05 September 2013

tauhid dalam ilusi


Iringan dan tautan takbir, tahmid, tahlil dan tasbih yang membelah cakrawala, membahana menajamkan pendengaran dan menggelitik kesadaran qalbu. Selama sesaat, jiwa ini seperti  tertarik oleh kekuatan daya magnetis  untuk sejenak m engingat  para pelaku awal (salafussalihin) yang menggemakan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid tersebut. Ingatan ini terus mengalir menelusuri  jejak-jejak perjuangan mereka yang panjang, mendaki lagi terjal syarat cucuran darah dan air mata.

Bagi mereka, untuk merangkul dan memeluk erat  Allah akbar, Allah wahdah dan Allah ahad, haruslah berhadapan dengan tiran berhalaisme angkuh yang mewakili syaitan dimuka bumi. Aduhai Engkau
Muhammad SAW., sang pemimpin pergerakan penyempurna tauhid di planet bumi, Engkau telah menjadi target operasi  intelegen ganas sistem  tiran berhalaisme dari upaya tipu bujuk rayu, intimidasi, fitnah, boikot, pembantaian sampai dengan target pembunuhan. Oh… Engkau Yasir RA., cucuran darah syahidmu telah menjadi saksi bahwa raungan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih itu engkau tegakkan melalui perjuangan panjang yang melelahkan penuh pengorbanan. Wahai sobat, tidakkah kematian Alhabib yang tubuhnya tercabik-cabik oleh kebrutalan kafir quraisy  menjadi alat bukti yang cukup bahwa mengkonstruk bangunan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih akan dihadang, dimusuhi bahkan akan dibumihanguskan oleh tiran berhalaisme?

Dahulu ketika nabi Muhammad SAW  dan para sahabat mengumandangkan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih, suasana itu begitu realistis; sungguh mengharubiru karena semua kumandang itu dilantunkan bukan saja mereka lepas dari ibadah shaum  tetapi mereka telah bergelut dalam rentang waktu yang panjang dan dinamika perjuangan yang ekstrim menegangkan dalam menyampaikan pesan-pesan ilahi.  Bersamaan dengan itu secara senyawa mereka telah berhasil memerdekakan planet bumi yang mereka pijak dari  cengkraman tiran musyrikin dan dominasi berhalaisme,  keberhasilan balatentara Allah, tentara tauhid meneguhkan Addin dengan tegaknya daulah islamiyyah sebagai bukti perwujudan tauhid yang melandasi seluruh kehidupan individual sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik dan kenegaraan dapat tegak dengan sempurnanya.

Aduhai… betapa harmonisnya pada saat itu antara suasana jiwa yang heroik setelah kemenangan Makkah Almukarromah  dengan dentuman ritme takbir, tahlil, tahmid dan tasbih yang menggema menggelitik kecerdasan akal serta menggetarkan kesadaran qalbu. Suasana indah nan anggun terpapar dalam kehidupan masyarakat muslim yang tertata dalam kesatuan kepemimpinan tauhid planet bumi, mereka bagaikan barisan yang teratur, seakan-akan bangunan yang tersusun kokoh. Sikap mereka terhadap sistem selain Allah yang sudah pasti korup, lalim dan syirik begitu jelas dan tegas penolakannya. Hubungan yang terjalin diantara mereka adalah tebaran rahmat, kasih sayang atas dasar ikatan kemanusiaan sejati, yaitu iman. Mereka ruku' dan sujud digerakan oleh satu komando sakral, seluruh hubungan kemanusiaan terselenggara atas dasar perintah Allah dan ketaatan kepada mandataris-Nya dibumi. Inilah sebuah negri yang mendapat karunia Allah dan ridho-Nya.  Subhanallah 

Di balik keanggunan bangunan umat  masa lalu sebagaimana terpapar di atas, miris rasanya ketika kita mencoba telaah, kritis dan mengajukan segudang pertanyaan tentang bangunan umat islam atau keorisinilan Addien Al-Islam sebagai agama tauhid  itu setelah empat belas abad berlalu. Malu rasanya melihat realitas umat islam hari ini untuk sekadar membandingkannya dengan  konsep al-Islam yang sempurna yang telah terbukti dalam peradaban umat manusia empat belas abad silam . Islam berdasar pada prinsip tauhid, maka dalam tataran keyakinan berarti menunggalkan loyalitas, ketaatan dan kekuasaan hanya kepada Allah SWT saja,  dan dalam tataran aksi di bumi,tauhid berarti menunggalkan loyalitas, ketaatan dan kekuasaan hanya  kepada pejabat Allah di bumi yang legal menurut Allah (kepemimpinan Nubuwwah). Ah… alangkah jauhnya kenyataan hari ini, tauhid menjadi barang langka, loyalitas diadikan kepada kelompok penguasa tiran berhalaisme, kaki tangan kapitalis sekuler hanya untuk bisa bersama-sama menikmati proyek hasil berbagai kejahatan.. Loyalitas dijual kepada partai-partai pencari kesenangan dunia untuk sekadar menitipkan isi perut, loyalitas digadaikan kepada organisasi-organisasi yang mengusung arogansi dan fanatisme kelompok Islam tertentu yang senantiasa dalam sejarahnya tidak bisa mendewasakan bahkan memecah belah umat islam ke dalam golongan-golongan yang mudah disulut untuk diadu domba. Ketaatan diberikan kepada penguasa yang tidak mengusung  platform Allah sebagai program langit yang harus diwujudkan di muka bumi (amanah dan Risalah). Ketaatan telah didedikasikan kepada penguasa  yang tidak mendapatkan legalitas Allah sebagaimana para nabi dan  pewarisnya di masa silam yang wajib dijadikan uswah. Ketaatan telah diobral kepada penguasa perwakilan syaitan di bumi karena menolak berlakunya kitabullah sebagai perwujudan  perintah dan kehendak Allah SWT. Kekuasaan telah dirampas oleh tuhan-tuhan palsu (penguasa, tokoh, ketua adat, dukun, kiai/ajengan, pemilik modal dll) dengan meminta legalitas rakyat atasnya. Kekuasaan transendental dalam bentuk imanennya telah terbagi di tangan raja-raja yang mengklaim sebagai titisan para dewa. Pada ahirnya, kekuasaan berada pada kelompok yang berkolaborasi antara penguasa, pengusaha dan  al-ulama as-suu’u la’natullah alaihim.

Kini, loyalitas, ketaatan dan kekuasaan tunggal  kepada Allah nyatanya telah tergantikan, diselewengkan dan bergeser  kepada berbagai macam kepentingan individu,  kelompok atau siapa pun yang merampas selendang ketuhanan.. Jika demikian, maka gaung takbir, tasbih tahlil dan tahmid hanya raungan macan ompong, omong kosong, isapan jempol dan nol besar belaka. Betapa menyedihkannya keadaan umat islam hari ini karena hidup dalam ilusi kebenaran tauhid. Sungguh  celaka penyelenggarakan parade penyembahan kepada multituhan didukung oleh kekuatan dan kekuasaan formal dan nonformal sehingga akselerasinya melesat begitu cepat tak terkendali. Inilah situasi penjukirbalikan tauhid oleh  kemusyrikan. Kapankah tauhid berjaya kembali?  (lihat Qur’an, Az-Zukhruf, ayat 28 – 29).

oleh Cakra Kawah Pangrango

Tidak ada komentar:

Posting Komentar