29 Juli 2013

ramadhan: bulan untuk meminimalisasi hawa nafsu




Tarhib Ramadhan Ust. Salim A. Fillah, 28 Sya'ban 1434 H, Masjid Darussalam GTA

Bekal utama dalam mentarhib (menyambut) Ramadhan adalah Iman. Setiap iman akan senantiasa diuji oleh Allah. Sebagai contoh, Maryam yang diuji dengan kesuciannya dan Ibrahim yang diuji dengan cintanya. Tugas kita hanyalah beramal, berikhtiar, kemudian bertawakkal kepada Allah.

Saat Siti Hajar ditinggal oleh Ibrahim di padang pasir nan gersang, ia mengimani bahwa itu adalah perintah Allah. Maka Siti Hajar pun berikhtiar dengan berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwah dan berbalik lagi sebanyak tujuh kali hingga air zamzam memancar di kaki mungil Ismail. Iman seperti inilah yang kita butuhkan untuk mentarhib Ramadhan. Iman yang menyatakan: "Jika ini perintah Allah, maka sekali-kali Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kami."

Air zamzam memancar dari bawah kaki Ismail, bukan di lintasan Shafa dan Marwah. Namun, Siti Hajar tidak merasa kecewa karena ketawakkalannya mengiringi imannya atas perintah Allah. Orang yang bertaqwa pasti yakin rezekinya sudah dijamin oleh Allah. Ia pasti percaya rezeki tersebut akan datang dari arah yang tak disangka-sangka.

Rezeki itu ada yang kita minta dan ada yg tidak kita minta. "Mungkin kamu tidak tahu dimana rezekimu, tapi rezekimu tahu dimana engkau. Allah memerintahkannya untuk mendatangimu." 

Yang penting bukan banyak, tetapi cukup.

Furqon

Seorang mukmin diberikan furqon oleh Allah. Furqon sendiri adalah kepekaan untuk membedakan antara yang haqq dan yang bathil, kepekaan untuk bersabar/bersyukur, serta untuk ridha/ikhlash. Karunia kepekaan itu diberikan kepada orang-orang yang bertaqwa. Untuk bertaqwa, maka kita berpuasa. Untuk bisa memaknai puasa, maka kita harus beriman.


Puasa adalah ibadah untuk meminimalisasi. Meminimalisasi itu akan mendatangkan ketentraman. Dengan ketentraman akan didapatkan jiwa yg kokoh. Dengan jiwa yg kokoh akan terbangun kekuatan untuk menanggung beban-beban besar. Maka orang-orang yg berpuasa memiliki kekuatan rohani yg  kuat dan kekuatan jasad yang dahsyat.

Al Ashma'i berkata: "Kesejahteraan badan ada di dalam sedikitnya makan. Ketenteraman hati ada di dalam sedikitnya dosa dan kemaksiatan. Kedamaian jiwa ada di dalam sedikitnya obrolan dan pembicaraan." Maka meminimalisasi tiga hal inilah yang menjadi tujuan puasa kita - meminimalisasi makanan, dosa atau kemaksiatan, serta pembicaraan.

Dengan mengontrol perut, mulut, dan anggota tubuh dari perbuatan maksiat dan dosa, berpuasa akan membersihkan dan menguatkan jasad, jiwa, serta hati kita.

Semoga Ramadhan kali ini dapat menjadi sarana bagi kita untuk membersihkan dan menguatkan jasad, jiwa, dan hati kita.

oleh Rayya Aulia Izzati, 7 Juli 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar