Tarhib Ramadhan Ust. Salim A. Fillah, 28 Sya'ban 1434 H, Masjid Darussalam GTA
Bekal utama dalam mentarhib (menyambut) Ramadhan adalah Iman. Setiap iman akan senantiasa diuji oleh Allah. Sebagai contoh, Maryam yang diuji dengan kesuciannya dan Ibrahim yang diuji dengan cintanya. Tugas kita hanyalah beramal, berikhtiar, kemudian bertawakkal kepada Allah.
Saat Siti Hajar ditinggal oleh Ibrahim di padang pasir nan gersang, ia mengimani bahwa itu adalah perintah Allah. Maka Siti Hajar pun berikhtiar dengan berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwah dan berbalik lagi sebanyak tujuh kali hingga air zamzam memancar di kaki mungil Ismail. Iman seperti inilah yang kita butuhkan untuk mentarhib Ramadhan. Iman yang menyatakan: "Jika ini perintah Allah, maka sekali-kali Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kami."
Air zamzam memancar dari bawah kaki Ismail, bukan di lintasan Shafa dan Marwah. Namun, Siti Hajar tidak merasa kecewa karena ketawakkalannya mengiringi imannya atas perintah Allah. Orang yang bertaqwa pasti yakin rezekinya sudah dijamin oleh Allah. Ia pasti percaya rezeki tersebut akan datang dari arah yang tak disangka-sangka.
Rezeki itu ada yang kita minta dan ada yg tidak kita minta. "Mungkin kamu tidak tahu dimana rezekimu, tapi rezekimu tahu dimana engkau. Allah memerintahkannya untuk mendatangimu."
Yang penting bukan banyak, tetapi cukup.
Furqon
Seorang mukmin diberikan furqon oleh Allah. Furqon sendiri adalah kepekaan untuk membedakan antara yang haqq dan yang bathil, kepekaan untuk bersabar/bersyukur, serta untuk ridha/ikhlash. Karunia kepekaan itu diberikan kepada orang-orang yang bertaqwa. Untuk bertaqwa, maka kita berpuasa. Untuk bisa memaknai puasa, maka kita harus beriman.
Semoga Ramadhan kali ini dapat menjadi sarana bagi kita untuk membersihkan dan menguatkan jasad, jiwa, dan hati kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar