23 Agustus 2013

pengaruh positif shalat tahajjud


Tahajjud = Anti kanker

Sebuah penelitian ilmiah membuktikan bahwa sholat tahajjud membebaskan seseorang dari berbagai penyakit. Itu bukan ungkapan teoritis semata, melainkan sudah diuji dan dibuktikan melalui penelitian ilmiah. Penelitinya adalah dosen fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Mohammad Sholeh, dalam usahanya meraih gelar doktor. Sholeh melakukan penelitian terhadap siswa SMU Lukmanul Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang secara rutin menunaikan sholat tahajjud.

Sholat tahajjud yang dilakukan di penghujung malam yang sunyi, kata Sholeh, bisa mendatangkan ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti  mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup. Sebaliknya, bentuk-bentuk tekanan mental sepert stres maupun depresi membuat seseorang rentan terhadap berbagai macam penyakit, infeksi dan mempercepat perkembangan sel kanker serta meningkatkan metastatis (penyebarab sel kanker).

Tekanan mental itu sendiri terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus gerak hidup manusia) yang ditandai dengan pengikatan hormon kortison. Perlu diketahui, hormon kortison ini biasa dipakai sebagai tolak ukur untuk mengetahui kondisi seseorang apakah jiwanya tengah terserang stres/depresi atau tidak.

Untungnya, kata Sholeh, stres bisa dikelola, dan pengelolaan itu bisa dilakukan dengfan eduikatif, teknik relaksasi, atau perenungan/tafakur dan umpan balik hayati (bio-feedback). Nah, sholat tahajjud mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai pereda stress yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secar natural, jelas sholeh dalam disertainya yang berjudul “Pengaruh Sholat Tahajjjud terhadap Pengingkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik”.

Pada saat yang sama, sholat tahajjjud pun bisa mendatangkan stres, terutam bila tidak dilaksanakan secara ikhlas dan kontinyu karena akan terjadi kegagalan dalan menjaga Homeostatis (daya adaptasi) terhadap perubahan pola irama pertumbuhan sel yang normal, tetapi jika dilaksanakan dengan ikhlas dan kontintyu akan sebaliknya. Kanker, seperti diketahui, adalah pertumbuhan sel yang tidak normal, kalau melaksanakan sholat tahajjud dengan ihklas dan kontinyu akan dapat merangsang pertumbuhan sel secara normal sehingga membebaskan pengamal sholat tahajjud dari berbagai penyakit dan kanker (tumor ganas), ungkap alumni pesantren lirboyo kediri Jatim ini.

Menurutnya, sholat tahajjud yang dijalankan dengan tepat, kontinyum khusyuk, dan ikhlas dapat menimbulkan persepsi dan motivasi positif sehingga menimbulkan mekanisme pereda stres yang efektif.



oleh Ajang

07 Agustus 2013

makna idul fitri



Bagi Muslim yang insya Allah diterima puasanya karena mampu menundukkan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan, maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati. Pada hari ini, Allah SWT. akan memberikan penghargaan istimewa yang selalu dinanti-nantikan oleh siapapun, termasuk para nabi dan orang shaleh, yaitu ridha dan maghfirah dari Allah, sebagai ganjaran atas amal yang telah diperbuat. Allah SWT juga berjanji, tak ada satu pun doa yang dipanjatkan pada hari ini kecuali akan dikabulkan.

Pertanyaannya, kira-kira puasa kita diterima atau tidak? Apakah yang kita lakukan selama ini hanya ritual simbolis, sebatas menahan lapar dan haus, seperti yang pernah disinyalir Nabi Muhammad? Jawabannya Allahu 'alam, tak ada yang tau sejatinya. Tapi menurut para ulama ada beberapa indikasi seseorang dianggap berhasil menjalankan ibadah puasa: ketika kualitas kesehatan individu dan kolektif meningkat, ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan, ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah di seberang sana.

Penghayatan dan pengalaman yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali pada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak juga memiliki kewajiban, baik individu maupun kolektif. Sudahkah kita merasakannya? Itulah rahasia mengapa ucapan selamat hari raya Idul Fitri sering diiringi dengan kata-kata minal aidin wal faidzin (semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.) Selain sebagai doa dan harapan, ucapan ini juga bak pengingat bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibada puasa paripurna, lahir dan batin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci dan tanpa dosa).

Makna Idul Fitri 

Idul Fitri resmi menjadi hari raya umat Islam pada tahun ke-2 Hijriyah. Kita disunnahkan untuk merayakannya sebagai ungkapan rasa syukur atas kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama Ramadan. Tapi Islam tak menghendaki perayaan yang bermewah-mewahan, apalagi sampai memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang perbuatan kita selama ini. Syeikh Abdul Qadir al-Jailany dalam al-Gunyah-nya berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul Fitri ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Allah SWT, sebagai momen mengasah kepekaan sosial kita. Ada pemandangan paradoks, betapa di saat kita berbahagia ini, saudara-saudara kita di tempat lain masih banyak menahan lapar. Betapa beruntungnya kita!

oleh ZA

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H! Mohon maaf lahir dan batin...

Satelit Iman

05 Agustus 2013

manfaat menjauhi maksiat



Oleh Ija Sudija
Guru Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Salah seorang ulama klasik yang dikenal sebagai pelopor ilmu Ushul Fiqh adalah Imam Syafi’i. ia dilahirkan pada tahun 150 H (769 M) di Ghaza, Palestina. Di usianya yang masih belia, ia sudah mampu menghafal Al-Qur’an. Selain itu, ia juga mampu menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik.
Kecerdasan Imam Syafi’I itu membuat Imam Malik terkesima. Beliau pernah berkata, “Allah telah menganugerahkan seberkas cahaya dalam hatimu, maka jangan sekali-kali engkau memadamkannya dengan kegelapan maksiat.” Tak heran, kalau Khalifah Harun Ar-Rasyid pernah mengundang Imam Syafi’I ke istana beliau di Baghdad.
Kemudian, saat perjalanan ke rumah gurunya, Waki’ Ibnul Jarah, ia melihat tumit seorang wanita. Saat itu juga hafalannya menjadi kacau. Ia pun mengadu kepada sang guru.
Aku mengadu kepada Imam Waki’ tentang kesulitanku menghafal
Lalu beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat.
Ia mengingatkanku bahwa ilmu adalah cahaya.
Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.
Setidaknya tiga poin yang bisa kita petik dari nasihat Waki’ Ibnul Jarah kepada Imam Syafi’I ini. Pertama, perbuatan maksiat akan mengacaukan hafalan. Maksiat merupakan kekejian yang membuat hati menjadi kotor, sedangkan ilmu tidak menempati hati yang kotor. Ilmu menempati hati yang bersih, yang mengantarkan pemiliknya taat kepada perintah Allah.
Kedua, ilmu itu bagaikan cahaya. Ketika malam hari, kita tidak bisa berjalan tanpa adanya cahaya. Begitu pula peran ilmu dalam kehidupan manusia. Tanpa ilmu, kehidupan terasa hampa, gelap, dan tidak ada penerangan di sepanjang jalan yang kita tempuh sehingga kita tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Ketiga, Allah tidak akan memberikan hidayah ilmu kepada para pelaku maksiat. Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Kiat Membersihkan Hati dari Kotoran dan Maksiat mengatakan bahwa Allah menciptakan makhluk dalam dua golongan, yakni olongan atas dan golongan bawah.
Golongan atas adalah hamba Allah yang taat. Mereka dimuliakan Allah, baik di dunia maupun akhirat. Sementara golongan bawah adalah pelaku maksiat. Mereka tidak dimuliakan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi, wajar saja kalau hidayah ilmu tidak diberikan kepada golongan bawah.
Lantas, bagaimana caranya agar kita terhindar dari maksiat? Ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd dalam kitab Cara Bertaubat Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah menjabarkan dengan detail kiat-kiat tersebut.
Pertama, mengisi hati dengan kecintaan kepada Allah SWT. Ketika hati terisi dengan kecintaan kepada Allah, maka kebaikan akan menjadi sempurna, kenikmatannya akan terpenuhi, dan ketergantunga terhadap hawa nafsu akan hilang. Dengan begitu, beribadah pun menjadi ringan dan mudah.         
Kedua, berjihad dalam melawan hawa nafsu. Nafsu itu tak ubahnya seperti anak kecil. Jika kita tidak menghentikan kebiasaannya menyusu, maka ia akan tumbuh besar dalam keadaan tetap menyusu. Dalam hadis disebutkan bahwa salah satu cara yang tepat dalam mengontrol nafsu adalah dengan berpuasa.
Ketiga, banyak mengingat akhirat. Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am: 32)
Keempat, menauhi bacaan-bacaan yang dapat menjauhkan diri dari kemaksiatan. Di era digital ini, akses untuk mendekatkan maksiat sangatlah mudah. Namun kita perlu memfilter informasi sebelum menyerapnya. Karena terkadang, informasi itu dikemas dengan sangat halus sehingga susah membedakan mana yang baik dan mana yang jelek.

Kelima, menundukkan pandangan. Mata merupakan salah satu sarana masuknya informasi. Maksiat sering kali masuk melalui mata. Bisa dibilang, mata merupakan cerminan hati. Dengan kata lain, menundukkan pandangan akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman. Menundukkan pandangan berarti menundukan syahwat.            

oleh HH

31 Juli 2013

menjadikan silaturrahim lebih bermakna



Silaturrahim adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan dari Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturrahim, maka ukhuwah islamiyah akan terjalin dengan baik. Kehidupan kadang tidak seindah yang kita inginkan. Dalam interaksi sosial dengan orang lain, bisa saja terjadi khilaf dan salah paham, yang membuat jalinan persaudaraan atau pertemanan menjadi tidak harmonis. Berawal dari khilaf dan salah paham inilah yang sering mengakibatkan hubungan dua orang yang pada awalnya sangat dekat menjadi renggang.

Keduanya bisa saling mencurigai, iri dan bermusuhan. Hubungan persaudaraan, persahabatan dan pertemanan menjadi hambar. Sapaan hanya sekedar basa-basi. Tidak ada lagi kerinduan, sebaliknya yang ada adalah kekecewaan dan kebencian. Jika tidak segera ditangani, ketidakharmonisan ini bisa menular ke orang lain. Bahkan bisa merembet keseluruh keluarga dan atau seluruh teman dekat. 

Maka, silaturrahim bisa menjadi sarana untuk merajut hubungan yang terancam putus. Pribadi manusia satu dengan lainnya memang tidak ada yang sama, namun dengan pendekatan kasih sayang dan persaudaraan antar sesama Muslim bisa menghapus kesalahpahaman dan menjembatani perbedaan kepribadian tersebut. Silaturrahim bukan hanya dilakukan dengan sekedar bertemu, datang dan berjabat tangan; melainkan dengan tolong-menolong dalam segala aspek kehidupan ataupun bisa dengan memberikan informasi-informasi penting kepada kerabat dan saudara.

Rasulullah SAW mendorongan agar orang mau bersilaturrahim sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Abu Hurairah RA: Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia meyambung hubungan silaturrahim.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Dalam hadis lain yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Hadis-hadis inilah yang mendorong kaum Muslimin untuk bersilaturrahim. Dijelaskan juga dalam firman Allah SWT, “Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d:21). 

Merujuk pada hadis dan Firman Allah SWT diatas dapat dilihat bahwa silaturrahim sangat penting bahkan wajib bagi seorang Muslim. Akan tetapi, sebagian besar kaum Muslimin menggunakan kata silaturrahim hanya sebatas untuk hubungan kekerabatan semata yang sebenarnya hanyalah hubungan semu. Padahal, silaturrahim ini berhubungan erat dengan keimanan dan keislaman seseorang. Hubungan yang semu tanpa dilandasi keimanan dan ketakwaan merupakan penyebab putusnya silaturrahim. Adapun faktor-faktor penyebab lainnya  adalah kebodohan, minimnya ilmu agama, cinta dunia dan menyibukan diri dengannya, serta zalim dan jahat kepada kerabat. Padahal, yang disebut silaturrahim yang lebih esensial adalah bagaimana memperkuat hubungan keimanan, ketakwaan antar sesama.

Adapun haramnya memutuskan  silaturrahim telah dijelaskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis, “Tidak masuk surga orang yang memutus silaturrahim.” (HR Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, silaturrahim jelas mengandung banyak manfaat, bukan hanya sebatas mengumpulkan keluarga dan saling mengenalkan hubungan kekerabatan, tapi sebagai salah satu bukti atas kualitas  keimanan dan keIslaman seseorang.

Semoga catatan kecil ini selalu berada dalam bimbingan Allah SWT dan dapat memperkokoh ukhuwah islamiyah kita semua.

oleh HH

30 Juli 2013

apa yang kita sombongkan?



Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari.

Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi.

Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan.
Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. 
Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan
waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan.

Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di
dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang sebenarnya kita sombongkan, dan untuk apa kita bersikap sombong?

oleh Hansae