan lainnya, sebagaimana yang terjadi di zaman nabi Muhammad. Manusia terbagi menjadi beberapa kabilah/kelompok. 

Tiap kelompok fanatik dan bangga akan kelompoknya masing-masing. Dengan nilai moral, norma dan kepentingan yang dimiliki, tiap kabilah saling memperjuangkan kepentinganya, hingga tidak jarang terjadi benturan kepentingan yang menghasilkan permusuhan dan peperangan. Dalam Q.S. 3 : 103, Allah merekam jejak perjuangan Rasul yang berhasil menyatukan umat manusia. Manusia yang terbagi dalam berbagai kelompok dan tiap kelompok saling memperjuangkan kepentinganya masing-masing disatukan oleh ikatan Tauhid. Rasul atas bimbingan Allah menyelamatkan mereka yang tadinya berada di jurang “neraka”, menuju jalan keselamatan. Dengan ikatan Tauhid, Rasul membangun peradaban madani sebagai wujud daulah Allah di muka bumi, dan bukti surga dunia yang Allah janjikan.

Kini masa itu telah berlalu, Bangunan kesatuan umat yang dahulu Rasul tegakkan, kini hancur berantakan. Umat islam kembali menjadi berbagai macam golongan, ada NU, Muhammadiyah, Ikhwanul Muslimin, Hisbut Tahrir, FPI, syiah, murdji’ah, mu’tadzilah,dan banyak lainya.tiap golongan bangga dan fanatik atas golonganya. Tak jarang mereka saling berdebat dalam menjalankan Al-Qur’an, namun tak pernah mencapai kesepakatan, tiap golongan mempertahankan pendapat dan kepentinganya masing masing. Maka dimanakah kesatuan kepemimpinan umat Islam masa kini? Apakah mereka tak sadar urgensi kesatuan islam dalam menghadapi tantangan kebiadaban dunia? Kenapa mereka begitu kokoh dalam mempertahankan argumen dan kepentingan masing-masing? Apa sebenarnya yang menjadikan manusia terbagi menjadi beberapa golongan?

Dahulu manusia pertama yang Allah ciptakan, Adam a.s. dipersatukan oleh Allah dengan Tauhid. Kemudian beberapa masa berlalu hingga terjadi perpecahan umat dan penyimpangan. Kemudian, umat manusia kembali disatukan dalam Ikatan tauhid pada masa Nuh a.s., orang-orang yang membangkang Allah azab dengan air bah yang tak terhenti. Namun sepeninggalnya, manusia kembali terpecah dan menyimpang menjadi banyak golongan dan menaati dzan serta kepentingan masing – masing. Kemudian Allah mengutus Ibrahim a.s. dan kembali menyatukan umat manusia dalam ikatan tauhid. 30 abad berlalu sepeninggal Ibrahim, perpecahan dan penyimpangan kembali menyeruak. Hingga Allah mengutus Rasulullah Muhammad dan menyatukan mereka kembali dalam ikatan Tauhid. Hal ini terus terjadi membentuk sebuah siklus bak rangkaian sejarah yang berulang. Sekaranglah masanya 14 abad sepeninggal Rasulullah Muhammad, umat islam kembali terpecah dan menjadi beberapa golongan. Dan perlu diketahui, bahwa trend golongan merupakan prototype masyarakat musyrikin (Q.S. 30/31-32)

Jika kita kembali kepada Al-Qur’an, Allah menjawab dalam Q.S. Al-Baqarah (2) : 170 ketika manusia diajak untuk bersatu dalam Ketauhidan kepada Allah, maka orang orang tersebut menolaknya, mereka memilih untuk mengikuti apa yang telah mereka dapati dari nenek moyang, orang tua, guru, ustad mereka. Bahayanya modern ini, guru yang satu dan guru yang lainya memberikan ilmu pengetahuan yang berbeda, bahkan tidak jarang saling bertentangan dan bertolak belakang. Hal inilah yang menjadikan islam menjadi berkelompok, disesuaikan dengan apa yang diajarkan oleh guru mereka masing – masing. Perbedaan pandangan tersebut membuat tiap kelompok saling bertentangan, dan tiap kelompok bangga akan apa yang ada dalam kelompok mereka, tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya umat islam bangga akan kelompok mereka, bukan bangga akan keislaman dan ketundukan mereka kepada Allah, ketaatan dalam menjalankan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika kita kritis dan kembali kepada perjalanan perjuangan panjang (Sunnah) Rasul dahulu, bahwa islam merupakan pemersatu manusia dalam ketauhidan dimana sebelumnya manusia terbagi atas golongan-golongan, maka kita akan tersadar, bahwa kita telah keluar dari keislaman itu sendiri. Dan di akhir ayat, Allah pun menjawab dengan tegas, bahwa guru mereka yang telah menjadikan mereka beberapa golongan itu, tidak mengetahui akan kandungan islam yang sebenarnya, mereka berada dalam kemusyrikan dan mereka tidak sedikitpun dalam bimbingan Allah swt. Merekalah yang menurut Imam Al-Ghazali Ulama Assuu’ (Ulama yang membawa pada kesesatan).

