Iringan dan tautan takbir, tahmid, tahlil dan tasbih yang membelah cakrawala, membahana menajamkan pendengaran dan menggelitik kesadaran qalbu. Selama sesaat, jiwa ini seperti tertarik oleh kekuatan daya magnetis untuk sejenak m engingat para pelaku awal (salafussalihin) yang menggemakan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid tersebut. Ingatan ini terus mengalir menelusuri jejak-jejak perjuangan mereka yang panjang, mendaki lagi terjal syarat cucuran darah dan air mata.
Bagi mereka, untuk merangkul dan
memeluk erat Allah akbar, Allah wahdah
dan Allah ahad, haruslah berhadapan dengan tiran berhalaisme angkuh yang
mewakili syaitan dimuka bumi. Aduhai Engkau
Muhammad SAW., sang
pemimpin pergerakan penyempurna tauhid di planet bumi, Engkau telah menjadi
target operasi intelegen ganas
sistem tiran berhalaisme dari upaya tipu
bujuk rayu, intimidasi, fitnah, boikot, pembantaian sampai dengan target
pembunuhan. Oh… Engkau Yasir RA., cucuran darah syahidmu telah menjadi saksi
bahwa raungan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih itu engkau tegakkan melalui
perjuangan panjang yang melelahkan penuh pengorbanan. Wahai sobat, tidakkah
kematian Alhabib yang tubuhnya tercabik-cabik oleh kebrutalan kafir
quraisy menjadi alat bukti yang cukup
bahwa mengkonstruk bangunan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih akan dihadang,
dimusuhi bahkan akan dibumihanguskan oleh tiran berhalaisme?
Dahulu ketika nabi Muhammad SAW dan para sahabat mengumandangkan takbir,
tahlil, tahmid dan tasbih, suasana itu begitu realistis; sungguh mengharubiru
karena semua kumandang itu dilantunkan bukan saja mereka lepas dari ibadah
shaum tetapi mereka telah bergelut dalam
rentang waktu yang panjang dan dinamika perjuangan yang ekstrim menegangkan
dalam menyampaikan pesan-pesan ilahi. Bersamaan
dengan itu secara senyawa mereka telah berhasil memerdekakan planet bumi yang
mereka pijak dari cengkraman tiran musyrikin
dan dominasi berhalaisme, keberhasilan
balatentara Allah, tentara tauhid meneguhkan Addin dengan tegaknya daulah islamiyyah sebagai
bukti perwujudan tauhid yang melandasi seluruh kehidupan individual sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik dan kenegaraan dapat tegak dengan sempurnanya.
Aduhai… betapa harmonisnya pada saat itu antara suasana jiwa
yang heroik setelah kemenangan Makkah Almukarromah dengan dentuman ritme
takbir, tahlil, tahmid dan tasbih yang menggema menggelitik kecerdasan akal
serta menggetarkan kesadaran qalbu. Suasana indah nan anggun terpapar dalam
kehidupan masyarakat muslim yang tertata dalam kesatuan kepemimpinan tauhid
planet bumi, mereka bagaikan barisan yang teratur, seakan-akan bangunan yang
tersusun kokoh. Sikap mereka terhadap sistem selain Allah yang sudah pasti
korup, lalim dan syirik begitu jelas dan tegas penolakannya. Hubungan yang
terjalin diantara mereka adalah tebaran rahmat, kasih sayang atas dasar ikatan
kemanusiaan sejati, yaitu iman. Mereka ruku' dan sujud digerakan oleh satu
komando sakral, seluruh hubungan kemanusiaan terselenggara atas dasar perintah
Allah dan ketaatan kepada mandataris-Nya dibumi. Inilah sebuah negri yang
mendapat karunia Allah dan ridho-Nya.
Subhanallah
Di balik keanggunan bangunan umat masa lalu sebagaimana terpapar di atas, miris
rasanya ketika kita mencoba telaah, kritis dan mengajukan segudang pertanyaan
tentang bangunan umat islam atau
keorisinilan Addien Al-Islam sebagai agama tauhid itu setelah empat belas abad berlalu. Malu
rasanya melihat realitas umat islam hari ini untuk sekadar membandingkannya
dengan konsep al-Islam yang sempurna
yang telah terbukti dalam peradaban umat manusia empat belas abad silam . Islam
berdasar pada prinsip tauhid, maka dalam
tataran keyakinan berarti menunggalkan loyalitas, ketaatan dan kekuasaan
hanya kepada Allah SWT saja, dan dalam
tataran aksi di bumi,tauhid berarti menunggalkan loyalitas, ketaatan dan
kekuasaan hanya kepada pejabat Allah
di bumi yang legal menurut Allah (kepemimpinan Nubuwwah). Ah… alangkah jauhnya
kenyataan hari ini, tauhid menjadi barang langka, loyalitas diadikan kepada
kelompok penguasa tiran berhalaisme, kaki tangan kapitalis sekuler hanya untuk bisa
bersama-sama menikmati proyek hasil berbagai kejahatan.. Loyalitas dijual kepada
partai-partai pencari kesenangan dunia untuk sekadar menitipkan isi perut,
loyalitas digadaikan kepada organisasi-organisasi yang mengusung arogansi dan
fanatisme kelompok Islam tertentu yang senantiasa dalam sejarahnya tidak bisa
mendewasakan bahkan memecah belah umat islam ke dalam golongan-golongan yang
mudah disulut untuk diadu domba. Ketaatan diberikan kepada penguasa yang tidak
mengusung platform Allah sebagai program langit yang harus diwujudkan di muka bumi (amanah dan
Risalah). Ketaatan telah didedikasikan kepada penguasa yang tidak mendapatkan legalitas Allah
sebagaimana para nabi dan pewarisnya
di masa silam yang wajib dijadikan uswah. Ketaatan telah diobral kepada penguasa
perwakilan syaitan di bumi karena menolak berlakunya kitabullah sebagai
perwujudan perintah dan kehendak Allah
SWT. Kekuasaan telah dirampas oleh tuhan-tuhan palsu (penguasa, tokoh, ketua
adat, dukun, kiai/ajengan, pemilik modal dll) dengan meminta legalitas rakyat
atasnya. Kekuasaan transendental dalam bentuk imanennya telah terbagi di tangan
raja-raja yang mengklaim sebagai titisan para dewa. Pada ahirnya, kekuasaan
berada pada kelompok yang berkolaborasi antara penguasa, pengusaha dan al-ulama as-suu’u la’natullah alaihim.
Kini, loyalitas, ketaatan dan kekuasaan tunggal kepada Allah nyatanya telah tergantikan,
diselewengkan dan bergeser kepada
berbagai macam kepentingan individu, kelompok
atau siapa pun yang merampas selendang ketuhanan.. Jika demikian, maka gaung
takbir, tasbih tahlil dan tahmid hanya raungan macan ompong, omong kosong,
isapan jempol dan nol besar belaka. Betapa menyedihkannya keadaan umat islam
hari ini karena hidup dalam ilusi kebenaran tauhid. Sungguh
celaka penyelenggarakan parade
penyembahan kepada multituhan didukung oleh kekuatan dan kekuasaan formal dan
nonformal sehingga akselerasinya melesat begitu cepat tak terkendali. Inilah
situasi penjukirbalikan tauhid oleh
kemusyrikan. Kapankah tauhid berjaya kembali? (lihat Qur’an, Az-Zukhruf, ayat 28 – 29).
oleh Cakra Kawah Pangrango

Tidak ada komentar:
Posting Komentar