30 Juli 2013

tiga pilar pendidikan manusia



Kita semua sepakat bahwa sistem pendidikan merupakan media pembelajaran awal yang ditujukan untuk membangun karakter, mentalitas dan pola pikir untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia serta mempersiapkan manusia sejak kecil agar mampu memahami kehidupan dan menempatkan pijakanya di kehidupan dewasa kelak. Artinya, sistem pendidikan bertanggung jawab atas karakter dan moral perilaku manusia. Namun, mengapa modern ini manusia begitu jauh dari kepribadian yang baik dan mulia?

Begitu banyak manusia yang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada kepentingan orang banyak. Masih banyak manusia yang egois, sehingga bermusuhan antara satu dan lainya, baik di dunia kerja, dunia akademik, dunia perpolitikan, dan lain-lain. Dunia begitu miskin akan contoh pemimpin ataupun kepribadian yang bermoral dan berkarakter. Mari kita evaluasi bagaimana pendidikan manusia terbangun dari kecil hingga dewasa.

Di SD, kita belajar berbagai macam ilmu pengetahuan yang disodorkan kepada kita: matematika, IPA, IPS, sejarah, dll. yang sebenarnya ketika itu kita sendiri tidak mengerti apa tujuan mempelajari hal tersebut. Di SMP dan SMA juga demikian. Kita semua dibebankan untuk mempelajari banyak cabang ilmu pengetahuan, yang kemudian kita tidak tahu apakah ilmu ini akan bermanfaat secara keseluruhan di kehidupan dewasa kelak. Belum lagi keberhasilan kita hanya dilihat dari nilai yang diberikan. Kita yang pandai dalam bidang musik dipaksa untuk pintar dalam matematika yang itu sama sekali bukan bidang kita. Penilaian pintar atau bodoh seorang siswa hanya berdasarkan nilai tersebut. Bagaimana mungkin manusia bisa di-judge keilmuanya hanya sepihak seperti itu? Padahal, itu belum tentu menjamin kesuksesan masa depan kita.

Jika kita menilai kesuksesan pada kemapanan hidup, bisa jadi justru seorang pemusik mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar dari pada seorang pekerja yang memiliki nilai matematika tinggi. Betapa pendidikan kita semasa kecil ini tidak terintegrasi dengan kehidupan nyata. Ini hal pertama yang perlu dievaluasi, yaitu dari segi kurikulum pendidikan, dimana kurikulum pendidikan dari kecil tidak terintegrasi dan tidak terbukti secara konkrit membangun kesiapan manusia agar memiliki pijakan yang kokoh dalam berkehidupan di dewasa kelak.

Hal kedua yang menjadi bahan evaluasi ialah dari aspek psikologi pribadi manusianya. Di setiap lembaga pendidikan, baik SD, SMP, hingga di bangku perkuliahan, prestasi seorang siswa seringkali hanya dilihat dari ranking kognitif. Baik nilai pelajaran sekolah, berbagai macam lomba maupun kejuaraan, dan banyak hal lainya. Hal ini menjadi dasar adanya kesenjangan dan perbedaan sikap terhadap pihak yang menang dan pihak yang kalah. Antara siswa yang berprestasi dengan siswa yang belum menemukan bidang prestasinya. Sang juara selalu mendapat tepuk tangan meriah, sanjungan dan pujian, menjadi kebanggaan dan dianakemaskan. Sedangkan siswa lainya seperti mendapatkan diskriminasi sosial, tidak begitu diindahkan. Belum lagi perlakuan dari sang pemenang terhadap siswa lainya yang sering menganggap lemah dan meremehkan. Kembali terjadi diskriminasi antara pihak yang menang terhadap pihak yang kalah. Akhirnya, semua orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Fokus pada tujuanya, yaitu menjadi pemenang. Bahkan, tidak jarang menggunakan cara yang tidak dewasa dalam proses perjalananya. Tidak hanya membangun keterampilan dan keahlian sendiri, tapi juga egois dalam ilmu, bahkan cenderung menghancurkan lawannya.

Hal inilah yang membangun karakter dan pribadi manusia dewasa ini. Antara pribadi yang satu dengan yang lainya bagaikan lawan, bersaing untuk memperebutkan apa yang mereka inginkan. Bersaing untuk mendapatkan pekerjaan, bersaing untuk mendapatkan keuntungan, bersaing untuk mendapatkan kejayaan, di mana dalam persaingan tersebut akan ada sebagian kecil orang yang menang dan tersenyum lebar, serta sebagian besar orang justru harus menerima pahitnya kekalahan dan kekecewaan. Maka dunia begitu tidak adil ketika hanya sebagian kecil manusia yang mampu menikmati kehidupan, dan sebagian besar lainya harus terus bersusah payah mempertahankan eksistensinya di dunia ini.

Padahal, cita-cita yang selalu diucapkan oleh tokoh tokoh dan pembesar dunia ialah kesejahteraan bagi “seluruh” umat manusia tanpa terkecuali. Tapi, cita-cita ini bak mimpi kosong yang tak kan pernah tercapai. Kita lihat ketika seorang pebisnis muda memulai usahanya dari nol hingga kemudian beranjak tumbuh dan berkembang, namun di tingkat kompetisi yang lebih tinggi, pebisnis muda ini kalah bersaing dan mengalami kebangkrutan. Contoh lain dapat kita liat dalam dunia kerja, sering kali seorang pelamar yang memiliki kapabilitas sangat baik dikalahkan oleh pelamar dengan kemampuan menengah ataupun buruk hanya karena memiliki akses kerabat atau kenalan di perusahaan tersebut. Betapa tidak adilnya dunia, karena pilih kasihnya dalam memberikan kebahagiaan hidup bagi manusia. Inilah persoalan ketiga, dimana proses pendidikan mempengaruhi psikologi manusia, sehingga membangun karakter persaingan, dan moral yang saling menjatuhkan.

Kemudian yang terakhir ialah aspek keilmuannya. Ilmu pengetahuan tidak lagi ditujukan untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran manusia secara keseluruhan, namun cenderung menjadi alat bagi manusia untuk memuaskan keinginanya dalam mengeksploitasi kekayaan dunia, bahkan mengeksploitasi orang lain. Dari ilmu ekonomi misalkan, terdapat teori yang sangat populer yaitu “menggunakan modal sekecil-kecilnya, untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya”. Ketika kita mampu membuka akal kritis kita, sesungguhnya kita akan menyadari bahwa teori ini menjadi pembenaran atas tiap ketamakan, pembenaran atas tiap kerakusan, sehingga terciptalah peradaban seperti saat ini, dimana manusia yang kuat selalu mengeksploitasi manusia yang lemah. Manusia yang memiliki modal terbatas, selalu dikalahkan oleh manusia yang memiliki modal besar. Dalam kasus lain, dikarenakan semakin canggihnya ilmu teknologi, ditambah ambisinya dalam memaksimalkan profit, perusahaan sering membandingkan biaya dan output yang dihasilkan antara tenaga kerja manusia dengan tenaga kerja mesin. Hal inilah yang sering kali menjadi penyebab terjadinya PHK massal.

Teori ekonomi ini seringkali menjadi dasar dan orientasi kejayaan manusia, sehingga kejahatan ini merambah ke teori lainya. Di dalam aspek kesehatan, ilmu kedokteran dan kesehatan kian berkembang begitu pesat. Namun ketika ditujukan pada orientasi persaingan dan kesenangan dunia, ilmu ini pun tak lagi mampu mempertahankan keorisinilan nilai nilai kebaikanya, namun sekali lagi menjadi alat untuk mengeksploitasi manusia. Seringkali tiap kepala pasien dihitung dengan rupiah. Akhirnya ketika memilih untuk menjadi dokter, niatanya tidak lagi murni untuk menolong manusia yang kesulitan atau yang berpenyakit, namun untuk mendapatkan uang. Maka tidak jarang kita melihat banyak rumah sakit yang menolak menerima pasien, dengan berdalih sudah penuh padahal karena melihat ketidakmampuan pasien dalam membayar biaya rumah sakit.

Di dalam teori politik, kinerja partai sudah tak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Setiap tokoh politik maupun wakil rakyat sama-sama fanatik terhadap partainya, sehingga kepentingan partai menjadi prioritas utama. Tiap partai pun saling bersaing untuk mempertahankan posisinya, ataupun merebut posisi teratas - hingga hasilnya kinerja partai pun tak lagi maksimal tertujukan untuk menyejahterakan masyarakat secara keseluruhan, namun disibukkan untuk menyejahterakan partainya masing masing.

Begitu rapuhnya pelaksanaan ilmu pengetahuan modern ini sehingga cenderung menjadi alat untuk mengeksploitasi manusia. Seorang akuntan menggunakan kecerdasanya untuk menggelapkan dana masyarakat. Seorang hakim menggunakan wewenang dan kekuasaanya untuk menerima suap. Negara adidaya menggunakan kekuatan dan kekuasaanya untuk menjajah negara yang lemah, dan masih banyak contoh penyelewengan dan penyalahgunaan ilmu pengetahuan lainya yang akhirnya jauh dari kebermanfaatan. Hal ini menunjukan bahwa manusia belum siap untuk menerima perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat. Layaknya anak kecil yang diberikan senapan, maka ketika emosinya tersulut, begitu mudahnya ia menggunakan senapan tersebut untuk menindas lawanya, bahkan membunuh lawanya.

Dengan pemahaman ini, maka benarlah apa yang telah diperkirakan malaikat terhadap manusia di dalam Qur’an Surat Al-Baqarah (2) : 30, ketika Allah SWT. berfirman kepada makhluk ciptaan-Nya atas kehendak-Nya menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi, maka malaikat pun berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana?”

Malaikat sebagai makhluk yang diberikan kecerdasan oleh Allah SWT. mampu memperkirakan bagaimana nantinya jika manusia diturunkan di muka bumi. Manusia dengan segala potensinya untuk mengingkari amanah akan membuat berbagai macam kerusakan di bumi, saling menumpahkan darah, saling berkompetisi satu sama lain, menjatuhkan lawanya demi pemuasan kepentingan, dan tindak kerusakan lainya.

Dari sifat manusia yang memiliki potensi untuk membuat kerusakan dan saling menumpahkan darah inilah seorang filsuf Inggris bernama Thomas Hobbes mendefinisikan manusia dalam teorinya homo homini lupus, yang artinya “manusia merupakan serigala bagi manusia lainya”. Hingga akhirnya apa yang tercantum dalam Qur’an Surat Ar-ruum (30) : 41 bahwa telah tampak segala kerusakan di darat maupun di lautan akibat ketamakan dan kerakusan manusia.

Mari kita kaji apa sebenarnya hakikat dikembangkanya ilmu pengetahuan. Pada dasarnya ilmu pengetahuan ditumbuhkembangkan untuk meningkatkan taraf dan kualitas kehidupan manusia secara keseluruhan agar tercipta kehidupan yang makmur, sejahtera, aman, nyaman, harmonis dan teratur. Namun nyatanya, pengembangan ilmu pengetahuan bertentangan dengan hakikat ilmu pengetahuan sebagaimana yang telah dipaparkan diatas. Sistem ilmu pengetahuan ini sudah begitu jauh dari kemurnian nilai-nilai kebaikan dan pencapaian menuju peradaban madani yang dicita-citakan. Sistem pendidikanlah yang paling bertanggung jawab akan hal ini. 

Pertanyaannya ialah, dari mana sistem pendidikan ini harus dibenahi?

Ada tiga hal yang menurut penulis merupakan pilar pendidikan yang menjadi bahan evaluasi: kurikulum ilmu pendidikan yang tak lagi terintegrasi, psikologi manusia yang tidak terorientasi sebagaimana mestinya, juga perkembangan ilmu pengetahuan yang sudah bertentangan jauh dari hakikat ilmu pengetahuan sehingga gagap dalam merealisasikan dan melaksanakan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Maka, dalam rangka menyelesaikan permasalahan ini, penulis mencoba membangun sebuah solusi dengan membagi sistem pendidikan atas dua hal, yakni pendidikan terhadap nilai nilai pokok kehidupan, yaitu perbedaan antara nilai kebenaran dan kejahatan, antara kebaikan dan keburukan. Pembenaman nilai kebenaran sejati dalam jati diri seorang manusia, sehingga akan membangun pola pikir dan kepribadian manusia menuju pelaksanaan terhadap kebaikan.

Ilmu yang pertama dikenal sebagai Ilmu Minhaajul hayat (Ilmu pedoman kehidupan). Ilmu pendoman hidup inilah yang menjadi dasar, landasan, platform seorang manusia dalam mengemban jenis pendidikan yang kedua, yakni pendidikan cabang ilmu pengetahuan secara spesifik sesuai dengan minat dan bakatnya, yaitu Ilmu Wasaailul hayat (Ilmu sarana kehidupan).

Sebelum membangun sebuah tataran sistem kehidupan, maka yang pertama dan yang paling utama ialah membangun manusianya terlebih dahulu agar manusia tersebut siap dalam menjalani proses kehidupan. Manusia harus dikenalkan dengan arti dan tujuan hidup manusia. Manusia harus mengenal dirinya dan posisinya sebagai makhluk yang hidup di muka bumi. Manusia harus disadarkan akan tanggung jawabnya sebagai hamba yang harus senantiasa beribadah dan menjadi khalifah dan memakmurkan bumi, sebuah proyek besar dalam menyelamatkan semesta raya.

Maka, manusia harus mengenal siapa penciptanya. Dengan segala rahmat dan rahimnya, Sang Pencipta memperkenalkan dirinya dalam Qur’an Surat Al-Fatihah (1) : 2 dijelaskan bahwa, “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. Ayat ini merupakan informasi bagi manusia atas kepenciptaan dan kepengaturan Allah dimuka bumi. Bahwa Allah lah yang telah menciptakan manusia, dan menciptakan jagat raya ini sebagai fasilitas kehidupan manusia. Allah lah yang telah mensupply segala kebutuhan manusia, Allah juga sebagai pencipta pastinya mengetahui dengan pasti karakter dan sifat manusia, maka sudah pasti, hanya Allah lah yang berhak memberikan aturan dan pedoman hidup bagi manusia, dan dengan aturan dan pedoman hidup inilah, jalan satu satunya bagi manusia agar selamat dalam berkehidupan baik di dunia maupun di akhirat, karena dalam Qur’an Surat Yunus (10) : 32 dijelaskan bahwa, tidak ada setelah/selain kebenaran itu melainkan kesesatan, dan dalam Qur’an Surat Yunus (10) : 36 juga dinyatakan bahwa manusia hanyalah mengikuti dugaan, prasangka, dan persepsi manusia yang tentunya sangat subjektif bergantung pada pengalaman dan kepentingan manusia tersebut di dalamnya, padahal persangkaan/dugaan manusia itu tak berguna sedikitpun untuk melawan kebenaran. Dari kedua ayat ini kita memahami bahwa Allah merupakan sumber dari segala kebenaran, dari Allah lah nilai kebenaran sejati mampu kita dapatkan, dan segala teori yang keluar tidak berdasarkan sumber nilai ini, maka dapat dipastikan merupakan kesesatan. Kemudian kita juga memahami bahwa segala teori yang diciptakan manusia hanya didasarkan pada dugaan dan persangkaan belaka, dan persangkaan ini sangat dipengaruhi oleh subjektivitas dan kepentingan manusia di dalamnya, maka segala teori ciptaan manusia tanpa didasarkan pada keyakinan Allah sebagai sumber nilai kebenaran, dapat dipastikan merupakan kesesatan. Inilah yang terjadi dalam perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, tidak berujung pada kesejahteraan, namun pada kerusakan.

Kemudian manusia juga harus mengenal jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah. Dalam Qur’an surat Az-Zariyat (51) : 56 dijelaskan bahwa Allah tidak menciptakan jin dan manusia agar mereka beribadah kepada Allah dan memosisikan dirinya sebagai hamba di hadapan Allah SWT. Artinya, manusia harus mampu meleburkan segala macam kehendak dan kepentinganya, di bawah kehendak dan kepentingan Allah saja. Kesadaran kehambaan ini akan menghindarkan manusia dari segala macam ambisi, sifat tamak, rakus, khianat, dan potensi kejahatan lainya, sehingga manusia akan merasakan kedamaian dalam hatinya ketika telah meleburkan segala kehendak dan kepentinganya dibawa kehendak dan kepentingan Allah. Dalam Qur’an Surat Al Baqarah (2) : 30 juga dijelaskan, setelah manusia siap menjadi seorang hamba yang seutuhnya, tidak boleh lalai akan tugas karena asik masuknya bercengkrama dan berkhalwat dengan Allah, namun manusia harus sadar akan tugasnya yang kedua yaitu menjadi khalifah Allah dimuka bumi, menjadi pemimpin dan pemakmur bumi. Kedua misi manusia ini terangkum dalam peristiwa isra’ mi’raj. Dalam Qur’an Surat Al-Isra’ (17) : 1, dijelaskan bahwa seorang hamba ialah manusia yang mau dan siap untuk diperjalankan oleh Allah dalam setiap aktivitas kehidupanya. Tak ada lagi kehendak dan kepentinganya di dunia, melainkan telah melebur dan sebangun dengan kepentingan dan kehendak Allah. Kemudian keyakinan ini pun akan diuji dalam perjalananya mengarungi kehidupan, sehingga Allah meninggikan posisinya dan mengangkatnya menuju sidratul muntaha.

Namun, sebagaimana yang telah Rasulullah Muhammad SAW contohkan, seorang hamba tidak akan diam dan menikmati asik masuknya berkhalwat dan bercengkrama dengan Allah, namun seorang hamba harus sadar akan misi keduanya, yaitu turun kebumi sebagai khalifah Allah dimuka bumi, dengan misi penyelamatan jagad raya. Maka seorang hamba dan khalifah Allah lah satu satunya yang berhak mengatur dan memimpin bumi, sehingga terciptalah rahmatan lil ‘Alamin di jagat raya. Dan pemahaman ini telah dicontohkan dalam peradaban madinah al munawwarah yang dibangun oleh Rasulullah Muhammad saw, khalifah Abu Bakar, khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Utsman bin Affan, Khalifah Ali bin Abi Thalib, dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kesadaran akan ketuhanan dan kepenciptaan ini menjadi pondasi kokoh sebagai pijakan dan landasan manusia dalam bersikap dan berperilaku, sehingga manusia siap menjadi pribadi yang unggul yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan dan konsisten dalam pelaksanaannya. Tak akan ada lagi tindak kejahatan dalam praktik proses kehidupan manusia. Pembangunan manusia ini akan menciptakan peradaban ruhani, di mana umat manusia bersikap dewasa, tidak egois dan mementingkan diri sendiri, hidup teratur, harmonis, dan senantiasa melaksanakan nilai-nilai kebaikan dalam tiap detik aktifitas kehidupanya.

Setelah manusianya terbangun, maka hendaknya manusia juga dididik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan keduniaan. Dalam Qur’an surat Al-Imran (3) : 190, Allah memerintahkan manusia untuk berpikir kritis dan memikirkan bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam Qur’an Surat Al Baqarah (2) : 164 Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk memikirkan bagaimana penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan membawa muatan yang bermanfaat bagi manusia, kemudian proses kehidupan, dan berbagai macam fenomena alam. Dalam Qur’an Surat Yasin (36) : 37-40, Allah memerintahkan manusia agar memikirkan bagaimana pergantian malam dan siang, peredaran bintang dan planet, dan keteraturan serta ketaatan semua makhluk ciptaan Allah terhadap kehendak Allah kepada mereka (sunnatullah). Dalam Qur’an Surat Yunus (10) : 5-6 Allah memerintahkan manusia untuk berpikir, berilmu dan mengambil hikmah dari segala kejadian alam, agar dapat menjadi bidang ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dalam Qur’an Surat Ar-Rahman (55) : 33, Allah memerintahkan untuk menggunakan kekuatan Allah berupa ilmu pengetahuan untuk melakukan hal-hal luar biasa yang dalam ayat ini disimbolkan dengan menembus penjuru langit dan bumi. Maka sudah jelas, manusia harus menggali segala macam fenomena alam sehingga mampu berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Di setiap ayat yang telah disampaikan diatas, selalu ada pesan berantai untuk mengaitkan segala perkembangan Ilmu pengetahuan dengan bagaimana manusia dapat mengambil hikmah, mengenal dan memahami tanda tanda kebesaran Allah. Dalam Qur’an Surat Al-Imran (3) : 190 dinyatakan bahwa hal ini tak akan mampu dilakukan kecuali oleh ulul albaab, dalam Qur’an Surat Al-Imran (3) : 190 Allah menjelaskan bawa ulul albaab ialah orang yang senantiasa dalam kehidupanya mengingat Allah, baik dalam beramal maupun dalam istirahatnya, seraya senantiasa memikirkan penciptaan langit dan bumi dan bersyukur atas segala nikmat rahmat dan rahim yang Allah berikan. Maka, kata-kata “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia sia, Maha suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka”-lah yang mantas terucap dengan keyakinan dan pemahaman tersebut.

Dalam Qur’an Surat Al A’raf (7) : 96 dijelaskan bahwa, ketika umat manusia telah beriman dan bertakwa, maka Allah akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi kepada manusia. Hal ini tergambar dari bagaimana di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz, tidak ada lagi orang yang mau menerima zakat, karena setiap individu telah terbebas dari jeratan kemiskinan, kemakmuran dan kesejahteraan menyeluruh telah terjamin, bahkan begitu melimpah ruah hingga gudang gudang perbekalan pun tak lagi sanggup menampungnya, hingga gandum dan berbagai macam hasil bumi pun diletakan di gunung gunung dan hutan hutan agar dapat dinikmati oleh hewan hewan di dalamnya. Bahkan, bukan hanya manusia yang sejahtera, namun hewan dan tumbuhan pun turut menikmati kemakmuranya. Keadilan pun begitu kokoh ditegakan, seorang Ali bin Abi Thalib dikalahkan tuntutannya oleh pengadilan Islam atas tuduhan pencurian baju perang oleh seorang Yahudi, karena tidak mampu menghadirkan saksi sesuai dengan syari’at Islam. Pemimpin pun begitu bertanggung jawab dan sensitif terhadap dosa, kita lihat kisah khalifah Umar yang setiap malam selalu mengelilingi pemukiman warga untuk memastikan kesejahteraan warganya, ketika masih ada keluarga yang kelaparan, khalifah Umar sendiri yang mengambil perbekalan dan mengantarkanya ke keluarga tersebut, ketika sang pengawal hendak membantu, Khalifah Umar menyanggah seraya berkata, “Apakah engkau juga mau menanggung beban dosa atas tanggung jawab yang aku miliki?” Kita juga mengetahui bagaimana khalifah Umar menangis ketika melihat bangkai kambing hanyut di sungai Tigris, beliau berpikir bahwa matinya kambing ini disebabkan kelalaianya sebagai khalifah yang tidak mengontrol para peternak dalam mensejahterakan ternaknya. 

Maka dalam Qur’an Surat Al Baqarah (2) : 30, ketika malaikat bertanya, “Apakah Engkau bermaksud menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasih memuji-Mu?” Allah menjawabnya, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Allah dengan segala kebesaranya mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat, yaitu disamping adanya potensi ingkar dalam diri manusia, namun manusia juga memiliki potensi untuk menghamba dan mensucikan Allah lebih dari para malaikat. Hanya dengan pendidikan yang mengikatkan hubungan manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai khaliq-lah, nilai kebenaran akan berdiri tegak dan kokoh di muka bumi, sehingga Allah menurunkan berkah dari langit dan buminya.
Wallaahu’alam bishshawab...

oleh A. Al-Hijr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar