05 Agustus 2013

manfaat menjauhi maksiat



Oleh Ija Sudija
Guru Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Salah seorang ulama klasik yang dikenal sebagai pelopor ilmu Ushul Fiqh adalah Imam Syafi’i. ia dilahirkan pada tahun 150 H (769 M) di Ghaza, Palestina. Di usianya yang masih belia, ia sudah mampu menghafal Al-Qur’an. Selain itu, ia juga mampu menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik.
Kecerdasan Imam Syafi’I itu membuat Imam Malik terkesima. Beliau pernah berkata, “Allah telah menganugerahkan seberkas cahaya dalam hatimu, maka jangan sekali-kali engkau memadamkannya dengan kegelapan maksiat.” Tak heran, kalau Khalifah Harun Ar-Rasyid pernah mengundang Imam Syafi’I ke istana beliau di Baghdad.
Kemudian, saat perjalanan ke rumah gurunya, Waki’ Ibnul Jarah, ia melihat tumit seorang wanita. Saat itu juga hafalannya menjadi kacau. Ia pun mengadu kepada sang guru.
Aku mengadu kepada Imam Waki’ tentang kesulitanku menghafal
Lalu beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat.
Ia mengingatkanku bahwa ilmu adalah cahaya.
Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.
Setidaknya tiga poin yang bisa kita petik dari nasihat Waki’ Ibnul Jarah kepada Imam Syafi’I ini. Pertama, perbuatan maksiat akan mengacaukan hafalan. Maksiat merupakan kekejian yang membuat hati menjadi kotor, sedangkan ilmu tidak menempati hati yang kotor. Ilmu menempati hati yang bersih, yang mengantarkan pemiliknya taat kepada perintah Allah.
Kedua, ilmu itu bagaikan cahaya. Ketika malam hari, kita tidak bisa berjalan tanpa adanya cahaya. Begitu pula peran ilmu dalam kehidupan manusia. Tanpa ilmu, kehidupan terasa hampa, gelap, dan tidak ada penerangan di sepanjang jalan yang kita tempuh sehingga kita tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Ketiga, Allah tidak akan memberikan hidayah ilmu kepada para pelaku maksiat. Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Kiat Membersihkan Hati dari Kotoran dan Maksiat mengatakan bahwa Allah menciptakan makhluk dalam dua golongan, yakni olongan atas dan golongan bawah.
Golongan atas adalah hamba Allah yang taat. Mereka dimuliakan Allah, baik di dunia maupun akhirat. Sementara golongan bawah adalah pelaku maksiat. Mereka tidak dimuliakan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi, wajar saja kalau hidayah ilmu tidak diberikan kepada golongan bawah.
Lantas, bagaimana caranya agar kita terhindar dari maksiat? Ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd dalam kitab Cara Bertaubat Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah menjabarkan dengan detail kiat-kiat tersebut.
Pertama, mengisi hati dengan kecintaan kepada Allah SWT. Ketika hati terisi dengan kecintaan kepada Allah, maka kebaikan akan menjadi sempurna, kenikmatannya akan terpenuhi, dan ketergantunga terhadap hawa nafsu akan hilang. Dengan begitu, beribadah pun menjadi ringan dan mudah.         
Kedua, berjihad dalam melawan hawa nafsu. Nafsu itu tak ubahnya seperti anak kecil. Jika kita tidak menghentikan kebiasaannya menyusu, maka ia akan tumbuh besar dalam keadaan tetap menyusu. Dalam hadis disebutkan bahwa salah satu cara yang tepat dalam mengontrol nafsu adalah dengan berpuasa.
Ketiga, banyak mengingat akhirat. Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am: 32)
Keempat, menauhi bacaan-bacaan yang dapat menjauhkan diri dari kemaksiatan. Di era digital ini, akses untuk mendekatkan maksiat sangatlah mudah. Namun kita perlu memfilter informasi sebelum menyerapnya. Karena terkadang, informasi itu dikemas dengan sangat halus sehingga susah membedakan mana yang baik dan mana yang jelek.

Kelima, menundukkan pandangan. Mata merupakan salah satu sarana masuknya informasi. Maksiat sering kali masuk melalui mata. Bisa dibilang, mata merupakan cerminan hati. Dengan kata lain, menundukkan pandangan akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman. Menundukkan pandangan berarti menundukan syahwat.            

oleh HH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar