Oleh Ija
Sudija
Guru Pondok
Pesantren Darunnajah Jakarta
Salah
seorang ulama klasik yang dikenal sebagai pelopor ilmu Ushul Fiqh adalah
Imam Syafi’i. ia dilahirkan pada tahun 150 H (769 M) di Ghaza, Palestina. Di
usianya yang masih belia, ia sudah mampu menghafal Al-Qur’an. Selain itu, ia
juga mampu menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik.
Kecerdasan
Imam Syafi’I itu membuat Imam Malik terkesima. Beliau pernah berkata, “Allah
telah menganugerahkan seberkas cahaya dalam hatimu, maka jangan sekali-kali
engkau memadamkannya dengan kegelapan maksiat.” Tak heran, kalau Khalifah Harun
Ar-Rasyid pernah mengundang Imam Syafi’I ke istana beliau di Baghdad.
Kemudian,
saat perjalanan ke rumah gurunya, Waki’ Ibnul Jarah, ia melihat tumit seorang
wanita. Saat itu juga hafalannya menjadi kacau. Ia pun mengadu kepada sang
guru.
Aku
mengadu kepada Imam Waki’ tentang kesulitanku menghafal
Lalu
beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat.
Ia
mengingatkanku bahwa ilmu adalah cahaya.
Dan
cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.
Setidaknya
tiga poin yang bisa kita petik dari nasihat Waki’ Ibnul Jarah kepada Imam
Syafi’I ini. Pertama, perbuatan maksiat akan mengacaukan hafalan. Maksiat
merupakan kekejian yang membuat hati menjadi kotor, sedangkan ilmu tidak
menempati hati yang kotor. Ilmu menempati hati yang bersih, yang mengantarkan
pemiliknya taat kepada perintah Allah.
Kedua,
ilmu itu bagaikan cahaya. Ketika malam hari, kita tidak bisa berjalan tanpa
adanya cahaya. Begitu pula peran ilmu dalam kehidupan manusia. Tanpa ilmu,
kehidupan terasa hampa, gelap, dan tidak ada penerangan di sepanjang jalan yang
kita tempuh sehingga kita tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang
buruk.
Ketiga,
Allah tidak akan memberikan hidayah ilmu kepada para pelaku maksiat. Ibn Qayyim
Al-Jauziyyah dalam kitab Kiat Membersihkan Hati dari Kotoran dan Maksiat
mengatakan bahwa Allah menciptakan makhluk dalam dua golongan, yakni olongan
atas dan golongan bawah.
Golongan
atas adalah hamba Allah yang taat. Mereka dimuliakan Allah, baik di dunia
maupun akhirat. Sementara golongan bawah adalah pelaku maksiat. Mereka tidak
dimuliakan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi, wajar saja kalau
hidayah ilmu tidak diberikan kepada golongan bawah.
Lantas,
bagaimana caranya agar kita terhindar dari maksiat? Ada beberapa kiat yang bisa
kita lakukan. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd dalam kitab Cara Bertaubat
Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah menjabarkan dengan detail kiat-kiat
tersebut.
Pertama,
mengisi hati dengan kecintaan kepada Allah SWT. Ketika hati terisi dengan
kecintaan kepada Allah, maka kebaikan akan menjadi sempurna, kenikmatannya akan
terpenuhi, dan ketergantunga terhadap hawa nafsu akan hilang. Dengan begitu,
beribadah pun menjadi ringan dan mudah.
Kedua,
berjihad dalam melawan hawa nafsu. Nafsu itu tak ubahnya seperti anak kecil.
Jika kita tidak menghentikan kebiasaannya menyusu, maka ia akan tumbuh besar
dalam keadaan tetap menyusu. Dalam hadis disebutkan bahwa salah satu cara yang
tepat dalam mengontrol nafsu adalah dengan berpuasa.
Ketiga,
banyak mengingat akhirat. Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia
ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat
itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”
(QS. Al-An’am: 32)
Keempat,
menauhi bacaan-bacaan yang dapat menjauhkan diri dari kemaksiatan. Di era
digital ini, akses untuk mendekatkan maksiat sangatlah mudah. Namun kita perlu
memfilter informasi sebelum menyerapnya. Karena terkadang, informasi itu
dikemas dengan sangat halus sehingga susah membedakan mana yang baik dan mana
yang jelek.
Kelima,
menundukkan pandangan. Mata merupakan salah satu sarana masuknya informasi.
Maksiat sering kali masuk melalui mata. Bisa dibilang, mata merupakan cerminan
hati. Dengan kata lain, menundukkan pandangan akan mendatangkan ketenangan dan
ketentraman. Menundukkan pandangan berarti menundukan syahwat.
oleh HH

Tidak ada komentar:
Posting Komentar