Apa yang terjadi di masa kini telah diperkirakan oleh Rasul dalam sabdanya yang mengatakan bahwa sepeninggal Rasul nanti, Islam akan terbagi menjadi 73 golongan. Dari 73 golongan itu, hanya 1 yang diterima oleh Allah, dan sisanya berada dalam kesesatan. Seharusnya hadits ini menjadi shock therapy bagi umat Islam sekarang, Rasul memang memperkirakan bahwa sepeninggalnya Islam akan terbagi menjadi beberapa golongan, namun jangan terbuai dengan golongan tersebut, karena diakhirnya terdapat sebuah pernyataan tegas, bahwa hanya 1 golonganlah yang akan diterima oleh Allah. Dan golongan lainya dalam Q.S. Ar-ruum (30) : 31-32 Allah tetapkan mereka kedalam golongan orang orang musyrik. Tidakkah manusia takut tidak termasuk kedalam golongan yang diterima Allah dan tidak terhindar dari kemusyrikan? Golongan manakah yang akan diterima oleh Allah?

Di dalam Q.S. An-Najm (53) : 23, Allah menegaskan bahwa, seperangkat ilmu yang diajarkan oleh nenek moyang, orang tua, guru, ustad, dan tenaga pendidik lainnya (Q.S. 2:170) hanyalah apa yang mereka ada adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan apapun untuk menaati, mengikuti, terlebih loyal kepadanya (menyembah). Mereka hanya mengikuti dugaan, keinginan dan kepentingan mereka. Padahal sungguh, telah datang pentunjuk dari Allah yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam Q.S. Al-An’am (6) : 153, Allah menjawab, inilah jalan-Ku yang lurus (memperjuangkan Tauhid melalui kepemimpinan Nubuwwah), maka ikutilah! Jangan mengikuti jalan-jalan thagut, jalan jalan syaitan (Q.S. 2:208), yang akan membuatmu tercerai berai/terpecah belah dari kepemimpinan Nubuwwah. Hanya didalam jalan-Nyalah (kepemimpinan Nubuwah, melanjutkan estafet kepemimpinan Tauhid para nabi) manusia akan menjadi manusia yang bertaqwa. Dalam haditsnya, Rasul pun memberikan jawaban atas pertanyaan diatas, yaitu hadits yang menyebutkan bahwa, sepeninggalnya, Rasul mewariskan kepada umat manusia 2 perkara, dimana jika manusia berpegang teguh kepada 2 perkara tersebut, maka mereka akan berada pada keselamatan di dunia maupun akhirat. Disinilah jawabanya, golongan yang amal ibadah dan perjuangan menegakan kalimat tauhidnya diterima oleh Allah hanyalah golongan yang berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah. Yaitu “Menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya pedoman dan sistem kehidupan, serta menjadikan As-Sunnah (Perjalanan panjang perjuangan Rasul dalam merekonstruksi bangunan Al-Qur’an, menegakan kalimat tauhid) sebagai satu satunya yang berhak menafsirkan Al-Qur’an agar dapat teraplikasikan”. Al-Qur’an merupakan wahyu terlengkap dan terakhir sebagai ilmu Allah dalam membimbing dan menyelamatkan manusia, sementara kehidupan rasulullah, yaitu perjuangan panjangnya dalam membangun tauhid di muka bumi (Sunnah Rasul) merupakan pernafsiran Al-Qur’an yang paling baik dan sempurna, serta ilmu dalam menafsirkan ilmu Allah (Al-Qur’an), sehingga kehidupanya menjadi keteladanan dan bimbingan spiritual yang sejati bagi manusia. (Sunnah Rasul merupakan tafsir otoritatif dan Aplikatif Al-Qur’an). # Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dalam bukunya Islam dan Sekularisme, hal 179-180, Cetakan  Bahasa Indonesia ke 2, Tahun 2011.

Dalam Q.S. Al-Israa (17) : 36, Allah berfirman kepada manusia, untuk tidak mengikuti, tidak menaati, apa yang tidak diketahuinya. Karena penglihatan dan pendengaran yang merupakan potensi yang Allah berikan kepada manusia untuk mengolah informasi jagad raya dalam mencari kebenaran, kemudian hati dengan kesadaranya untuk meyakini kebenaran sebagai hasil proses kekritisan akal dalam mencari kebenaran tersebut, semua itu akan dimintai pertanggung jawaban. Kemudian di dalam Q.S. Luqman (31) : 15 Allah mengkaitkan ketidak berilmuan tersebut dengan kesyirikan. Alasan mengapa didalam Q.S. 17 : 36 Allah melarang keras manusia mengikuti, mengerjakan, mentaati dan tunduk terhadap apa yang tidak diketahuinya ialah karena begitu besarnya potensi untuk mempersekutukan Allah, yang mungkin tidak disadari oleh para pendidik, baik orang tua, guru, ustad, pemimpin umat, dan sebagainya. Maka dari itu manusia harus berilmu, dengan anugerah akal, hati dan wahyu yang Allah berikan pada manusia, manusia mampu mengolah informasi tersebut dan sampai pada kebenaran, sehingga mampu membedakan tauhid dan kesyirikan. Seperti dalam Q.S. An-Nuur (24) : 51, ketika orang orang yang beriman diseru kepada Allah dan Rasulnya agar Rasul memutuskan perkara, memberikan hukum, dan nilai” unggul sebagai sistem dan konsep kehidupan diantara mereka, maka sikap mereka ialah Sami’na wa Atho’na. Yaitu menggunakan potensi pendengaranya dalam mengolah informasi – informasi sehingga mampu membedakan perintah tersebut merupakan sesuatu yang Al –Haq, atau justru Bathil. Jika Al – Haq, maka sikap orang beriman ialah mentaatinya, namun jika Bathil, maka sikap orang beriman ialah mencari kebenaran. Maka orang inilah yang beruntung dan terbebas dari kesesatan dan kemusyrikan.

Maka, sangatlah penting bagi manusia untuk berilmu, yaitu menggunakan kekritisan akalnya dan segala potensi yang Allah anugrahkan kepada manusia, untuk mencari kebenaran. Dalam Q.S. Muhammad (47) : 19, Allah memerintahkan manusia untuk berilmu (mengetahui) dalam memperjuangkan penegakan kalimat tauhid, “Laa ilaaha illallah”. Ilmu ini pun harus didasarkan pada Qur’an dan Sunnah, sehingga Allah akan memperjalankan manusia dalam perjuangan penegakan tauhid. Didalamnyalah banyak ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada manusia dalam rangka menguji siapa yang benar benar beriman, dan siapa yang berdusta (Q.S. 29:2-3). Ada orang yang hanif, namun ada pula yang tergoda langkah langkah syetan, maka ayat ini dilanjutkan dengan kesadaran betapa lemahnya manusia dalam menghadapi ujian Allah didalam perjuangan menegakkan kalimat tauhid, dengan kesadaran itu mereka memohon ampun kepada Allah. Dan sesungguhnya Allah mengetahui kemantapan pijakan dan ketetapan hatimu, serta mengetahui pergolakan dan bolak baliknya hati.

Jika kesimpulan ini kita kaitkan dengan Q.S. Al-baqarah (2) : 170, maka dalam berislam dan dalam perjuangan menegakan kalimat tauhid, kita harus berilmu, hanya mengacu kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai penafsirnya, sedangkan seperangkat Ilmu yang disampaikan oleh pendidik hanyalah perantara dalam penyampaiannya. Mereka pun bukanlah makhluk yang sempurna, sama seperti manusia umumnya, mereka memiliki akal, hati dan hawa nafsu. Karenanya ada potensi bagi mereka untuk benar, namun ada pula potensi bagi mereka untuk salah bahkan mengajak pada kemusyrikan. Maka kita harus kritis terhadap apa yang disampaikan, dengan menggunakan potensi akal dalam mengolah informasi, apakah yang disampaikanya didasarkan dengan Al-Qur’an dan penafsiranya melalui As-Sunnah atau tidak. Jika sesuai, maka Allah mewajibkan kita untuk mentaatinya, namun jika tidak sesuai, maka Allah melarang keras bagi kita untuk menaatinya. Dengan inilah, potensi penyimpangan dan perpecahan menjadi beberapa golongan dapat tersaring. Dan dengan inilah kita mampu memilah, “manakah golongan yang Allah janjikan untuk diterima Amal ibadah dan perjuanganya dan mana pula golongan golongan yang berada pada kesesatan dan kemusyrikan”.

Maka dapat kita simpulkan bahwa, Islam yang terbagi menjadi kelompok-kelompok, setiap kelompok bangga/fanatik akan golonganya, adanya keengganan untuk bersatu dalam satu kepemimpinan tauhid, bahkan cenderung bertentangan satu sama lain merupakan bukti dari perpecahan umat islam. Hal ini terjadi dikarenakan :


  • Umat islam tak lagi tegas akan pedoman hidupnya. Yakni (1) hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai satu satunya pedoman hidup, dan sistim kehidupan, (2) hanya menjadikan sunnah rasul sebagai satu satunya yang memiliki otoritas (berwenang) dalam menafsirkan Al-Qur’an). Sebagian umat islam modern ini dalam mengambil kebijakan mendahulukan posisi ijtihad dibanding Qur’an dengan penafsiran Sunnah. Ketika dihadapkan pada persoalan umat, kemudian dikaji dengan pendekatan Qur’an dan Sunnah, kebanyakan tidak sampai pada kebenaran bahkan beranggapan apa yang dialami rasul dahulu berbeda dengan masa ini. Alasanya karena zamanya berbeda, sekarang sudah modern, sehingga masalah lebih kompleks, banyak yang berubah, semakin majunya kehidupan manusia, sistem, dan teori yang berkembang, infiltrasi konsep barat, dan sebagainya. Maka kita tak bisa lagi berdakwah secara keseluruhan mengikuti bagaimana rasul dahulu berdakwah, sehingga mereka cenderung memformulasikan pemecahan masalah disesuaikan dengan sistem secara global (dunia), artinya berdasarkan persepsi/dugaan mereka.Komarudin hidayat misalnya, dalam memperjuangkan islam dan melihat bagaimana pergerakan perjuangan islam, perjuangan melalui politik tidak kunjung mencapai titik temu, bahkan cenderung membuat konflik baru dan melukai izzah islam. Jika hanya dengan membina, maka islam menyebar dengan begitu lamban dan jauh dari kemenangan islam, dan lain sebagainya. Sehingga ia berpendapat bahwa memperjuangkan daulah islam tidak lagi menjadi prioritas utama, yang penting nilai nilai islam teraplikasikan didalam kehidupan manusia. Padahal jika perjuangan rasulullah hanya untuk memperjuangkan nilai nilai islam (moral, etika, dll.), penulis yakin tidak perlu rasulullah begitu konsisten dalam melawan kaum kafir, musyrik dan musuh-musuh islam hingga mengucurkan darah dan menghabiskan hartanya. Cukup bersatu dengan pemerintahan jahiliyyah Abu Jahal dan menanamkan nilai nilai islam dalam peraturan dan hukum yang berlaku disana. Dalam Q.S. At-Taubah (9) : 33, As-Shaff (61) : 9, dan Al-Fath (48) : 28, Allah pun menjelaskan bahwa tujuan Allah mengutus Rasul-Nya dengan membawa Al-Huda dan Diinul Haq, ialah agar dimenangkanya atas seluruh agama, sistem, dan konsep hidup lainya (tidak bisa disatukan dengan konsep lain/buatan manusia), sehingga terwujud daulah Allah di muka bumi. Disinilah syetan mempengaruhi akal sehat manusia sehingga terhalang dari melihat kebenaran. Padahal dalam Q.S. Al-An’am (6) : 116, Allah menjelaskan bahwa segala konsep, teori, sistem, yang dibuat oleh manusia berdasarkan persepsi/persangkaan/duga-duga hanyalah kebohongan belaka, tidak akan pernah sampai kepada kebenaran sejati dan penyelamatan kehidupan manusia menyeluruh. Dalam Q.S. Yunus (10) : 36 Allah pun menjelaskan bahwa mereka hanya mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan tersebut tak sedikit pun berguna melawan kebenaran. Sedangkan dalam Q.S. Al-Israa (17) : 77 Allah menjelaskan bahwa Sunnah Rasul merupakan ketetapan yang sudah Allah gariskan kepada setiap pengemban misi risalah, dan ketetapan (Sunnah Rasul) tersebut selamanya takkan berubah (berlaku universal dan lintas zaman). Dalam Q.S. Yunus (10) : 32, Allah menjelaskan bahwa hanya Dialah sumber segala kebenaran, maka tidak ada selain kebenaran melainkan kesesatan. Allah telah menunjukan jalan kebenaranya itu melalui Qur’an dan Sunnah, maka segala teori, konsep, sistem yang keluar dari 2 hal tersebut, dapat dipastikan hanya akan membawa pada kesesatan.
  •  Umat islam tak lagi menggunakan akalnya (kritis) dalam mencari kebenaran, sehingga menjadikan manusianya bertaqlid. Menganggap bahwa apa yang diajarkan oleh para kyai, ustad, dan guru agama lainya sudah pasti benar, dan tidak perlu dibantah lagi, mengkritisinya merupakan hal yang tidak etis dan tidak sopan. Sehingga ketaatan mereka hanya karena ikatan emosional, bukan karena iman (ikatan Tauhid), jika karena iman mereka akan memberontak ketika diajak pada kesalahan, dan untuk mengetahuinya (mana yang benar dan yang salah) harus dengan ilmu, untuk meyakini ilmu, harus dengan akal kritis. Dengan ikatan inilah manusia menjadi merdeka, tidak terjajah oleh ikatan emosional, namun hanya dijajah oleh ikatan iman kepada Allah (Tauhid). Sejatinya jika penyampaian sang ustad berbeda dengan keterangan Qur’an dan Sunnah,maka kita diwajibkan untuk mengkritisinya dan kita dilarang keras untuk taat. Ketaatan kepada makhluk hanya diijinkan dalam kesebangunan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul, jika kita taat kepada makhluk/perintah/ajaran/hukum yang tidak sebangun dengan apa yang dikehendaki Allah dan dicontohkan melalui Rasul-Nya, maka kita telah melakukan penyembahan kepada selain Allah. 

Disinilah perbedaan Islam dengan Agama lainya. Pemahaman terhadap islam tidak dogmatis seperti apa yang diajarkan agama lainya. Islam mengajarkan untuk kritis dalam beragama, bahkan manusia harus kritis terhadap Islam itu sendiri. Karena tidak akan ada kesempurnaan Iman tanpa adanya kekokohan keyakinan. Tak kan ada keyakinan yang kokoh, tanpa adanya kedalaman ilmu dan pemahaman. Dan tak akan ada ilmu dan pemahaman yang mendalam, tanpa adanya kekritisan Akal. Namun dalam Q.S. Al-Baqarah (2) : 2, Allah menjanjikan bahwa hanya islamlah agama yang benar, dan tak ada keraguan terhadap kebenaran Islam dan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi orang orang yang bertaqwa. Dan dalam Q.S. Ar-ruum (30) : 30, Allah pun menjawab kekritisan akal manusia, hanya agama islamlah yang memiliki kebenaran sejati yang dibutuhkan semua umat manusia. Karena islam sendiri merupakan fitrah dan hal yang dibutuhkan manusia, sebagaimana fitrah manusia untuk makan, minum, bersosialisasi, dan lainya. Allah menciptakan manusia, maka Allah dengan rahmat dan rahimnya juga menciptakan islam sebagai pedoman hidup manusia, mengantarkan manusia kepada kehidupan keselamatan.

“Kekritisan Akal hanya mampu mengantarkan manusia kepada kebenaran, namun tidak akan pernah sampai pada kebenaran sejati, maka Islam sebagai Informasi dari pencipta manusialah yang akan membawa manusia pada kebenaran sejati. Sejatinya, kekritisan akal, akan selalu mengantarkan manusia kepada Islam.”

Wallahu’alam bishshawab..
oleh A. Al-Hijr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar