Disampaikan oleh Moh In’ami, Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah STAIN kudus, Jawa Tengah
Bekerja adalah fitrah manusia, jika terdapat orang yang enggan dan malas bekerja sesungguhnya hal itu melawan fitrahnya sendiri. Maka manifestasi potensi yang Allah berikan pada diri manusia menjadi modal yang luar biasa untuk dioptimalkan, dikembangkan dan difungsikan sebagaimana mestinya sesuai rambu-rambu yang ditetapkan Allah sebagai sesuatu yang asasi.
Mulailah berpikir bahwa bekerja itu perintah. Kesadaran untuk melaksanakan perintah menantarkan diri seseorang menuju perbuatan dengan motivasi yang tinggi dan berharap ridha ilahi. Dengan bekerja orang menjadi mulia. Dengan bekerja orang dapat mengaktualisasikan diri dan menunjukkan bahwa dirinya ada. Sebagai bukti bahwa dia hadir ditengah-tengah keluarganya dan wujud manfaat bagi diri dan sesama (QS.at-Taubah:105).
Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda: “Tiada seorangpun memakan makanan yang lebih baik daripada memakan yang diperoleh dari hasil keringatnya sendiri. Sesungguhnya nabiyullah Daud as pun memakan dari hasl karyanya sendiri.” (HR.Bukhari)
Yang perlu diwaspadai adalah apabila bekerja hanya mencari keuntungan semata, niscaya akan merugi. Bekerja yang diperintahkan itu bukan sekedar memilki muatan pemenuhyan suatu kebutuhan yang brsifat materialis, namun lebih dari itu, muatan ibadah dan orientasi ukhrowi menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Apapun bentuk pekerjaan, sepanjang halal dan baik, tidak perlu menjadikan orang minder atau berkecil hati. Meski orang sering melihat kemampuan modalitas dan kekuaan finansial. Sementara kita perlu memahami bahwa setiap kerja hendaknya menjadi amal, sehingga starting point penting dalam bekerja adalah membangun niat tulus dan motivasi positif.
Banyak orang bekerja tetapi belum tentu ia beramal. Sebaliknya banyak orang beramal dan tentu saja mereka bekerja. Orang yang beramal mampu mewujudkan kerja dalam peraktik amal shaleh, sikap dan perilaku yang mendatangkan manfaat, atau bahkan mampu memberikan profit yang diharapkan.
Hampir bisa dipastikan jika ada sebab tentu ada akibat. Orang sering bekerja keras dan berharap dengan bekerja keras itu akan mendapatan hasil yang lebih dan keuntungan yang banyak. Jika pandangan kita selama ini dalam bekerja hanya soal keuntungan. Meraih profit dan pendapatan yang lebih dari biasanya , hal ini berarti ada sesuatu yang tidak pernah kita soroti sebagai yang penting dalam bekerja, sesuatu yang hakiki yang sering ditinggalkan-manifestasi kerja, esensinya adalah amal.
Jika orang bekerja masih membutuhkan pengakuan dari pihak lain bahwa ia telah bekerja, maka bekerjalah tanpa berharap apapun. Ingatlah konsep ikhlas beramal. Dalam konteks kerja formal, berbuatlah sesuai tugas pokok dan fungsi. Dalam ranah sosial keagamaan, bekerjalah dengan orang yang anda ajak untuk berbakti, mengabdi dan mengamalkan kemampuan ilmu dalam kehidupan beragama di masyarakat.
Dalam budaya organisasi, berbuatlah untuk kesejahteraan dan kemaslahatan banyak orang yang menjadi tanggung jawab dan kendali anda, tanpa meninggalkan rasa keadilan dan kejernihan dalam berpikir dan bertindak, tidak mudah percaya oleh ucapan buruk dari suatu sumber sebelum mengeek dan mengkonfirmasi data lainnya yang bisa dipercaya.
Mewujudkan tauhid dalam bekerja merupakan sebuah tantangan dalam kerja atau amal, bahwa bukan hanya kerja saja yang dilakukan. Orang yang bekerja hendaknya menikmati statusnya sebagai pekerja.
Status pekerja adalah penghargaan yang luar biasa. Apalagi pekerjaan atau amal itu datangnya dari Allah. Kesadaran manusia dengan pangkat menjadi pekerja itulah yang mampu mangangkat derajatnya menjadi mulia. Inilah yang disebut bertauhid. Bila manusia mengingkari statusnya dan tidak mau bekerja berarti ia telah menghinakan dirinya.
Untuk itulah kita bekerja dan berbuat. Sungguh nikmat dalam bekerja, apalagi tidak hanya reward dunia yang kita terima tetapi akhirat juga kita raih. Ada kata-kata hikmah: “berbuatlah sekehendakmu, maka kamu akan mendapatkan balasannya (yang setimpal).” Masihkah kita menunda untuk berbuat sesuatu demi kebaikan dan masa depan kita?
oleh M. S. A
super...
BalasHapus