Kita semua sepakat bahwa sistem pendidikan merupakan media pembelajaran
awal yang ditujukan untuk membangun karakter, mentalitas dan pola pikir untuk
meningkatkan kualitas kehidupan manusia serta mempersiapkan manusia sejak kecil
agar mampu memahami kehidupan dan menempatkan pijakanya di kehidupan dewasa
kelak. Artinya, sistem pendidikan bertanggung jawab atas karakter dan moral
perilaku manusia. Namun, mengapa modern ini manusia begitu jauh dari kepribadian
yang baik dan mulia?
Begitu banyak manusia yang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada
kepentingan orang banyak. Masih banyak manusia yang egois, sehingga bermusuhan
antara satu dan lainya, baik di dunia kerja, dunia akademik, dunia
perpolitikan, dan lain-lain. Dunia begitu miskin akan contoh pemimpin ataupun
kepribadian yang bermoral dan berkarakter. Mari kita evaluasi bagaimana
pendidikan manusia terbangun dari kecil hingga dewasa.
Di SD, kita belajar berbagai macam ilmu pengetahuan yang disodorkan
kepada kita: matematika, IPA, IPS, sejarah, dll. yang sebenarnya ketika itu
kita sendiri tidak mengerti apa tujuan mempelajari hal tersebut. Di SMP dan SMA
juga demikian. Kita semua dibebankan untuk mempelajari banyak cabang ilmu
pengetahuan, yang kemudian kita tidak tahu apakah ilmu ini akan bermanfaat secara
keseluruhan di kehidupan dewasa kelak. Belum lagi keberhasilan kita hanya
dilihat dari nilai yang diberikan. Kita yang pandai dalam bidang musik dipaksa
untuk pintar dalam matematika yang itu sama sekali bukan bidang kita. Penilaian
pintar atau bodoh seorang siswa hanya berdasarkan nilai tersebut. Bagaimana
mungkin manusia bisa di-judge keilmuanya
hanya sepihak seperti itu? Padahal, itu belum tentu menjamin kesuksesan masa
depan kita.
Jika kita menilai kesuksesan pada kemapanan hidup, bisa jadi justru
seorang pemusik mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar dari pada seorang
pekerja yang memiliki nilai matematika tinggi. Betapa pendidikan kita semasa
kecil ini tidak terintegrasi dengan kehidupan nyata. Ini hal pertama yang perlu
dievaluasi, yaitu dari segi kurikulum pendidikan, dimana kurikulum pendidikan
dari kecil tidak terintegrasi dan tidak terbukti secara konkrit membangun
kesiapan manusia agar memiliki pijakan yang kokoh dalam berkehidupan di dewasa
kelak.
Hal kedua yang menjadi bahan evaluasi ialah dari aspek psikologi pribadi manusianya. Di setiap lembaga pendidikan, baik SD, SMP, hingga di bangku
perkuliahan, prestasi seorang siswa seringkali hanya dilihat dari ranking
kognitif. Baik nilai pelajaran sekolah, berbagai macam lomba maupun kejuaraan,
dan banyak hal lainya. Hal ini menjadi dasar adanya kesenjangan dan perbedaan
sikap terhadap pihak yang menang dan pihak yang kalah. Antara siswa yang
berprestasi dengan siswa yang belum menemukan bidang prestasinya. Sang juara
selalu mendapat tepuk tangan meriah, sanjungan dan pujian, menjadi kebanggaan
dan dianakemaskan. Sedangkan siswa lainya seperti mendapatkan diskriminasi
sosial, tidak begitu diindahkan. Belum lagi perlakuan dari sang pemenang
terhadap siswa lainya yang sering menganggap lemah dan meremehkan. Kembali
terjadi diskriminasi antara pihak yang menang terhadap pihak yang kalah.
Akhirnya, semua orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Fokus pada tujuanya,
yaitu menjadi pemenang. Bahkan, tidak jarang menggunakan cara yang tidak dewasa
dalam proses perjalananya. Tidak hanya membangun keterampilan dan keahlian
sendiri, tapi juga egois dalam ilmu, bahkan cenderung menghancurkan lawannya.
Hal inilah yang membangun karakter dan pribadi manusia dewasa ini.
Antara pribadi yang satu dengan yang lainya bagaikan lawan, bersaing untuk
memperebutkan apa yang mereka inginkan. Bersaing untuk mendapatkan pekerjaan,
bersaing untuk mendapatkan keuntungan, bersaing untuk mendapatkan kejayaan, di
mana dalam persaingan tersebut akan ada sebagian kecil orang yang menang dan
tersenyum lebar, serta sebagian besar orang justru harus menerima pahitnya
kekalahan dan kekecewaan. Maka dunia begitu tidak adil ketika hanya sebagian
kecil manusia yang mampu menikmati kehidupan, dan sebagian besar lainya harus
terus bersusah payah mempertahankan eksistensinya di dunia ini.
Padahal, cita-cita yang selalu diucapkan oleh tokoh tokoh dan pembesar
dunia ialah kesejahteraan bagi “seluruh” umat manusia tanpa terkecuali. Tapi,
cita-cita ini bak mimpi kosong yang tak kan pernah tercapai. Kita lihat ketika
seorang pebisnis muda memulai usahanya dari nol hingga kemudian beranjak tumbuh
dan berkembang, namun di tingkat kompetisi yang lebih tinggi, pebisnis muda ini
kalah bersaing dan mengalami kebangkrutan. Contoh lain dapat kita liat dalam
dunia kerja, sering kali seorang pelamar yang memiliki kapabilitas sangat baik
dikalahkan oleh pelamar dengan kemampuan menengah ataupun buruk hanya karena
memiliki akses kerabat atau kenalan di perusahaan tersebut. Betapa tidak
adilnya dunia, karena pilih kasihnya dalam memberikan kebahagiaan hidup bagi
manusia. Inilah persoalan ketiga, dimana proses pendidikan mempengaruhi
psikologi manusia, sehingga membangun karakter persaingan, dan moral yang
saling menjatuhkan.
Kemudian yang terakhir ialah aspek keilmuannya. Ilmu pengetahuan
tidak lagi ditujukan untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran manusia
secara keseluruhan, namun cenderung menjadi alat bagi manusia untuk memuaskan
keinginanya dalam mengeksploitasi kekayaan dunia, bahkan mengeksploitasi orang
lain. Dari ilmu ekonomi misalkan, terdapat teori yang sangat populer yaitu
“menggunakan modal sekecil-kecilnya, untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya”.
Ketika kita mampu membuka akal kritis kita, sesungguhnya kita akan menyadari bahwa
teori ini menjadi pembenaran atas tiap ketamakan, pembenaran atas tiap
kerakusan, sehingga terciptalah peradaban seperti saat ini, dimana manusia yang
kuat selalu mengeksploitasi manusia yang lemah. Manusia yang memiliki modal
terbatas, selalu dikalahkan oleh manusia yang memiliki modal besar. Dalam kasus
lain, dikarenakan semakin canggihnya ilmu teknologi, ditambah ambisinya dalam
memaksimalkan profit, perusahaan sering membandingkan biaya dan output yang dihasilkan antara tenaga
kerja manusia dengan tenaga kerja mesin. Hal inilah yang sering kali menjadi
penyebab terjadinya PHK massal.
Teori ekonomi ini seringkali menjadi dasar dan orientasi kejayaan
manusia, sehingga kejahatan ini merambah ke teori lainya. Di dalam aspek
kesehatan, ilmu kedokteran dan kesehatan kian berkembang begitu pesat. Namun
ketika ditujukan pada orientasi persaingan dan kesenangan dunia, ilmu ini pun
tak lagi mampu mempertahankan keorisinilan nilai nilai kebaikanya, namun sekali
lagi menjadi alat untuk mengeksploitasi manusia. Seringkali tiap kepala pasien
dihitung dengan rupiah. Akhirnya ketika memilih untuk menjadi dokter, niatanya
tidak lagi murni untuk menolong manusia yang kesulitan atau yang berpenyakit,
namun untuk mendapatkan uang. Maka tidak jarang kita melihat banyak rumah sakit
yang menolak menerima pasien, dengan berdalih sudah penuh padahal karena
melihat ketidakmampuan pasien dalam membayar biaya rumah sakit.
Di dalam teori politik, kinerja partai sudah tak lagi berjalan
sebagaimana mestinya. Setiap tokoh politik maupun wakil rakyat sama-sama fanatik terhadap
partainya, sehingga kepentingan partai menjadi prioritas utama. Tiap partai pun
saling bersaing untuk mempertahankan posisinya, ataupun merebut posisi teratas - hingga hasilnya kinerja partai pun tak lagi maksimal tertujukan untuk
menyejahterakan masyarakat secara keseluruhan, namun disibukkan untuk menyejahterakan
partainya masing masing.
Begitu rapuhnya pelaksanaan ilmu pengetahuan modern ini sehingga cenderung
menjadi alat untuk mengeksploitasi manusia. Seorang akuntan menggunakan
kecerdasanya untuk menggelapkan dana masyarakat. Seorang hakim menggunakan
wewenang dan kekuasaanya untuk menerima suap. Negara adidaya menggunakan
kekuatan dan kekuasaanya untuk menjajah negara yang lemah, dan masih banyak
contoh penyelewengan dan penyalahgunaan ilmu pengetahuan lainya yang akhirnya
jauh dari kebermanfaatan. Hal ini menunjukan bahwa manusia belum siap untuk
menerima perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat. Layaknya anak kecil
yang diberikan senapan, maka ketika emosinya tersulut, begitu mudahnya ia
menggunakan senapan tersebut untuk menindas lawanya, bahkan membunuh lawanya.
Dengan pemahaman ini, maka benarlah apa yang telah diperkirakan
malaikat terhadap manusia di dalam Qur’an Surat Al-Baqarah (2) : 30, ketika Allah
SWT. berfirman kepada makhluk ciptaan-Nya atas kehendak-Nya menciptakan manusia
sebagai khalifah di bumi, maka malaikat pun berkata, “Apakah Engkau hendak
menjadikan orang yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana?”
Malaikat sebagai makhluk yang diberikan kecerdasan oleh Allah SWT. mampu
memperkirakan bagaimana nantinya jika manusia diturunkan di muka bumi. Manusia
dengan segala potensinya untuk mengingkari amanah akan membuat berbagai macam kerusakan
di bumi, saling menumpahkan darah, saling berkompetisi satu sama lain,
menjatuhkan lawanya demi pemuasan kepentingan, dan tindak kerusakan lainya.
Dari sifat manusia yang memiliki potensi untuk membuat kerusakan dan saling
menumpahkan darah inilah seorang filsuf Inggris bernama Thomas Hobbes
mendefinisikan manusia dalam teorinya homo
homini lupus, yang artinya “manusia merupakan serigala bagi manusia
lainya”. Hingga akhirnya apa yang tercantum dalam Qur’an Surat Ar-ruum (30) :
41 bahwa telah tampak segala kerusakan di darat maupun di lautan akibat ketamakan dan kerakusan manusia.
Mari kita kaji apa sebenarnya hakikat dikembangkanya ilmu pengetahuan.
Pada dasarnya ilmu pengetahuan ditumbuhkembangkan untuk meningkatkan taraf dan
kualitas kehidupan manusia secara keseluruhan agar tercipta kehidupan yang
makmur, sejahtera, aman, nyaman, harmonis dan teratur. Namun nyatanya,
pengembangan ilmu pengetahuan bertentangan dengan hakikat ilmu
pengetahuan sebagaimana yang telah dipaparkan diatas. Sistem ilmu pengetahuan
ini sudah begitu jauh dari kemurnian nilai-nilai kebaikan dan pencapaian menuju
peradaban madani yang dicita-citakan. Sistem pendidikanlah yang paling
bertanggung jawab akan hal ini.
Pertanyaannya ialah, dari mana sistem pendidikan ini harus
dibenahi?
Ada tiga hal yang menurut penulis merupakan pilar pendidikan yang menjadi
bahan evaluasi: kurikulum
ilmu pendidikan yang tak lagi terintegrasi,
psikologi manusia yang tidak terorientasi sebagaimana mestinya, juga perkembangan ilmu pengetahuan
yang sudah bertentangan jauh dari hakikat ilmu pengetahuan sehingga gagap dalam
merealisasikan dan melaksanakan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Maka, dalam rangka menyelesaikan permasalahan ini, penulis mencoba
membangun sebuah solusi dengan membagi sistem pendidikan atas dua hal, yakni
pendidikan terhadap nilai nilai pokok kehidupan, yaitu perbedaan antara nilai
kebenaran dan kejahatan, antara kebaikan dan keburukan. Pembenaman nilai
kebenaran sejati dalam jati diri seorang manusia, sehingga akan membangun pola
pikir dan kepribadian manusia menuju pelaksanaan terhadap kebaikan.
Ilmu yang pertama dikenal sebagai Ilmu Minhaajul hayat (Ilmu pedoman kehidupan). Ilmu pendoman hidup
inilah yang menjadi dasar, landasan, platform seorang manusia dalam mengemban
jenis pendidikan yang kedua, yakni pendidikan cabang ilmu pengetahuan secara
spesifik sesuai dengan minat dan bakatnya, yaitu Ilmu Wasaailul hayat (Ilmu sarana kehidupan).
Sebelum membangun sebuah tataran sistem kehidupan, maka yang pertama
dan yang paling utama ialah membangun manusianya terlebih dahulu agar manusia
tersebut siap dalam menjalani proses kehidupan. Manusia harus dikenalkan dengan
arti dan tujuan hidup manusia. Manusia harus mengenal dirinya dan posisinya
sebagai makhluk yang hidup di muka bumi. Manusia harus disadarkan akan tanggung
jawabnya sebagai hamba yang harus senantiasa beribadah dan menjadi khalifah dan
memakmurkan bumi, sebuah proyek besar dalam menyelamatkan semesta raya.
Maka, manusia harus mengenal siapa penciptanya. Dengan segala rahmat
dan rahimnya, Sang Pencipta memperkenalkan dirinya dalam Qur’an Surat
Al-Fatihah (1) : 2 dijelaskan bahwa, “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta
alam”. Ayat ini merupakan informasi bagi manusia atas kepenciptaan dan
kepengaturan Allah dimuka bumi. Bahwa Allah lah yang telah menciptakan manusia,
dan menciptakan jagat raya ini sebagai fasilitas kehidupan manusia. Allah lah
yang telah mensupply segala kebutuhan manusia, Allah juga sebagai pencipta
pastinya mengetahui dengan pasti karakter dan sifat manusia, maka sudah pasti,
hanya Allah lah yang berhak memberikan aturan dan pedoman hidup bagi manusia,
dan dengan aturan dan pedoman hidup inilah, jalan satu satunya bagi manusia
agar selamat dalam berkehidupan baik di dunia maupun di akhirat, karena dalam
Qur’an Surat Yunus (10) : 32 dijelaskan bahwa, tidak ada setelah/selain
kebenaran itu melainkan kesesatan, dan dalam Qur’an Surat Yunus (10) : 36 juga
dinyatakan bahwa manusia hanyalah mengikuti dugaan, prasangka, dan persepsi
manusia yang tentunya sangat subjektif bergantung pada pengalaman dan
kepentingan manusia tersebut di dalamnya, padahal persangkaan/dugaan manusia
itu tak berguna sedikitpun untuk melawan kebenaran. Dari kedua ayat ini kita
memahami bahwa Allah merupakan sumber dari segala kebenaran, dari Allah lah
nilai kebenaran sejati mampu kita dapatkan, dan segala teori yang keluar tidak
berdasarkan sumber nilai ini, maka dapat dipastikan merupakan kesesatan.
Kemudian kita juga memahami bahwa segala teori yang diciptakan manusia hanya
didasarkan pada dugaan dan persangkaan belaka, dan persangkaan ini sangat
dipengaruhi oleh subjektivitas dan kepentingan manusia di dalamnya, maka segala
teori ciptaan manusia tanpa didasarkan pada keyakinan Allah sebagai sumber
nilai kebenaran, dapat dipastikan merupakan kesesatan. Inilah yang terjadi
dalam perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, tidak berujung pada
kesejahteraan, namun pada kerusakan.
Kemudian manusia juga harus mengenal jati dirinya sebagai makhluk
ciptaan Allah. Dalam Qur’an surat Az-Zariyat (51) : 56 dijelaskan bahwa Allah
tidak menciptakan jin dan manusia agar mereka beribadah kepada Allah dan
memosisikan dirinya sebagai hamba di hadapan Allah SWT. Artinya, manusia harus
mampu meleburkan segala macam kehendak dan kepentinganya, di bawah kehendak dan
kepentingan Allah saja. Kesadaran kehambaan ini akan menghindarkan manusia dari
segala macam ambisi, sifat tamak, rakus, khianat, dan potensi kejahatan lainya,
sehingga manusia akan merasakan kedamaian dalam hatinya ketika telah meleburkan
segala kehendak dan kepentinganya dibawa kehendak dan kepentingan Allah. Dalam
Qur’an Surat Al Baqarah (2) : 30 juga dijelaskan, setelah manusia siap menjadi
seorang hamba yang seutuhnya, tidak boleh lalai akan tugas karena asik masuknya
bercengkrama dan berkhalwat dengan Allah, namun manusia harus sadar akan
tugasnya yang kedua yaitu menjadi khalifah Allah dimuka bumi, menjadi pemimpin
dan pemakmur bumi. Kedua misi manusia ini terangkum dalam peristiwa isra’
mi’raj. Dalam Qur’an Surat Al-Isra’ (17) : 1, dijelaskan bahwa seorang hamba
ialah manusia yang mau dan siap untuk diperjalankan oleh Allah dalam setiap aktivitas
kehidupanya. Tak ada lagi kehendak dan kepentinganya di dunia, melainkan telah
melebur dan sebangun dengan kepentingan dan kehendak Allah. Kemudian keyakinan
ini pun akan diuji dalam perjalananya mengarungi kehidupan, sehingga Allah
meninggikan posisinya dan mengangkatnya menuju sidratul muntaha.
Namun, sebagaimana yang telah Rasulullah Muhammad SAW contohkan, seorang
hamba tidak akan diam dan menikmati asik masuknya berkhalwat dan bercengkrama
dengan Allah, namun seorang hamba harus sadar akan misi keduanya, yaitu turun
kebumi sebagai khalifah Allah dimuka bumi, dengan misi penyelamatan jagad raya.
Maka seorang hamba dan khalifah Allah lah satu satunya yang berhak mengatur dan
memimpin bumi, sehingga terciptalah rahmatan lil ‘Alamin di jagat raya. Dan
pemahaman ini telah dicontohkan dalam peradaban madinah al munawwarah yang dibangun oleh Rasulullah Muhammad saw,
khalifah Abu Bakar, khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Utsman bin Affan,
Khalifah Ali bin Abi Thalib, dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Kesadaran akan ketuhanan dan kepenciptaan ini menjadi pondasi kokoh sebagai
pijakan dan landasan manusia dalam bersikap dan berperilaku, sehingga manusia
siap menjadi pribadi yang unggul yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan dan
konsisten dalam pelaksanaannya. Tak akan ada lagi tindak kejahatan dalam
praktik proses kehidupan manusia. Pembangunan manusia ini akan menciptakan peradaban
ruhani, di mana umat manusia bersikap dewasa, tidak egois dan mementingkan diri
sendiri, hidup teratur, harmonis, dan senantiasa melaksanakan nilai-nilai
kebaikan dalam tiap detik aktifitas kehidupanya.
Setelah manusianya terbangun, maka hendaknya manusia juga dididik untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan keduniaan. Dalam Qur’an surat Al-Imran (3) :
190, Allah memerintahkan manusia untuk berpikir kritis dan memikirkan bagaimana
Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam Qur’an Surat Al Baqarah (2) : 164
Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk memikirkan bagaimana penciptaan
langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan
membawa muatan yang bermanfaat bagi manusia, kemudian proses kehidupan, dan
berbagai macam fenomena alam. Dalam Qur’an Surat Yasin (36) : 37-40, Allah
memerintahkan manusia agar memikirkan bagaimana pergantian malam dan siang,
peredaran bintang dan planet, dan keteraturan serta ketaatan semua makhluk
ciptaan Allah terhadap kehendak Allah kepada mereka (sunnatullah). Dalam Qur’an
Surat Yunus (10) : 5-6 Allah memerintahkan manusia untuk berpikir, berilmu dan
mengambil hikmah dari segala kejadian alam, agar dapat menjadi bidang ilmu yang
bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dalam Qur’an Surat Ar-Rahman (55) : 33, Allah
memerintahkan untuk menggunakan kekuatan Allah berupa ilmu pengetahuan untuk
melakukan hal-hal luar biasa yang dalam ayat ini disimbolkan dengan menembus
penjuru langit dan bumi. Maka sudah jelas, manusia harus menggali segala macam
fenomena alam sehingga mampu berkontribusi dalam meningkatkan kualitas
kehidupan manusia.
Di setiap ayat yang telah disampaikan diatas, selalu ada pesan berantai
untuk mengaitkan segala perkembangan Ilmu pengetahuan dengan bagaimana manusia
dapat mengambil hikmah, mengenal dan memahami tanda tanda kebesaran Allah. Dalam
Qur’an Surat Al-Imran (3) : 190 dinyatakan bahwa hal ini tak akan mampu
dilakukan kecuali oleh ulul albaab, dalam
Qur’an Surat Al-Imran (3) : 190 Allah menjelaskan bawa ulul albaab ialah orang yang senantiasa dalam kehidupanya mengingat
Allah, baik dalam beramal maupun dalam istirahatnya, seraya senantiasa
memikirkan penciptaan langit dan bumi dan bersyukur atas segala nikmat rahmat
dan rahim yang Allah berikan. Maka, kata-kata “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia sia, Maha
suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka”-lah yang mantas terucap
dengan keyakinan dan pemahaman tersebut.
Dalam Qur’an Surat Al A’raf (7) : 96 dijelaskan bahwa, ketika umat
manusia telah beriman dan bertakwa, maka Allah akan melimpahkan berkah dari
langit dan bumi kepada manusia. Hal ini tergambar dari bagaimana di zaman
khalifah Umar bin Abdul Aziz, tidak ada lagi orang yang mau menerima zakat,
karena setiap individu telah terbebas dari jeratan kemiskinan, kemakmuran dan
kesejahteraan menyeluruh telah terjamin, bahkan begitu melimpah ruah hingga
gudang gudang perbekalan pun tak lagi sanggup menampungnya, hingga gandum dan
berbagai macam hasil bumi pun diletakan di gunung gunung dan hutan hutan agar
dapat dinikmati oleh hewan hewan di dalamnya. Bahkan, bukan hanya manusia yang
sejahtera, namun hewan dan tumbuhan pun turut menikmati kemakmuranya. Keadilan
pun begitu kokoh ditegakan, seorang Ali bin Abi Thalib dikalahkan tuntutannya
oleh pengadilan Islam atas tuduhan pencurian baju perang oleh seorang Yahudi,
karena tidak mampu menghadirkan saksi sesuai dengan syari’at Islam. Pemimpin
pun begitu bertanggung jawab dan sensitif terhadap dosa, kita lihat kisah
khalifah Umar yang setiap malam selalu mengelilingi pemukiman warga untuk
memastikan kesejahteraan warganya, ketika masih ada keluarga yang kelaparan,
khalifah Umar sendiri yang mengambil perbekalan dan mengantarkanya ke keluarga
tersebut, ketika sang pengawal hendak membantu, Khalifah Umar menyanggah seraya
berkata, “Apakah engkau juga mau
menanggung beban dosa atas tanggung jawab yang aku miliki?” Kita juga
mengetahui bagaimana khalifah Umar menangis ketika melihat bangkai kambing
hanyut di sungai Tigris, beliau berpikir bahwa matinya kambing ini disebabkan
kelalaianya sebagai khalifah yang tidak mengontrol para peternak dalam
mensejahterakan ternaknya.
Maka dalam Qur’an Surat Al Baqarah (2) : 30, ketika
malaikat bertanya, “Apakah Engkau
bermaksud menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana,
sedangkan kami bertasih memuji-Mu?” Allah menjawabnya, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Allah dengan
segala kebesaranya mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat, yaitu
disamping adanya potensi ingkar dalam diri manusia, namun manusia juga memiliki
potensi untuk menghamba dan mensucikan Allah lebih dari para malaikat. Hanya
dengan pendidikan yang mengikatkan hubungan manusia sebagai makhluk dengan
Allah sebagai khaliq-lah, nilai
kebenaran akan berdiri tegak dan kokoh di muka bumi, sehingga Allah menurunkan
berkah dari langit dan buminya.
Wallaahu’alam
bishshawab...
oleh A. Al-Hijr

Tidak ada komentar:
Posting Komentar